Oleh : Sofia Ariyani, S.S
Muslimah Pegiat Literasi


Masyarakat Indonesia belakangan ini dihantui oleh beberapa kasus pencabulan dan penyimpangan seksual. Kasus yang berderet dari hari ke hari. Semakin membuat resah masyarakat. Mirisnya perilaku ini berkedok riset. Seperti yang dilakukan GB, mahasiswa di Surabaya, melancarkan aksinya dengan mengelabui mahasiswa baru atas nama riset. Menurut ahlinya, mahasiswa berinisial GB ini mengalami fetish disorder. Sebuah gangguan seksual dengan berhasrat pada suatu benda. GB sendiri mengidap fetish jarik, dimana syahwatnya muncul ketika hanya dengan melihat kain jarik.

Dilansir oleh tribunnewswiki.com, kasus dugaan pelecehan seksual berkedok riset yang dilakukan mahasiswa Universitas Airlangga, Surabaya berinisial G menuai perhatian.
G diduga mengalami kelainan seksual fetish atau perilaku seseorang yang mendapat kesenangan dari respons objek yang seringkali tak mengandung unsur seksual.

Untuk diketahui, kasus fetish kain jarik ini menjadi viral di media sosial setelah muncul cuitan dari akun Twitter @m_fikris, yang diduga korban G.

Akun tersebut menuliskan sebuah cuitan berjudul 'Predator " Fetish Kain Jarik" Berkedok Riset Akademik dari Mahasiswa PTN di SBY. (tribunnewswiki.com, 02/08/2020)

Tak lama berselang muncul kasus serupa, pencabulan atas nama riset yang dilakukan oleh oknum dosen di salah satu universitas swasta di Yogyakarta.

Dilansir oleh jektv.co.id, Video viral dari salah satu pengajar di Universitas Nahdatul Ulama (UNU) Yogyakarta, Bambang Arianto mengaku telah memperdayakan sejumlah wanita untuk memuaskan fantasi seksualnya.

Bambang mengaku kerap dihantui fantasi seksual swinger atau tukar pasangan, sehingga dia berani mengirim pesan ke beberapa wanita dengan modus melakukan riset.

Pengakuan Bambang itu dibuat setelah kedok dirinya dibongkar oleh seseorang. Dia pun mengakui bahwa riset mengenai swinger hanyalah karangannya belaka. (jektv.co.id, 03/07/2020)

Berdasarkan pengakuan pelaku, GB, ia mengalami kelainan hasrat sejak kecil. Dan BA mengakui bahwa ia kecanduan menonton konten porno Arab, yang akhirnya mendorong BA kepada pelecehan seksual terhadap sejumlah wanita. Hal ini mengukuhkan bahwa sedikit banyak lingkungan akan memengaruhi perilaku manusia baik secara fisik maupun mentalnya.

Sebuah pendapat dikemukakan oleh Susan Noelen Hoeksema dalam bukunya Abnormal Psychology.

Ia mengatakan bahwa perilaku penyimpangan seksual 90% lebih banyak diderita oleh pria.
Namun, saat para peneliti mencoba membuktikan hal tersebut dengan meneliti hormon testoteron ataupun hormon-hormon lainnya yang diduga menjadi penyebab perilaku seks menyimpang, hasilnya tidak konsisten.

Artinya, kecil kemungkinan perilaku seks menyimpang disebabkan oleh ketidaknormalan hormon seks pria atau hormon lainnya.
Penyebabnya, tampaknya lebih berkaitan dengan pelampiasan dorongan agresif atau permusuhan, yang lebih mungkin terjadi pada pria daripada pada wanita.

Penyebab lainnya yang diduga dapat menyebabkan perilaku seks menyimpang ialah penyalahgunaan obat dan alkohol.
Obat-obatan tertentu memungkinkan seseorang yang memiliki potensi perilaku seks menyimpang melepaskan fantasi tanpa hambatan kesadaran.
Faktor lingkungan, keluarga, dan budaya di mana seorang anak dibesarkan ikut memengaruhi perilaku seksnya.

Tidaklah heran jika kasus pelecehan dan penyimpangan seksual terus ada. Hal ini buah dari aturan hidup yang permisif dan liberal yang dianut negeri ini. Dimana gaya hidup yang serba bebas tanpa aturan membuat manusia memilih cara hidupnya sendiri. Dalam pergaulan pun merujuk kepada cara pandang sistem kapitalisme. Dimana tidak ada pembatasan antara interaksi wanita dan pria. Tidak pula mengatur cara berpakaian. Pergaulan dalam sistem ini hanya berorientasi pada pemenuhan syahwat semata. Bukan berorientasi dalam rangka melestarikan jenis manusia.

Oleh karenanya, produk-produk yang dihasilkan sistem ini adalah produk-produk yang menyuburkan perzinaan, pelecehan seksual, hingga melahirkan generasi yang cabul. Ditambah pula sistem ekonominya yang mencari keuntungan semata tanpa mengindahkan norma kesopanan apalagi agama. Maka sistem ini akan terus memproduksi barang atau jasa yang menghasilkan pundi-pundi rupiah tanpa kenal halal ataukah haram.

Apa yang nampak pada pemberitaan kasus pencabulan dan penyimpangan seksual hanyalah pucuk dari gunung es. Dari hari ke hari kasus ini pun terus menggelinding bak bola salju yang terus membesar. Sejumlah penanganan yang dilakukan tak satupun yang mampu menghentikan bola salju ini.

Jelas, hal ini akibat solusi yang diberikan tak menyelesaikan ke akar persoalan. Indonesia yang menganut sistem demokrasi sekularisme, menjamin hak asasi manusia. Kebebasan berekspresi benar-benar dijamin. Atas paham sekularisme inilah, timbul yang banyak persoalan. Wajar, karena pembuat aturan adalah manusia berdasar hawa nafsunya, hingga menimbulkan banyak pertentangan di tengah-tengah masyarakat. Agama yang disingkirkan dari kehidupan publik, nyatanya hanya menambah rumit problematika manusia.

Oleh karena itu, tidak ada solusi lain untuk menghentikan kasus percabulan di negeri ini kecuali dengan mengubah sistem yang dianut selama ini. Kembali ke kehidupan Islam, adalah solusi yang tepat. Karena Islam memiliki seperangkat aturan atau sistem yang berasal dari Sang Maha Pencipta dan Pengatur. Hingga, kemaslahatan hidup akan benar-benar dirasakan. Tak akan tercipta lagi generasi cabul akibat sistem cabul seperti yang kita saksikan saat ini.

Wallahu a'lam bishshawab.
 
Top