Oleh : Seddwi Fardiani, S.Pt. 
(Pemerhati Masalah Publik)


Istilah khilafah dewasa ini telah menjadi isu yang hangat diperbincangkan di seantero dunia. Puncaknya terjadi pasca penayangan film dokumenter JKDN (Jejak Khilafah di Nusantara) yang diluncurkan pertama kali pada tanggal 20 Agusoptus 2020 atau bertepatan dengan 1 Muharram 1442 H. Film ini mendapat banyak sambutan di tengah-tengah masyarakat. Terlepas sambutan tersebut pro/kontra, namun bagi orang yang memahami bahwa khilafah adalah bagian dari ajaran Islam tentunya merasa bahwa dengan adanya film ini dapat menambah bukti penerapan Islam yang selama ini sengaja dikubur dan dikaburkan. Faktanya khilafah pernah diterapkan dan pernah menjadi adidaya di dunia termasuk di Nusantara. 


Jejak Khilafah di Nusantara

Khilafah sebagai institusi dunia yang menerapkan Islam secara kaffah (menyeluruh) nyatanya pernah berkuasa selama kurang lebih 13 abad lamanya dan berhasil menguasai 2/3 dunia yang membentang dari Afrika Utara hingga Persia. Penerapannya menorehkan tinta emas dalam peradaban dunia. Memberikan kesejahteraan, keamanan dan keadilan yang luar biasa. Semua wilayah yang berada dalam kekuasaannya diberikan toleransi dalam beragama dan terlindungi segala propertinya. Institusi ini merupakan ajaran Islam yang diestafetkan sepeninggal Rasulullah saw. guna menyebarkan Islam ke seluruh dunia.  Dilanjut pada masa Khulafaur Rasyidin, Bani Umayyah, Bani Abbasiyyah dan terakhir Bani Utsmaniyyah. Hingga keruntuhannya pada kekhilafahan Turki Utsmani sejak 3 Maret 1924 M di tangan Presiden Turki pertama yaitu Mustafa Kemal Attaturk.

Sebagai institusi dunia, khilafah tentunya memiliki peranan besar dalam penyebaran Islam di Nusantara, sebuah kepulauan yang awalnya berada dalam "kegelapan" tanpa cahaya Islam akhirnya saat ini menjadi negara dengan jumlah Muslim terbesar di dunia. Bukti-bukti itu nampak jelas masih meninggalkan jejak hingga saat ini. Beberapa bukti sejarah tersebut diantaranya :

Pertama, adanya hubungan antara Khilafah dan Sriwijaya. Moeflich Hasbullah seorang sejarawan mengatakan bahwa Sri Indrawarman sebagai penguasa Sriwijaya saat itu pernah mengirimkan surat kepada khalifah Umar bin Abdul Azis. Hal ini menunjukkan adanya hubungan yang erat dengan kekhilafahan Bani Umayyah.

Kedua, terdapat makam beberapa tokoh dari kekhilafahan Abbasiyah.  Utusan tersebut adalah Shadrul Akabir Abdullah Al 'Abbasi yang merupakan keturunan Khalifah Al Muntansir Billah beserta istri dan anaknya.

Ketiga, Keberadaan makam dari utusan khilafah di pulau Jawa yakni Maulana Malik Ibrahim yang juga dikenal dengan Sunan Gresik. Beliaulah yang menginisiasi lahirnya Islam di pulau Jawa. Beliau diberi gelar Umdah as Salatin wal wuzara yang bermakna pondasi para sultan dan wazir, juga gelar lainnya yaitu Burhanud Daulah wad Din yang bermakna penerang negara dan agama. Gelar tersebut merupakan gelar yang diberikan khilafah kepada pejabat-pejabat penting.

Keempat, Berdirinya kesultanan Demak. Raden Patah yang merupakan putra mahkota dari kerajaan Majapahit pernah belajar kepada Sunan Giri dan berhasil memproklamirkan berdirinya Daulah Islam pertama di pulau Jawa.

Kelima, Bangkitnya kesultanan Aceh yang dipimpin oleh Sultan Ali Mughayat Syah. Di enkripsi makamnya tertulis gelar "Al Ghazi fil barri wal bahri yansuruhullah" yang bermakna petarung di darat dan laut, semoga Allah menolong dia. Dimana gelar tersebut biasanya digunakan oleh sultan-sultan kekhilafahan Ustmani.

Keenam,  Ditemukannya Dinar dan dirham dari kekhilafahan Utsmaniyah. Pada tahun 2013, tepatnya di Gampong Pande  telah ditemukan  tidak kurang dari 6000 keping Dinar dan dirham yang dicetak oleh Khilafah Utsmaniyah dan kesultanan Aceh. Hal ini menunjukkan bahwa adanya hubungan yang erat antara kesultanan di Aceh dan khilafah Utsmaniyah.

Ketujuh, terdapat surat yang menyatakan baiat Sultan 'Ala'uddin Ri'ayat Syah Al Qohhar sekaligus permohonan bantuan  kepada Sultan Sulaiman Al Qonuni yang merupakan Khalifah Utsmani untuk mengusir Portugis dari bumi Nusantara. Pada masa itu armada raksasa berkekuatan 15.000 Ghazi Aceh, 400 jannisaries dan 200 meriam monster dikirimkan khalifah untuk membantu kesultanan Aceh. 

Kedelapan, adanya kesultanan Ternate  yang berbaiat pada Khilafah Utsmani. Pada masa pemerintahan Sultan Ba'abullah, Portugis akhirnya hengkang dari bumi Nusantara.

Inilah beberapa fakta yang hingga saat ini bisa kita Indra sehingga kita bisa memetik hikmah dari sejarah yang ditampilkan dalam film JKDN. Penerapan Islam di dunia maupun Nusantara tidak bisa dipungkiri keberadaannya. Mengatakan bahwa penerapan khilafah ahistoris adalah sesuatu yang tidak beralasan. Kewajiban menegakkan khilafah bukanlah sesuatu yang patut diperdebatkan karena secara normatif telah diperintahkan baik di dalam Al-Qur'an, As Sunnah dan Ijma' Shabat. Allah SWT berfirman :

 "Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, “Sungguh Aku akan menjadikan di muka bumi Khalifah…” [TQS al-Baqarah [2]: 30].

Menurut Imam al-Qurthubi, ayat ini merupakan hukum asal tentang wajibnya mengangkat khalifah. Beliau juga menegaskan bahwa tidak ada perbedaan pendapat mengenai kewajiban (mengangkat khalifah). (Media Umat edisi 212).

Keberadaan khalifah sebagai pemimpin yang menerapkan hukum Islam secara kaffah tentunya mengharuskan institusi yang menaunginya. Itulah khilafah. Sebagai institusi yang gemilang dan menebar rahmat bagi seluruh alam, tentunya menjadikan khilafah sebagai sistem alternatif setelah kegagalan yang terjadi pada sistem yang diterapkan saat ini. Sebuah sistem pemerintahan Islam yang datang dari Ilahi Rabbi. Tidak terkecuali di era millenial yang semuanya serba canggih dan modern. Dengan diterapkannya khilafah akan tercipta persatuan di seluruh dunia. Persatuan yang dilandaskan oleh Aqidah Islamiyyah dan Ukhuwah Islamiyyah. Persatuan yang akan mengalahkan segala bentuk penjajahan.  
Wallahu a'lam bishshawab.
 
Top