Oleh : Nani Salna Rosa 
Ibu Rumah Tangga & Pengemban Dakwah

Perempuan memiliki peran penting dalam memutus rantai kemiskinan dan kebodohan. Akan tetapi kenyataannya, masih banyak perempuan yang “tidak berdaya” karena kemiskinan dan kebodohan.

Dikutip dari pikiranrakyat.com (17/08/2020), Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Padjadjaran, Ina Primiana, menyatakan ada dua hal yang harus dilakukan wanoja (perempuan) Sunda agar mampu menjadi ibu peradaban, sehingga akan memutus rantai kemiskinan dan kebodohan.

Pertama, dengan terus melanjutkan pendidikan. Saat ini, kata Ina, rata-rata perempuan di Jawa Barat hanya lulusan SD dan SMP.



Kedua, hindari meninggalkan keluarga untuk bekerja. “Tidak sedikit yang meninggalkan keluarga untuk bekerja baik di dalam negeri maupun di luar negeri. Tapi pekerjaan yang dilakukan seperti menjadi asisten rumah tangga. Lebih baik tetap berada bersama keluarga,” ucapnya saat menjadi keynote speaker, sawala daring Sawala Aksi Wanoja Sunda (Sawanda) pada Senin, 17 Agustus 2020.

Persamaan gender yang banyak digaungkan oleh kaum Barat, ternyata telah merasuk ke tubuh kaum muslimah saat ini. Mereka telah tertipu dengan pemikiran kaum Barat, bahkan tidak sedikit yang mengekor pemikiran tersebut.

Padahal peran wanita dalam Islam sangatlah besar. Dalam keluarga, wanita merupakan pondasi dasar penyebaran Islam. Dari keluargalah, muncul pemimpin-pemimpin yang berjihad di jalan Allah dan akan lahir bibit-bibit yang akan berjuang meninggikan kalimat-kalimat Allah. Dan pemegang peran terbesar dalam hal tersebut adalah kaum wanita.

Contoh pertama peran wanita dalam keluarga adalah sebagai seorang istri. Ketika seorang laki-laki merasa kesulitan, maka sang istrilah yang bisa membantunya. Ketika seorang laki-laki mengalami kegundahan, sang istrilah yang dapat menenangkannya. Dan ketika sang laki-laki mengalami keterpurukan, sang istrilah yang dapat menyemangatinya.

Seperti yang dilakukan oleh teladan kaum muslimah, Khadijah Radiyallahu anha dalam mendampingi Rasulullah saw. di masa awal kenabiannya. Ketika Rasulullah merasa ketakutan terhadap wahyu yang diberikan kepadanya dan merasa kesulitan, lantas apa yang dikatakan Khadijah kepadanya?

“Demi Allah, Allah tidak akan menghinakanmu selama-lamanya. Karena sungguh engkau suka menyambung silaturahmi, menanggung kebutuhan orang yang lemah, menutup kebutuhan orang yang tidak punya, menjamu dan memuliakan tamu dan engkau menolong setiap upaya menegakkan kebenaran.” (HR. Muttafaqun ‘alaih)

Demikianlah seharusnya bagi seorang wanita muslimah di dalam keluarganya. Tidak ada yang diinginkan bagi seorang suami melainkan seorang istri yang dapat menerimanya apa adanya, percaya dan yakin kepadanya dan selalu membantunya ketika sulit.

Kedua adalah wanita sebagai seorang Ibu. Tidak ada kemulian terbesar yang diberikan Allah bagi seorang wanita, melainkan perannya menjadi seorang Ibu. Bahkan Rasulullah pun bersabda ketika ditanya oleh seseorang:

“Wahai Rasulullah, siapakah orang yang paling berhak untuk kuperlakukan dengan baik?” Beliau berkata, “Ibumu.” Laki-laki itu kembali bertanya, “Kemudian siapa?” tanya laki-laki itu. “Ibumu”. Laki-laki itu bertanya lagi, “Kemudian siapa?” tanya laki-laki itu. “Ibumu”, “Kemudian siapa?” tanyanya lagi. “Kemudian ayahmu”, jawab beliau.” (HR. Al-Bukhari no. 5971 dan Muslim no. 6447)

Seorang ibu dapat menjadikan anak-anaknya menjadi orang yang baik, sebagaimana seorang ibu bisa menjadikan anaknya menjadi orang yang jahat. Baik buruknya seorang anak, dapat dipengaruhi oleh baik atau tidaknya seorang ibu yang menjadi panutan anak-anaknya.

