Oleh : Desi Wulan Sari 
(Member of Revowriter)

Tak akan bosan, selama pandemi berlangsung, dunia kesehatan akan menjadi isu terdepan di dunia. Kelelahan masyarakat di tengah-tengah wabah virus Covid-19 ini menggantungkan harapan pada pemerintah atas penanganan dan cara menghadapi pandemi ini bersama-sama. Namun harapan semakin jauh saat rakyat semakin  terpuruk akibat penanganan kesehatan yang semakin mahal, melonjak naik bahkan semakin sulit dijangkau. Obat anti virus Covid-19 yang sampai hari ini belum ditemukan membuat keresahan rakyat semakin kuat, mereka  berusaha nencari jalan keluar dari masalah kesehatan yang melanda negeri.

Akibat ketidakpercayaan publik atas permasalahan kesehatan negeri, membuat masyarakat banyak yang merasa perlu bertindak dengan mencoba membuat berbagai terobosan obat-obat penyembuh virus. Seperti yang dilansir media nasional Kompas.com, seorang Hadi Pranoto memperkenalkan diri sebagai Profesor sekaligus kepada Tim Riset Formula Antibodi Covid-19. Ia mengklaim telah menemukan obat antibodi Covid-19 yang bisa menyembuhkan ribuan pasien. Cairan antibodi Covid-19 tersebut diklaim telah menyembuhkan ribuan pasien di Wisma Atlet, dengan masa penyembuham 2-3 hari, dan obat ini juga telah didistribusikan di Pulau Jawa, Bali dan Kalimantan. (Kompas.com, 2/8/2020)

Akankah dipersalahkan apa yang telah dilakukan seorang Hadi Pranoto atas klaim penemuannya? Ternyata hal tersebut masih menjadi perdebatan dari kalangan praktisi kesehatan. Mereka mengatakan bahwa klaim yang dilakukan oleh Hadi Pranoto dapat menyesatkan publik. Lantaran obat cairan yang diklaimnya tidak teruji secara klinis dan resmi dari sebuah lembaga kesehatan. (detik.com, 2/8/2020)

Bahkan seorang Ahli Biologi Molekuler Independen, Ahmad Utomo menyebutkan bahwa salah satu masalah mendasar di Indonesia terkait obat atau pengobatan sebuah penyakit adalah "klaim". Menurutnya obat merupakan sesuatu hal yang highly regulated dan diperlukan Badan POM agar ada perlindungan kepada masyarakat yang mengkonsumsinya.

Jika melihat konteks di atas, masalah kesehatan dan gagasan setiap individu merupakan satu proses alamiah di tengah kondisi pandemi saat ini. Keinginan rakyat untuk bisa sembuh dari Covid-19 menjadi angin segar buat mereka atas berbagai  klaim penemuan obat yang mungkin dianggap manjur. Karena biasanya obat alternatif yang dijual lebih terjangkau harganya. Sehingga membuat harapan sembuh pada diri pasien semakin terbentang di depan mata.

Saat ini, obat antivirus Covid-19 memang secara resmi belum ditemukan oleh berbagai badan kesehatan manapun, bahkan dunia. Faktanya para dokter dan tenaga medis di berbagai kesempatan selalu mengingatkan masyarakat untuk menjaga kesehatan dan mematuhi protokoler saat beraktivitas, disebabkan pengobatan seorang pasien yang terkena virus Covid-19 dikategorikan berbiaya mahal, dan dikhawatirkan banyak masyarakat yang tidak mampu memenuhi kebutuhan biaya ini, akibat dampak perekonomian yang tidak merata, di tengah krisis pandemi. Berbagai rangkaian prosedur tes perlu dilakukan, alat dan akomodasi bagi sang pasien diperlukan sesuai standar penanganan, dan semua kebutuhan tersebut menelan biaya  pengobatan mencapai Rp290 juta/ pasien bahkan bisa lebih. (kompas.com, 29/6/2020)

Fenomena ini seakan menggambarkan, betapa pemerintah tidak mampu meyakinkan publik terhadap bahaya virus Covid-19 yang ada sekarang. Juga menegaskan bahwa masyarakat tidak bisa mengandalkan pemerintah untuk menemukan obat atas virus tersebut dan biaya yang super mahal itu.

