Oleh : Inggit Octriani S.Pd.Si

    
 Mendikbud mengumumkan bahwa SMK dan Perguruan Tinggi di seluruh zona sudah boleh lakukan pembelajaran secara tatap muka, demikian ungkap Pak Nadiem dalam konferensi pers secara virtual, pada jumat (7/8/2020) yang dimuat GridHITS.id.

 Berbagai tanggapan beragam terkait   keputusan tersebut beragam, salah satunya dari Koordinator Nasional Jaringan Pengamat Pendidikan Indonesia (JPPI) Ubaid Matraji menilai ada inkonsistensi dalam keputusan Nadiem tersebut. Sedangkan sejumlah guru menilai keputusan Nadiem tak solutif. (CNN Indonesia, 17/06/2020).

 Adanya keputusan tersebut sontak membuat bingung masyarakat, pasalnya kebijakan Nadiem menyebutkan jika orang tua tidak mengizinkan anaknya kembali kesekolah, siswa tersebut boleh tetap belajar dirumah.


     "Ini juga kebijakan galau, boleh dibuka tapi tergantung orang tua, anaknya boleh masuk sekolah atau tidak. Kalau begitu pembelajarannya bagaimana, ada yang disekolah, ada yang PJJ ( Pembejarana Jarak Jauh)" Ujar Ubaid pada CNN Indonesia.

 Kemudian sarana pendukung lainnya, seperti guru maupun akses fasilitas juga masih jadi kendala. Ia menilai seharusnya Kemendikbud mematangkan hal - hal ini dulu, baru memutuskan kebijakan. Atas dasar itu, JPPI tak setuju jika pembukaan sekolah dilakukan Tahun Ajaran Baru 2020/2021.

Akar ketidak konsistenan

 Apabila kita mengacu pada tujuan pendidikan negara kita, sebagaimana tampak dalam UU. No.20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Pasal 3.
Dimana di pasal tersebut dijelaskan tentang tujuan untuk mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan yang Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara demokratis dan bertanggung jawab.

 Tujuan tersebut sebenarnya sangat baik tetapi jika ditelaah kembali, implementasinya masih jauh panggang dari api. Masih banyak yang harus dibenahi dari berbagai lini. Bahkan  jika mengacu terhadap  tujuan pendidikan Islam adalah mencetak generasi yang berkepribadian Islam, memahami tsaqafah (ilmu-ilmu Islam)  dan unggul dalam sains teknologi sangatlah sulit diwujudkan. 

 Pembelajaran saat sekarang yang masih mengadopsi pendidikan kapitalis sekuler lebih dominannya aspek penguasaan materi seperti sain, matematika dan literasi (merujuk penilaian PISA). Sedang materi keislaman lebih menonjolkan teori daripada pembentukan sikap.

  Alhasil output pendidikan yang dihasilkan adalah lulusan ala kapitalis sekuler yang kering dari nilai spiritual, miskin moral dan akhlak mulia. Pada akhirnya degradasi moral dan kebobrokan mental generasi sudah merajalela dengan jumlahnya kian meningkat. 

Solusi Pendidikan Pada Masa Pandemi

 Dalam situasi stabil atau pandemi, Islam selalu hadir membawa solusi. Problem pendidikan masa pandemi pun sangat bisa diselesaikan dengan aturan Islam. Karena Islam sistem jitu yang mampu menyelesaikan berbagai problematika manusia. Aturan Islam ketika diterapkan memberikan ketenangan jiwa karena sesuai fitrah manusia. Aturan Islam berasal dari Sang Pencipta yang Maha Tahu akan kebutuhan makhluknya. 

Ketika dalam masa pandemi Islam menetapkan kebijakan dengan cara lockdown terhadap wilayah tersebut. Sehingga wabah dan orang sakit tidak tersebar kemana-mana. Bagi wilayah yang bersih dari wabah tetap menyelenggarakan pendidikan tanpa ada kekhawatiran terhadap virus. Hal ini karena peran negara sangat cepat ketika mengatasi pandemi tanpa ada hitung-hitungan untung dan rugi. 
   
 Negara memberi perlindungan dan pengayoman dengan cara pemenuhan kebutuhan pokok masyarakat sandang, pangan, papan. Akhirnya, pendidikan bisa terus berjalan tanpa perasaan was-was. Pada wilayah yang terjangkiti, negara tetap menjamin hak pendidikan yang sesuai dengan kebijakan penanganan wabah. 

Para pemimpin dalam sistem Islam (khilafah) sangat memahami betul bahwa seorang pemimpin kelak akan diminta pertanggungjawaban di hadapan Allah Swt.

"Imam adalah pelayan dan hanya dialah satu-satunya yang bertanggung jawab terhadap urusan rakyatnya." 

Masihkah kita mempertahankan kehidupan yang diatur oleh aturan yang tidak pernah menuntaskan permasalahan bahkan semakin menjadikan manusia hidup dalam keterpurukan? Pilihan ada di tangan kita. Mau sistem Islam ataukah demokrasi kapitalis sekuler? 

Wallahu a'lam bishshawab.
 
Top