Seperti perkataan seorang shahabiyah, Khansa ketika melepaskan keempat anaknya ke medan jihad.

“Wahai anak-anakku, kalian telah masuk Islam dengan sukarela dan telah hijrah berdasarkan keinginan kalian. Demi Allah yang tidak ada Tuhan selain Dia, sesungguhnya kalian adalah putra dari ayah yang sama dan dari ibu yang sama, nasab kalian tidak berbeda. Ketahuilah bahwa sesungguhnya akhirat itu lebih baik dari dunia yang fana. Bersabarlah, tabahlah dan teguhkanlah hati kalian serta bertakwalah kepada Allah agar kalian beruntung. Jika kalian menemui peperangan, maka masuklah ke dalam kancah peperangan itu dan raihlah kemenangan dan kemuliaan di alam yang kekal dan penuh kenikmatan".

Keesokan harinya, masuklah keempat anak tersebut dalam medan pertempuran dengan hati yang masih ragu-ragu, lalu salah seorang dari mereka mengingatkan saudara-saudaranya akan wasiat yang disampaikan oleh ibu mereka. Mereka pun bertempur bagaikan singa dan menyerbu bagaikan anak panah dengan gagah berani dan tidak pernah surut setapak pun hingga mereka memperoleh syahadah fii sabilillah satu per satu. (Sirah Shahabiyah hal 742, Pustaka As-Sunnah)

Ketahuilah, banyak dikalangan orang-orang besar bahkan sebagian para imam dan ahli ilmu merupakan orang-orang yatim yang hanya dibesarkan oleh seorang ibu. Dan lihatlah hasil yang didapatkannya. Mereka berkembang menjadi seorang ahli ilmu dan para imam kaum muslimin. Sebut saja Imam Syafi’I, Imam Ahmad, Al-Bukhori dan lain-lain adalah para ulama yang dibesarkan hanya oleh seorang ibu. Karena kasih sayang, pendidikan yang baik dan doa dari seorang ibu merupakan kekuatan yang dapat menyemangati anak-anak mereka dalam kebaikan.

Karenanya, jika para wanita sadar akan pentingnya dan sibuknya kehidupan di keluarga, niscaya mereka tidak akan mempunyai waktu untuk mengurusi hal-hal di luar keluarganya. Apalagi berangan-angan untuk menggantikan posisi laki-laki dalam mencari nafkah.

Dan yang terakhir adalah peran wanita dalam masyarakat dan negara. Wanita di samping perannya dalam keluarga, ia juga bisa mempunyai peran lainnya di dalam masyarakat dan negara. Jika ia adalah seorang yang ahli dalam ilmu agama, maka wajib baginya untuk mendakwahkan apa yang ia ketahui kepada kaum wanita lainnya. Begitu pula jika ia merupakan seorang yang ahli dalam bidang tertentu, maka ia bisa mempunyai andil dalam urusan tersebut akan tetapi dengan batasan-batasan yang telah disyariatkan dan tentunya setelah kewajibannya sebagai ibu rumah tangga telah terpenuhi.

Hal ini sebagaimana yang dilakukan para shahabiyah nabi. Para shahabiyah biasa menjadi perawat ketika terjadi peperangan, atau sekadar menjadi penyemangat kaum muslimin walaupun tidak sedikit pula dari mereka yang juga ikut berjuang berperang menggunakan senjata untuk mendapatkan syahadah fii sabilillah, seperti Shahabiyah Ummu Imarah yang berjuang melindungi Rasulullah dalam peperangan.

Sehingga dalam hal ini, peran wanita adalah sebagai penopang dan sandaran kaum laki-laki dalam melaksanakan tugas-tugasnya.

Maka dari itu sesungguhnya wanita memiliki kedudukan yang tinggi dalam Islam dan pengaruh yang besar dalam kehidupan setiap manusia. Dia akan menjadi madrasah pertama dalam membangun masyarakat yang saleh, tatkala dia berjalan di atas petunjuk Al-Qur’an dan Sunah Nabi. Karena berpegang dengan keduanya akan menjauhkan setiap muslim dan muslimah dari kesesatan dalam segala hal.

Wallahu a'lam bishshawab.
 
Top