Oleh: Nur Rahmawati, SH
(Praktisi Pendidikan) 

Eksploitasi seksual, yang baru-baru ini terjadi terhadap 305 anak di Jakarta bukanlah angka yang main-main. Hal ini menjadi viral, saat Subdit Renakta (Remaja, Anak dan Wanita) Ditreskrimum Polda Metro Jaya menangkap pelaku yang berkebangsaan asing bernama Frans.

Dikutip dari, Suaramerdeka.id, “Subdit Renakta Ditreskrimum Polda Metro Jaya berhasil menangkap pelaku eksploitasi seksual terhadap 305 anak di bawah umur. Pelaku melakukan perbuatan tersebut dengan iming-iming sejumlah uang dan karir sebagai fotomodel. Pencabulan dengan kedok fotografi terhadap anak perempuan di bawah umur ini terjadi di beberapa hotel di Jakarta. Adapun wilayah hotel yang dimaksud berada di wilayah Jakarta Barat,” kata Nana Sudjana.

Kapolda Metro Jaya menjelaskan, pelaku adalah seorang warganegara Prancis berinisial FAC yang biasa dipanggil Frans. WN Perancis yang berusia 65 tahun ini menjadi predator 305 anak, sebagian besar adalah anak jalanan. (3/8).

Kejadian tersebut, tentu membuat miris. Di saat pandemi belum usai, kejahatan terhadap anak lagi-lagi terjadi. Hal ini tentu bukan kali ini saja, kasus serupa juga pernah menjadi perhatian kita bersama, saat fedhofil pernah beraksi di sekolah Internasional di Indonesian tepatnya di Jakarta Internasional School (JIS) pada tahun 2014. Anak yang harusnya dapat perlindungan kasih sayang, karena di usia mereka adalah usia emas. Justru menjadi sasaran empuk nafsu bejat orang dewasa. Apa lagi jumlah yang menjadi korban tidak sedikit.

Mengapa hal ini terus saja terjadi berulang-ulang? Belumkah membuat jera hukum yang kini berlaku? Atau tidak efektifkah pencegahan yang telah diupayakan?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut dapat dijawab, bahwa pengendali dari semua aturan dan pelaksanaannya adalah sistem. Maka sistem apa yang digunakan oleh negara merupakan kunci gagal atau berhasilnya dalam menangani dan melindungi masyarakatnya. Sistem saat ini adalah sistem kapitalisme-sekularisme yang membuka kran kebebasan atas bersikap/berprilaku, berpendapat, bergama dan kebebasan-kebesan yang lain. Selain itu sistem ini juga memisahkan agama dari kehidupan. Sehingga hilangnya jati diri manusia atas agama dan penghambaannya terhadap Allah SWT, menjadikan nafsu mendominan perbuatannya. Akhirnya dapat kita lihat sekarang, tidak lagi memiliki rasa belas kasihan terhadap siapapun termasuk anak-anak.

Lantas, yang diperlukan saat ini adalah sistem yang mampu benar-benar memberangus kejahatan-kejahatan terhadap anak, sehingga tidak akan terulang lagi. Selain itu sistem yang dibutuhkan ini juga menjadikan masyarakatnya mnjadi masyarakat yang beriman dan bertakwa. Siatem tersebut Ialah sistem Islam. Dimana sistem ini memberikan perlindungan yang menyeluruh dan komprehensif.

Perlindunga Islam Terhadap Anak dan Perempuan.

Negara adalah benteng terkuat yang melindungi anak-anak dari kejahatan. Mekanisme perlindungan dilakukan secara sistemik, melalui penerapan berbagai aturan negara berdasarkan syariat Islam diantaranya:

Pertama, Penerapan sistem ekonomi Islam

Kita pahami bersama, bahwa peran ibu adalah yang pertama dan utama mendidik anak-anaknya. Sayangnya himpitan ekonomi yang memaksa mereka keluar dari kewajiban tersebut. Sehingga Islam mewajibkan Negara menyediakan lapangan kerja yagn cukup dan layak agar para kepala keluarga dapat bekerja dan mampu menafkahi kelaurganya.

Kedua, Penerapan Sistem Pendidikan

Kurikulum berdasarkan akidah Islam yang akan melahirkan individu bertakwa harusnya diadopsi oleh negara. Dimana individu yang mampu melaksanakan seluruh kewajiban yang diberikan Allah dan terjaga dari kemaksiatan apapun yang dilarang Allah, adalah tujuan dari kurikulum tersebut.

Ketiga, Pengaturan Media Massa

Berita dan informasi yang ditayangkan media hanya konten yang membina ketakwaan dan menumbuhkan ketaatan. Justru sebaliknya apapun yang akan melemahkan keimanan dan mendorong terjadinya pelanggaran hokum ysara akan dilarang keras.

Keempat, Penerapan Sistem Sanksi

Sistem sanksi, yang diterapkan negara hanya berlandaskan pada syariat Islam semata. Sehingga hanya keadilan yang memuaskan akal yang akan didapat, serta efek jera yang tidak hanya menguntungkan pelaku tapi juga korban serta masyarakat yang lain untuk tidak mengulangi lagi. 

Sudah saatnyalah, kita beralih pada penerapan sistem yang datang dari sang maha sempurna Allah SWT. Yaitu sistem Islam secara total (kaffah). WalLâhu a’lam bi ash-shawâb.
 
Top