By : Mila Sari, S. Th. I
Kontributor Media, Pegiat Opini, Pendidik Generasi dan Member Akademi Menulis Kreatif

Masalah anak dan perempuan merupakan permasalahan yang tak asing di Indonesia bahkan di dunia. Bahkan, tidak ada satu tempat pun saat ini yang benar-benar aman bagi anak-anak dan perempuan. Kasus-kasusnya terus berkembang, mulai dari prostitusi, penjualan, perbudakan, dan kasus-kasus lain yang tak manusiawi.

Pelaku kriminal terhadap anak-anak pun kadang tak bisa ditebak, bahkan yang kita anggap menjadi pelindung bagi sang anak, ternyata merekalah serigala yang terus meneror dan rela menggerogoti. Bahkan, terkadang kejahatan terhadap anak dilakukan mulai dari orang terdekat, seperti orangtua, guru, kakak dan lain sebagainya sehingga menjadikan korban kian sulit untuk keluar dari perangkap mangsanya.

Di Indonesia sendiri sudah lama didirikan Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) sebagai upaya perlindungan hak-hak anak yang ada di Indonesia. Meski dengan adanya badan ini, kejahatan terhadap anak belum bisa dihentikan secara tuntas.

Baru-baru ini, seperti yang diberitakan dalam www.kabarsumbar.com (Sabtu, 25/07/20), Bukittinggi menerima penghargaan komitmen perlindungan anak dari KPAI. Bukittinggi menerima penghargaan atas Komitmen dalam Penyelenggaraan Perlindungan Anak dan Pelaporan Capaian Berbasis Sistem Informasi Monitoring Evaluasi dan Pelaporan (SIMEP). Ini dinilai karena perjuangan Bukittinggi bersama Gugus Tugas Kota Layak Anak (KLA) dinilai baik oleh pemerintah pusat.

Dikutip dari berita yang sama, selain Bukittinggi, Kabupaten Agam menjadi wilayah di Sumatera Barat yang juga mendapatkan penghargaan kategori tersebut. Di samping itu, ada pula Kota Mataram, Kota Surabaya, Kota Yogyakarta, Kabupaten Sleman, Kota Semarang, Kota Jakarta Barat, Kota Malang, dan Kabupaten Gianyar.

“Perlindungan terhadap anak adalah suatu hal yang penting, karena anak adalah masa depan kita, masa depan bangsa dan anaklah yang akan menentukan bangsa ini nantinya mau jadi bangsa apa ke depannya,” ungkap Ramlan selaku Wali Kota Bukittinggi. Anugerah KPAI ini diberikan kepada Kementerian/Lembaga, Pemerintah Daerah Tingkat Provinsi dan Kabupaten/Kota, Organisasi Profesi Kesehatan, Institusi Penegak Hukum, Guru yang responsif terhadap perlindungan anak, KPAD Provinsi dan Kabupaten/Kota, Anak Inspiratif serta Forum Anak Tingkat Provinsi dan Kabupaten Kota terpilih. (Padangkita.com Kamis, 23/07/20)

Bukittinggi merupakan salah satu kota yang mendapatkan penghargaan dan apresiasi dari KPAI dalam masalah perlindungan dan hak-hak anak. Meski sebenarnya masih banyak kasus-kasus yang membawa anak dan generasi ke arah yang merugikan mereka. Sebut saja pergaulan bebas, narkoba, miras, tawuran, pencurian, dan kenakalan remaja lainnya merupakan hal yang kasusnya terus saja berkembang dan bertambah hingga saat ini. Sedangkan tingginya kasus pergaulan bebas dan kekerasan terhadap anak masih menjadi tantangan bagi masyarakat, tidak hanya di suatu wilayah tapi Indonesia dan bahkan dunia secara umum.

Bukittinggi juga merupakan destinasi wisata yang diminati masyarakat, tidak hanya Sumbar dan Indonesia tapi juga internasional. Semua itu sebab pesona keindahan alam, budaya dan kilas sejarah yang ada padanya serta segala sesuatu yang dapat menarik pengunjung menjadikannya tak pernah sepi untuk dikunjungi. Tentu semua ini perlu dikhawatirkan karena akan berefek kepada anak-anak dan generasi yang ada di sana akan pengaruh buruk yang mungkin ditinggalkan para pendatang. Seperti arus liberalisasi dan budaya luar yang akan memengaruhi pola sikap dan tingkah laku anak.

Adapun penghargaan yang sudah didapatkan dari KPAI itu sejatinya tak dapat menjadi jaminan bahwa anak-anak di sana berada dalam zona aman, terjaga, terlindungi dan terjamin. Tapi itu hanyalah sebatas legalitas dan simbol saja yang tidak dibarengi oleh kepedulian dan segala kebijakan yang benar-benar dapat melindungi anak. dari pemerintah.

Tak ada satu hal pun di sistem kehidupan sekarang yang benar-benar menjamin hak setiap anak dapat dipenuhi. Butuh sistem kehidupan yang menjadikan predator anak benar-benar musnah dan tidak akan muncul lagi selamanya. Tentu semua itu hanya akan terwujud bila kita menerapkan aturan kehidupan yang sesuai dengan tuntunan Illahi Rabbi, yaitu Islam yang tidak hanya sebatas agama, aturan kehidupan tapi juga problem solving atas segala permasalahan yang ada.

Karena hanya dengan sistem Islam, ketakwaan individu akan terbentuk. Sehingga setiap insan akan takut melakukan kemaksiatan dan dosa karena senantiasa merasa diawasi oleh Allah Swt. dan menyadari bahwa setiap perbuatan akan dimintai pertanggungjawaban.

Selain itu juga akan terbentuk kontrol sosial dari masyarakat yang senantiasa mengajak berbuat baik dan melarang kepada perilaku tercela hingga tindakan kriminal akan ditekan sampai ke titik terendah.

Selain itu juga negara sebagai sebuah institusi yang memiliki wewenang yang tegas, memaksa dan mengikat seluruh rakyat melalui aturannya, akan mengambil kebijakan yang dapat menyempurnakan hak setiap anak. Sebab negara Islam, yaitu Daulah berfungsi sebagai pengontrol terlaksananya hukum-hukum Islam secara totalitas dan dakwah ke seluruh penjuru dunia. Sedangkan anak dalam Islam merupakan anugerah yang mesti disyukuri dan amanah yang harus dijaga. Dia merupakan investasi dunia akhirat, ladang pahala yang akan memudahkan orangtua menggapai rida dan surga Allah Swt.

Sehingga orang tua akan menjaga anak-anak mereka dengan cinta, memberikan segala yang terbaik untuk mereka sedangkan negara juga akan menjalankan kewajibannya dengan penuh tanggung jawab. Hingga lahirlah generasi yang cerdas, diridai Allah Swt., berkepribadian Islam, berakhlak mulia, menjadi dambaan umat di setiap generasi yang akan membawa kepada kebangkitan.

Wallahu a'lam bishshawab.
 
Top