Oleh : Imayanti Wijaya

Ibu Rumah Tangga & Member AMK



Geliat kesadaran umat mulai nampak nyata. Ide penerapan Islam Kaffah ataupun khilafah Islamiyyah yang semula dianggap tabu dan asing didengar, kini mulai membahana seantero jagat raya. Berbagai upaya untuk menghalangi dakwah, mulai dari persekusi,  propaganda, pembubaran kelompok dakwah dan lain sebagainya, nyatanya semakin membuat ide ini semakin tumbuh subur bak jamur di musim penghujan. Perlahan namun pasti dukungan umat berdatangan silih berganti.


Hal ini tentu memunculkan kekhawatiran pada diri para pembenci Islam. Kafir barat beserta para anteknya bereaksi keras terhadap setiap geliat kebangkitan umat. Seperti yang baru-baru ini terjadi, ketika presiden Turki memutuskan untuk merubah gedung bersejarah Aya Sophia di kota Istambul menjadi masjid. Keputusan ini memancing reaksi keras dari pemimpin AS, Rusia,Yunani, bahkan tokoh agama setingkat Paus Fransiskus.  Dewan Gereja Dunia  yang mewakili 350 gereja Kristen juga ikut bersuara, mereka menyesalkan perubahan status tersebut yang dianggap sebagai keputusan yang berlebihan dan hanya akan menimbulkan kecurigaan dan perpecahan antar masyarakat beragama. (Muslimah news.com 16/7/2020)


Keputusan ini kontan membuat nama Erdogan menjadi harum serta berjasa bak pahlawan. Presiden Turki ini dianggap berani membuat perubahan dan kebijakannya menjadi angin segar bagi kebangkitan Islam. Tidak sedikit yang menaruh harapan besar pada Erdogan dan menjadi kian simpatik akan kepemimpinannya, tanpa mengetahui lebih jauh bagaimana watak sebenarnya pemimpin Turki ini. Tidak banyak kaum muslimin yang mengetahui akan hangatnya hubungan perdagangan yang terjalin baik antara Turki dan Israel, padahal yang selama ini yang muncul ke permukaan adalah bahwa Erdogan dikenal sebagai sosok pemimpin yang berani melawan Israel.


Namun nyatanya apa yang dilakukan oleh Erdogan ini dinilai sebagai suatu ancaman yang menimbulkan trauma akut pada Barat. Hal ini dikarenakan presiden Turki ini  dianggap sebagai Neo-Ottoman, supremasi Khilafah Utsmaniyah yang telah melumpuhkan Eropa sejak abad 16. Sehingga mereka bersiap untuk bersikap tegas dalam mencegah kemunculannya kembali di masa yang akan datang.


Faktanya, reaksi keras akan diubahnya Aya Sophia menjadi masjid bukanlah satu-satunya peristiwa yang memancing kekhawatiran barat akan kebangkitan Islam. Di negeri ini pun bermunculan berbagai propaganda serta kebijakan yang menunjukkan sikap fobia pemerintah akan bangkitnya kembali Islam Kaffah.


Seperti ungkapan wakil presiden KH. Ma'arif Amin yang menyatakan bahwa masyarakat Indonesia yang beragama Islam tidak boleh membawa paham khilafah de dalam kehidupan kebangsaan karena hal tersebut melanggar kesepakatan yang ada dalam pancasila, UUD 1945 dan NKRI. Ia pun menyatakan bahwa para pendiri bangsa sudah menyelesaikan persoalan hubungan agama dan negara melalui kesepakatan nasional yang mengikat keindonesiaan hingga saat ini sebagai landasan berbangsa dan bernegara, yaitu Pancasila, UUD 1945, dan NKRI. (Beritasatu.com)


Oleh karenanya, khilafah ditolak di Indonesia karena menyalahi kesepakatan, bukan karena dinilai tidak Islami. Untuk itu dilakukan upaya menghilangkan paham radikal ini untuk mengikis paham yang tidak sesuai dengan paham kebangsaan.


Sikap anti Islam juga nampak dari digulirkannya kebijakan yang baru-baru ini dikeluarkan oleh Menteri Pendayagunaan Aparatur negara dan Reformasi Birokrasi, Tjahjo Kumolo yang menegaskan bahwa Aparatur Sipil Negara (ASN) yang terbukti terlibat dengan ide khilafah akan diberhentikan secara tidak hormat. Menurutnya hal ini sesuai dengan UU 5/2014 tentang ASN. Pada pasal 87 ayat 4 huruf b  dinyatakan bahwa ASN akan diberhentikan secara tidak hormat karena melakukan penyelewengan terhadap Pancasila dan UUD 1945. (Beritasatu.com)


Lebih lanjut Tjahjo menegaskan bahwa telah menjadi konsekuensi bagi ASN baik tingkat pusat ataupun daerah. Wajib hukumnya bagi ASN untuk menjaga dan mengamalkan ideologi Pancasila dan UUD 1945, setia dan mengabdi pada bangsa dan negara. Menurutnya ide khilafah adalah ancaman karena akan mengganti Pancasila sebagai ideologi negara.


