Penulis : Sri Indrianti
(Pemerhati Sosial dan Generasi)

Pembelajaran jarak jauh (PJJ) pada tahun ajaran ini masih terus berlanjut. Berbagai tantangan dan hambatan pun terbentang di hadapan para pendidik dan orangtua. Para pendidik mengalami kesulitan dalam menyampaikan pembelajaran ke para siswa tanpa tatap muka. Pun sebaliknya, para siswa merasa kelimpungan tanpa mendapatkan penjelasan dari guru secara langsung.

Tak hanya itu, pembelajaran jarak jauh juga membutuhkan fasilitas berupa gawai (laptop atau komputer dan smartphone) dan kuota data. Tak adanya fasilitas dari pemerintah untuk mendukung sekolah daring ini  membuat kesulitan siswa untuk mengakses teknologi sehingga pembelajaran pun tidak maksimal. Pasalnya, selama pandemi banyak orang tua yang mengalami dampak kesulitan ekonomi. Jika masih harus mengeluarkan biaya lagi untuk membeli smartphone dan kuota tentu sangat berat.

Ditambah lagi dengan faktor geografis yang berada di wilayah pegunungan atau wilayah yang jauh dari perkotaan kerap kesulitan memperoleh sinyal. Semakin membuat pembelajaran jarak jauh ini kurang efektif.

Sekolah kejuruan dengan materi pembelajaran yang lebih banyak pada praktik lapangan pun kesulitan dengan pembelajaran jarak jauh ini. Utamanya bagi siswa jurusan teknik. Tentu saja berkurangnya jam belajar praktik berpengaruh pada kualitas siswa.

Plt Kepala Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Dispendikpora) Kabupaten Tulungagung, Hariyo Dewanto Wicaksono, mengatakan bahwa dengan melihat berbagai kendala yang dialami oleh guru maka diberikan kebebasan pada tiap sekolah untuk mengatur sendiri teknis pembelajaran. Terpenting anak dapat memahami dan menguasai materi yang disampaikan. Untuk itu, diperlukan inovasi dan kreativitas setiap guru dan kepala sekolah. (radartulungagung, 5/8/2020)

Tercatat di Kabupaten Tulungagung sekitar 25 persen sekolah yang melakukan pembelajaran secara luring secara penuh. Sisanya memilih mengkombinasikan pembelajaran daring dan luring. (radartulungagung, 5/8/2020)

Berbagai problematika yang dihadapi teknis pembelajaran selama masa pandemi ini harus diperhatikan betul-betul oleh pemerintah. Jangan sampai pemerintah hanya mengeluarkan program kebijakan tanpa memberikan teknis detail pelaksanaan program. Jika hanya seperti itu maka jangan harap mendapatkan output siswa berkualitas.

Semestinya dalam kondisi pandemi ini, pemerintah memiliki kepekaan terhadap persoalan yang dihadapi masyarakat. Ketika memang pembelajaran jarak jauh dinilai efektif dalam masa pandemi, pemerintah harus menyediakan fasilitas penunjangnya supaya pembelajaran bisa efektif.

Tak pantas semuanya diserahkan pada pihak guru, sekolah, siswa, dan orang tua siswa. Jika sekolah memilih pembelajaran luring dengan mendatangi rumah siswa bergantian, memang memberikan dampak positif semakin terjalin kedekatan, akan tetapi pernahkah terpikir bagaimana kondisi guru? Sudahkah insentif guru diberikan secara layak? Jika sekolah memilih pembelajaran daring, samakah kondisi masing-masing siswa? Khawatirnya, kebijakan ini hanya akan membuat kesenjangan antar siswa semakin terbuka lebar. Yang mampu mendapatkan materi daring hanyalah siswa dari keluarga berada.

Sudahkah pemerintah memikirkan segala konsekuensi yang akan dihadapi ketika melakukan pembelajaran jarak jauh ini? Sudahkah ada solusi yang diberikan berupa teknis detail dan pemberian fasilitas penunjang demi suksesnya program kebijakan ini?

Pendidikan selayaknya dapat diakses dengan mudah oleh seluruh masyarakat. Karena pendidikan merupakan hak masyarakat yang harus dipenuhi pemerintah tanpa memandang status sosial.

Islam sangat memperhatikan pendidikan. Setiap masyarakat mendapatkan hak pendidikan secara gratis. Fasilitas penunjang pendidikan pun tersedia lengkap.

Berdasarkan sirah Nabi saw. dan tarikh Daulah Khilafah Islam (Al-Baghdadi, 1996), negara memberikan jaminan pendidikan secara gratis dan kesempatan seluas-luasnya bagi seluruh warga negara untuk melanjutkan pendidikan ke tahapan yang lebih tinggi dengan fasilitas (sarana dan prasarana) yang disediakan negara.

Kesejahteraan dan gaji para pendidik sangat diperhatikan dan merupakan beban negara yang diambil dari kas baitulmal. Sistem pendidikan bebas biaya tersebut didasarkan pada ijmak Sahabat yang memberikan gaji kepada para pendidik dari baitulmal dengan jumlah tertentu.

Pantaslah pada masa Kekhilafahan Islam melahirkan generasi berkualitas dan sektor pendidikan menjadi  mercusuar dunia.

Wallahu a'lam bishshawab.
 
Top