Lantas, apakah harus disalahkan  “klaim” penemuam obat yang dilakukan seorang Hadi Pranoto? Mengapa masyarakat sangat antusias terhadap sebuah ”penemuan” seperti ini? Siapakah yang seharusnya bertanggung jawab pada kesehatan masyarakat?

Hidup dalam sistem yang tidak berpihak pada rakyat, layaknya sistem kapitalis saat ini menjadi tantangan tersendiri. Fasilitas kesehatan yang semestinya menjadi tanggung jawab negara tidak lagi diterima oleh rakyat. Jika rakyat ingin kesehatan dengan fasilitas yang baik, maka mereka harus "dipaksa" membayar mahal demi mendapat  fasilitas yang diinginkan. Jikapun ada support dari negara, itu hanya segelintir fasilitas ala kadarnya, dengan biaya lebih murah tentunya. Maka, janganlah heran ketika masa kritis pandemi masih berada di puncak persoalan, tentu fasilitas kesehatan mejadi satu hal yang urgensi kebutuhannya. Jika negara tidak sanggup memberikan pelayanan yang terbaik, tentu publik pun akan berusaha mencari celah, ide, jalan keluar alternatif atas persoalan ini. Semua itu akibat dari  tingkat kepercayaan publik pada pemerintah sangat rendah, hal ini menjadi bukti lagi dari kerusakan sebuah sistem kapitalis di dunia kesehatan.

Berbanding terbalik dengan penanganan kesehatan dalam sistem Islam. Kesehatan merupakan salah satu kebutuhan pokok yang harus disediakan oleh negara. Negara menjamin kebutuhan kesehatan setiap warga negaranya. Selalu menangani secara tuntas setiap persoalan penyakit yang dialami rakyatnya. Dibebaskannya biaya berobat terhadap rakyat  merupakan satu keharusan. Dan dianggap sebagai hak rakyat yang mesti mereka terima. Itulah kewajiban seorang kepala negara agar rakyatnya dipastikan mendapatkan pelayanan kesehatan terbaik, kapanpun, di manapun tanpa terbebani oleh biaya berobat yang mahal nantinya.

Islam memandang kesehatan sangat tinggi nilainya. Pemimpin negeri yang dikenal dengan sebutan khalifah akan memerintahkan para walinya untuk membangun fasilitas-fasiltas kesehatan baik berupa infrastruktur, tenaga medis, dan sarana penunjang lainnya di kota, desa, bahkan hingga ke pelosok-pelosok wilayah yang sulit dijangkau. Penemuan-penemuan serta pengembangan obat akan di uji secara berkesinambungan oleh para ahli kesehatan negara, demi memenuhi kebutuhan rakyatnya atas kesehatan. Pastinya, tidak akan ada pengabaian dari negara kepada seluruh rakyatnya

Kesehatan dalam Islam haruslah seimbang antara kesehatan jasmani (fisik) dan kesehatan rohani (batin), semua itu diberikan tanpa memisahkan keduanya. Tidak seperti sistem kesehatan kapitalis yang hanya melihat kesehatan hanya sebatas modal untung dan rugi semata. Maka, solusi tuntas atas urgensi kesehatan masyarakat adalah kembali kepada aturan Islam. Aturan yang disiapkan oleh Sang Maha Pencipta untuk digunakan sebagai jalan kemakmuran, kebahagiaan, keharmonisan bagi seluruh umat manusia. Dengan berpegang teguh pada aturan Allah, yaitu Al-Qur'an dan Hadis sebagai jalan keselamatan.

Wallahu a’lam bishshawab.
 
Top