Oleh : Nibrazin Nabila
Praktisi Pendidikan


Situasi politik mendekati Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) di Kabupaten Bandung sejauh ini masih dinamis. Bahkan sejumlah selebriti ikut aktif meramaikan pesta demokrasi lima tahunan ini. Pengamat Komunikasi Politik Unikom Bandung yang juga Direktur Eksekutif Lingkar Kajian Komunikasi dan Politik (LKKP) Adiyana Slamet menuturkan, sejumlah partai politik saat ini sedang berlomba-lomba menggaet figur dari kalangan selebritis untuk mendongkrak perolehan suara pada semua segmentasi pemilih, hal ini dilakukan demi meraih kemenangan dalam kontestasi. 

Menurutnya, jika partai politik dapat mengusung figur dari kalangan selebritas, hal ini akan menjadi modal dasar atau awal meraih kemenangan. Adiyana menilai, pelaksanaan Pilkada langsung secara serentak ini menunjukkan bahwa Kabupaten Bandung tengah memasuki babak baru menuju good governance dan clean governance. Sebab, pada 2020 ini merupakan dinamika politik baru. (jabarekspres.com, 06/08/20)

Inilah kondisi perpolitikan demokrasi sekuler saat ini, banyak kalangan telah diperbudak nafsu jabatan dan kekuasaan sampai kalangan artis pun diikutsertakan dengan iming-iming yang menjanjikan.  Sekalipun harus mengorbankan idealisme dan mengorbankan rakyat. Tanpa memperhatikan kualitas pemimpin tersebut, dengan menghalalkan segala cara untuk meraih kursi kepemimpinan. 

Maraknya partai politik yang menggaet publik figur untuk mendongkrak perolehan suara lewat popularitas saja, justru akan membawa dampak buruk bagi kesejahteraan rakyat, karena faktanya yang faktor kepentingan me jadi alasan agar dapat meraih vote yang banyak lewat pendukungnya. Sayangnya, hal ini dilakukan untuk kepentingan individu atau kelompok tersebut saja. Tanpa memperhatikan apakah pemimpin tersebut adil dan amanah atau tidak.

Padahal, amanah kepemimpinan adalah amanah yang sangat berat. Siapa saja yang memegang amanah kepemimpinan ini pasti akan dimintai pertanggung jawaban oleh Allah Swt. di akhirat kelak. Rasulullah saw. bersabda, 

“Seorang Imam (pemimpin) adalah pengurus rakyat dan dia akan dimintai pertanggung jawaban atas rakyat yang dia urus”. (HR Bukhari dan Ahmad) 

Karena itu generasi pada masa lalu, umumnya khawatir bahkan takut dengan amanah kepemimpinan (kekuasaan). Islam tidaklah melarang siapapun yang ingin berkuasa, Islam pun memandang wajar terhadap pergolakan yang menyertai proses-proses politik kearah sana. Masalahnya, bagaimana cara kekuasaan itu didapat serta dalam kerangka apa kekuasaan itu diraih?

Islam sangat mendorong para pemimpin, penguasa maupun pejabat negara selalu bersikap adil. Sayangnya, pemimpin adil tidak mungkin lahir dari rahim sistem demokrasi sekuler yang jauh dari tuntunan Islam. Sistem dzalim ini hanya bisa menghasilkan para pemimpin dzalim, tidak amanah, dan jauh dari sifat adil. 

Islam sebagai agama sekaligus ideologi yang kompleks dalam segala hal termasuk masalah politik dan kepemimpinan. Karena kepemimpinan dianggap masalah yang sangat penting sehingga para ulama membahas dengan sangat detail. Imam Al-Ghazali dalam kitab Ihya Ulumuddin mengatakan “Agama dan kekuasaan adalah seperti dua saudara kembar. Keduanya tidak bisa dipisahkan, jika salah satu tidak ada, maka yang lainnya tidak akan berdiri secara sempurna”. 

Agama adalah asas, sementara kekuasaan adalah penjaganya. Segala sesuatu tanpa adanya asas akan rusak. Dan jika tidak dijaga ia akan hilang. Kepemimpinan dalam Islam adalah kepemimpinan yang menjadikan agama akan terpelihara. Sebab, kepemimpinan itu berlandaskan Al-Qur’an dan As-Sunnah bukan bersumber dari akal manusia yang lemah. Sebagaimana firman Allah Swt. yang artinya :

“Dan kami menjadikan mereka itu sebagai pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah kami, dan Kami wahyukan kepada mereka agar berbuat kebaikan dan melaksanakan shalat, menunaikan zakat dan hanya kepada Kami mereka menyembah.” (QS. al Anbiya:71)

Menyadari bahwa misi penciptaan manusia di dunia ini untuk beribadah kepada Allah Swt. juga demi pengabdian tersebut, maka seorang Khalifah akan menjalankan tugas di muka bumi ini dengan penuh amanah untuk memberikan rasa aman, tentram, damai, dan sejahtera kepada rakyatnya. Seorang pemimpin atau khalifah tidak akan hidup dalam kemewahan, mengejar sebuah jabatan, tanpa mempertimbangkan mampu atau tidak memangku jabatan tersebut serta ambisius dalam mengejar sebuah jabatan dengan menghalalkan segala cara demi kepentingan individu atau kelompoknya saja. 

Oleh karena itu, Kepemimpinan yang berlandaskan syariat sajalah yang akan menyelamatkan baik di dunia maupun di akhirat. Bukan kepemimpinan yang minus visi dan misi atau hanya ingin memperoleh kemenangan semata. Pemimpin yang adil dan amanah hanya mungkin lahir dari sistem yang juga adil. Itulah sistem pemerintahan Islam, Khilafah Islamiyah.

 Wallahu a’lam bish shawwab.
 
Top