Oleh : Rini Heliyani
Praktisi Pendidikan

Belum lama ini beredar video pasangan kekasih sedang berhubungan badan di sebuah Hotel wilayah Kembangan, Jakarta Barat. Keduanya diketahui berinisial DA, 25, dan MI,25, langsung dibawa ke Mapolsek Kembangan untuk dimintai keterangan.

Polsek Kembangan bertindak cepat merespon informasi video dan berhasil memeriksa orang yang diduga ada di video. Terkuak bahwa yang bersangkutan mengaku tidak menyadari kalau gorden kamar hotelnya terbuka. “Orang tersebut masih pacaran sama-sama belum menikah. Dan tidak menyadari kalau gordennya terbuka,” kata Kompol Imam saat dihubungi, Sabtu (25/7).

Menurutnya, kedua orang yang melakukan hubungan badan itu tidak dikenakan pasal perzinaan. Sehingga, keduanya tidak ditahan. “Asas legalitas, seseorang yang melakukan hubungan seks dengan pacarnya atas dasar suka sama suka (keputusan bersama), dan keduanya telah dewasa, tidak dapat dijerat pasal perzinaan,” pungkasnya. (Jawapos.com, 25/7/20)

Aktivitas pacaran dinilai sesuatu yang lumrah saja dilakukan muda-mudi. Masyarakat menganggap biasa saja, dan menilai bahwa ini masa bagi muda-mudi untuk memadu kasih. Tanggapan-tanggapan masyarakat seperti itu menunjukkan bahwa masyarakat membiarkan kemaksiatan dilakukan muda-mudi. Aktivitas pacaran dilakukan oleh pemuda muslim, yang notabene Islam sudah jelas melarang aktivitas pacaran di dalam Al-Qur'an.

Hal ini terjadi pada saat ini dikarenakan negara menerapkan hukum buatan manusia (baca: sekuler) yaitu memisahkan agama dari kehidupan, sehingga saat ini aturan agama tidak berlaku bagi aturan kehidupan. Maka, wajar saja saat ini negara pun abai dan membiarkan aktivitas pacaran dilakukan. Karena sistem sekuler menjamin setiap kebebasan bagi individu. Termasuk kebebasan bertingkah laku.

Saat ini, jika ada yang mengusik kebebasan individu dalam bertingkah laku, justru orang yang mengusik terkena sanksi. Wajar juga saat ini masyarakat abai bahkan tidak peduli terhadap aktivitas pacaran.

Islam Menjaga Pemuda

Aktivitas pacaran tidak akan dijumpai di dalam negara Islam. Karena Islam mengatur hubungan laki-laki dan perempuan. Islam melarang laki-laki dan perempuan melakukan hubungan di luar pernikahan kecuali urusan kemaslahatan.

Hal ini sesuai dengan dalil Al-Qur'an bahwa menyebutkan, "Dan janganlah engkau mendekati zina, sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk." (QS. al-Isra' : 32)

Berdasarkan dalil tersebut, maka kaum muslimin menyadari bahwa zina adalah perbuatan yang dimurkai Allah. Maka, tidak ada pemuda yang melakukan aktivitas pacaran. Aturan ini menunjukkan bahwa Allah sangat menjaga kehidupan manusia, agar tidak terjerumus ke dalam perbuatan buruk dan dosa.

Selain itu negara juga berperan penting dalam menjaga hal tersebut, jika perbuatan zina terjadi, maka sanksi tegas diberikan negara sebagai efek jera bagi yang lain. Hukuman-hukuman atau sanksi tegas berupa cambuk dengan 100 kali cambukan bagi yang berzina tetapi belum menikah. Sedangkan bagi pezina yang sudah menikah maka dihukum rajam hingga mati.

Sanksi tersebut jelas Allah sebutkan di dalam Al-Qur'an, "Pezina perempuan dan pezina laki-laki, maka cambuklah salah satu dari keduanya seratus kali cambukan. Dan janganlah kalian merasa kasihan kepada keduanya yang akan menghalangi kamu dari menerapkan hukum Allah jika kalian orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kiamat. Hendaknya sekelompok dari orang-orang yang beriman  menyaksikan hukuman bagi keduanya.” (QS. an-Nuur : 2)

Wahai sekalian manusia! sesungguhnya Allah Ta’ala telah mengutus Muhammad –shallallahu ‘alaihi wa sallam- dengan kebenaran. Telah menurunkan Al-Kitab (Al-Qur’an) kepadanya. Maka di dalam apa yang diturunkan kepadanya, ayat tentang hukum rajam. Kami membaca dan menjaganya. Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam- telah melakukan hukum rajam dan kami pun melakukannya setelah beliau. Maka aku khawatir, jika manusia telah melewati zaman yang begitu panjang, akan ada yang mengatakan : “Kami tidak mendapatkan ayat rajam di dalam Al-Qur’an.” Maka mereka sesat dengan meninggalkan kewajiban yang telah Allah turunkan. Maka hukum rajam merupakan perkara yang hak (benar adanya) dalam Al-Qur’an bagi seorang yang berzina apabila dia muhshan dari laki-laki ataupun wanita apabila telah tegak bukti (empat orang saksi), atau hamil, atau pengakuan.” ( HR. Al-Bukhari : 30 dan Muslim : 25 )

Sanksi tersebut diberikan untuk mencegah orang lain berbuat hal yang sama. Sehingga pergaulan laki-laki dan perempuan terlindungi dari hal-hal yang buruk sehingga tidak berdampak buruk. Sanksi tersebut hanya dapat dilaksanakan oleh negara Islam saja sesuai dengan aturan kehidupan islam yang notabene diterapkannya.

Wallahu a'lam bishshawab.
 
Top