Oleh : Ummu Naufal
Ibu Rumah Tangga dan pengajar di Sekolah Luar Biasa

Kepemimpinan adalah sebuah sunatullah dalam kehidupan manusia, sesuai dengan sifat manusia sebagai makhluk sosial. Secara rasional setiap komunitas membutuhkan seorang pemimpin. Karena sebagai makhluk sosial, manusia selalu berinteraksi dengan lingkungannya.

Untuk mencapai hubungan yang harmonis diantara anggota masyarakat, maka diperlukan seorang pemimpinan yang mengatur dan menata interaksi sosial tersebut. Nabi Muhammad saw. berpesan,

"Apabila kalian bertiga atau lebih dalam suatu perjalanan, maka angkatlah salah seorang diantara kalian sebagai pemimpinnya.”

Ini menunjukkan pentingnya  seorang pemimpin dalam masyarakat.
Dalam Islam, keberadaan seorang pemimpin haruslah amanah.

Pemimpin amanah adalah pemimpin yang bukan hanya tidak mengkhianati rakyat yang telah memilih dirinya, tetapi yang lebih penting adalah tidak mengkhianati Allah dan Rasul-Nya. Allah Swt. berfirman,

"Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian mengkhianati Allah dan Rasul-Nya. Jangan pula kalian mengkhianati amanah-amanah kalian. Padahal kalian tahu." (QS. al-Anfal [8]: 27)

Kekuasan adalah bagian dari amanah, bahkan salah satu amanah yang amat penting, yang haram untuk dikhianati. Karena itu siapa pun yang menjadi pemimpin wajib amanah. Haram melakukan pengkhianatan. Rasulullah saw.  bersabda:

"Tidaklah seorang hamba diserahi oleh Allah urusan rakyat, kemudian dia mati, sedangkan dia menelantarkan urusan tersebut, kecuali Allah mengharamkan surga untuk dirinya." (HR. Muslim)

Hadis ini merupakan ancaman bagi siapa saja yang diserahi Allah Swt. untuk  mengurus urusan  kaum muslim, baik urusan agama maupun dunia, kemudian ia berkhianat, maka ia telah terjatuh pada dosa besar dan akan dijauhkan dari surga.

Penelantaran itu bisa berbentuk tidak menjelaskan urusan-urusan agama kepada umat, tidak menjaga syariah Allah dari unsur-unsur yang bisa merusak kesuciannya, mengubah-ubah makna ayat-ayat Allah dan mengabaikan hudûd (hukum-hukum Allah).

Penelantaran itu juga bisa berwujud pengabaian terhadap hak-hak umat, tidak menjaga keamanan mereka, tidak berjihad untuk mengusir musuh-musuh mereka dan tidak menegakkan keadilan di tengah-tengah mereka. Setiap orang yang melakukan hal ini dipandang telah mengkhianati umat.

Selain amanah  keberadaan seorang pemimpin wajib bersikap adil dan tidak korup.

Sejarah mencatat bahwa ketika  Islam diterapkan selama berabad-abad telah melahirkan banyak pemimpin yang adil dan amanah. Khalifah pertama, Abu Bakar ash-Shiddiq ra., misalnya, adalah sosok penguasa yang terkenal adil dan amanah. Beliau orang yang sabar dan lembut. Namun, beliau juga terkenal sebagai pemimpin yang berani dan tegas.

Tatkala sebagian kaum Muslim menolak kewajiban zakat, beliau segera memerintahkan kaum Muslim untuk memerangi mereka. Dengan begitu stabilitas dan kewibawaan Kekhilafahan bisa dipertahankan meskipun harus mengambil risiko perang.

Kisah Khalifah Umar bin al-Khaththab ra. Saat menjadi khalifah, beliau pernah dihadiahi minyak wangi kesturi dari penguasa Bahrain. Beliau lalu menawarkan kepada para sahabat, siapa yang bersedia untuk menimbang sekaligus membagi-bagikan minyak wangi kesturi itu kepada kaum Muslim. Saat itu, istri beliau, Atikah ra., yang pertama kali menawarkan diri. Namun, beliau dengan lembut menolaknya. Sampai tiga kali istri beliau menawarkan diri, beliau tetap menolak keinginan istrinya. Beliau kemudian berkata, “Atikah, aku hanya tidak suka jika engkau meletakkan tanganmu di atas timbangan. Lalu engkau menyapu-nyapukan tanganmu yang berbau kesturi itu ke tubuhmu. Dengan itu berarti aku mendapatkan lebih dari yang menjadi hakku yang halal.” (Al-Kandahlawi, Fadha’il A’mal, hlm. 590)

Dengan demikian hanya Islam yang bisa mendorong para pemimpin/penguasa untuk selalu bersikap adil, amanah dan tidak korup.

Sayangnya, sistem demokrasi sekuler saat ini  sering melahirkan pemimpin yang tidak adil alias fasik dan zalim.  Sebab sistem ini tidak mensyaratkan pemimpin atau penguasanya untuk memerintah dengan hukum Allah Swt. Saat penguasa tidak memerintah atau tidak berhukum dengan hukum Allah Swt., jelas dia telah berlaku zalim. Allah Swt. sendiri yang menegaskan demikian:

"Siapa saja yang tidak memerintah dengan wahyu yang telah Allah turunkan, mereka itulah pelaku kezaliman." (TQS. al-Maidah [5]: 5)

Alhasil, seorang pemimpin baru bisa dan baru layak disebut sebagai pemimpin yang adil saat memerintah berdasarkan Al-Qur'an dan as-Sunnah, bukan dengan yang lain.

Wallahu a'lam bishawwab.
 
Top