Oleh : Tati Ristianti
komunitas Ibu Peduli Generasi

Pernikahan adalah sesuatu yang suci. Ada banyak kemuliaan di dalamnya. Kedudukannya sangat tinggi dalam Islam. Mencintai lawan jenis adalah fitrah manusia. Sayangnya, di Indonesia, menikah tidak boleh kurang dari 19 tahun. Pasangan yang siap menikah mesti melakukan dispensasi sampai cukup umur.

Dilansir dari JawaPos.com, "Sebanyak 240 permohonan dispensasi nikah tidak semuanya karena hamil terlebih dahulu. Melainkan, ada yang karena faktor usia belum genap 19 tahun sesuai aturan terbaru," ujar Ketua Panitera Pengadilan Agama Jepara, Taskiyaturobihah (Minggu 26/7)

Sementara itu, Dosen Departemen Hukum Perdata Fakultas Hukum Universitas Padjadjaran, Susilowati Suparto, mengatakan, "Peningkatan angka pernikahan dini di masa pandemi Covid-19 salah satunya ditengarai akibat masalah ekonomi. Kehilangan mata pencaharian berdampak pada sulitnya kondisi ekonomi keluarga."

Semestinya, saran Sonny, pengadilan jangan mempermudah izin dispensasi kawin. Fakta di lapangan, hampir 90 persen permohonan dispensasi perkawinan dikabulkan oleh hakim dan pernikahan dini rentan terjadi pada perempuan di pedesaan yang berasal dari keluarga miskin serta tingkat pendidikan yang rendah hingga minimnya akses terhadap informasi kesehatan reproduksi," pungkasnya KOMPAS.com

Negara membuat aturan namun tidak sesuai dengan potensi dan fitrah manusia. Aturan dibuat karena bertolak dari sistem sekuler-liberal. Nikah muda diikat dengan UU. Mereka menganggap bahwa pernikahan dini banyak mudharatnya.  Justru sebaliknya, pergaulan bebas dibiarkan. Kondisi ini ternyata diaamiini oleh kalangan remaja muslim.

Seorang remaja yang sudah menginjak usia 14-18 yang kesurupan oleh cinta akan rela melakukan apa saja untuk bisa mendapatkan apa yang dia cintai. 37 anak SMP yang juga baru viral adalah bukti bahwa pergaulan bebas dan seks bebas adalah efek dari tidak diperhatikannya oleh negara. Ketika ada yang ingin menikah muda, mereka langsung diancam oleh UU dan harus melalui tahap dispensasi.

Kalau sudah terlanjur hamil serta kebelet nikah, UU dan aturan negara tak lagi mengikatnya, akhirnya perzinaan sudah menjadi hal yang biasa. Baik orang itu miskin atau kaya, orang desa atau kota, serta tingkat pendidikan yang rendah maupun terpelajar. Ditambah dorongan dari luar yang sangat kuat, baik tontonan, pergaulan, lingkungan, masyarakat, dan sistem yang rusak. Semua kerusakan ini berawal dari maraknya perzinaan.

Khalifah 'Umar bin 'Abdul 'Azis menginstruksikan kepada walinya, beliau berkata, "Carilah para pemuda dan pemudi yang tidak mempunyai harta dan ingin menikah, nikahkanlah mereka dan bayarlah mas kawinnya."  Wali pun membalas titah sang khalifah, "Saya pun telah menikahkan mereka tetapi harta di Baitul Mal masih juga berlimpah." Begitulah, indahnya sistem Islam. Jika diterapkan dengan baik dan sempurna, hasilnya sungguh  luar biasa.

Dalam Islam, tidak ada dispensasi dan tak ada aturan usia. Jika sudah baligh, dianjurkan oleh agama untuk menikah. Sebab, pernikahan telah mengubah pintu-pintu dosa dan kekejian menjadi kemuliaan dan kesempurnaan manusia dalam beragama.

Wallahu a'lam bishshawab.
 
Top