Riak kebencian terhadap Islam  juga dirasakan ketika beberapa waktu lalu ramai dibicarakan, yaitu digulirkannya RUU HIP. Berbagai pihak menolak keberadaan RUU ini karena dinilai akan menghidupkan kembali ideologi komunis di Indonesia, dan ingin meminggirkan peran agama melalui ide yang diusungnya yaitu memeras Pancasila menjadi Trisila dan ekasila. Hingga nantinya ketuhanan dipaksa tunduk di bawah kemanusiaan.


Ketakutan terhadap kebangkitan Islam telah nampak begitu nyata. Kekhawatiran inilah yang mendorong berbagai tindakan serta kebijakan yang menunjukan sikap fobia terhadap Islam. Ideologi ini dianggap sebagai bahaya yang bisa mengancam jika kelak bangkit kembali. Seperti yang telah diketahui bersama, negeri ini adalah salah satu dari sekian banyak negara penganut kapitalisme sekuler. Dunia yang diwarnai oleh tiga ideologi besar yaitu Islam, Kapitalisme dan sosialisme, nyatanya tak dipungkiri meniscayakan terjadinya pertarungan sengit antara 3 ideologi.


Berakhirnya pemerintahan Islam setelah mampu berjaya dan menguasai ⅔ dunia selama hampir 13 abad lamanya, menjadikan kapitalisme berhasil menggantikan pemerintahan Islam dan menjadi negara adidaya. Kekuatan Islam yang telah susah payah mereka tumbangkan menjadi hal yang begitu dihindari untuk bangkit kembali. Munculnya pemerintahan Islam menjadi suatu ancaman yang menakutkan bagi mereka, karena hal itu akan menghentikan hegemoni barat  atas dunia dan mampu mengganggu kepentingan politik dan ekonomi barat di dunia Islam.


Saat kekhilafahan Turki Utsmani dibubarkan pada 3 Maret 1924 oleh Mustafa Kemal Attaturk, barat menobatkannya sebagai bapak pembangunan  dan pelopor Turki modern. Hal ini dimaksudkan agar Turki tetap berpegang pada sistem demokrasi sekuler dan tidak berubah kembali menjadi khilafah Islam. Dari sini kita mampu memahami mengapa barat begitu bereaksi ketika Aya Sophia diubah menjadi masjid, karena ketakutan akan bangkitnya kembali negara Islam begitu besar.


Barat dan para anteknya berharap Islam akan terbentuk sesuai keinginan mereka, umat Islam menjadi asing dengan khilafah yang menjadi perwujudan riil Islam politik. Barat takut jika model pemerintahan yang memadukan Islam sebagai way of life akan menjadi sesuatu yang dirindukan umat dan dijadikan sebagai jawaban atas segala keterpurukan dan kesengsaraan yang dialami umat selama ini. Apa alasan barat begitu takut kebangkitan Islam akan muncul kembali? Kebangkitan seperti apakah yang dikhawatirkan oleh barat?


Untuk mengetahui akan hakikat kebangkitan, penting bagi kita mengetahui makna dari kebangkitan itu sendiri. Kebangkitan (an-nahdhah) secara istilah adalah irtifa'ul fikr  yaitu meningkatnya atau tingginya  taraf berpikir. Landasan suatu kebangkitan yang benar adalah pemikiran. Adapun terkait pemikiran ini Syeikh Taqiyuddin An-Nabhaniy mendefinisikannya sebagai transformasi penginderaan terhadap fakta melalui panca indera ke dalam otak yang disertai adanya informasi yang terdahulu (ma'lumat tsabiqoh). 


Apabila kita ingin kebangkitan terwujud  maka harus dilakukan perubahan pada pemikiran manusia melalui perubahan yang mendasar dan menyeluruh. Perubahan pemikiran nantinya akan mewujudkan pemahaman dan akan berpengaruh pada tingkah laku. Hal ini merupakan ekspresi kebangkitan dan menjadi penentu tinggi atau rendahnya kebangkitan yang akan dihasilkan.


Adalah suatu hal yang keliru ketika mengukur kebangkitan hanya karena tindakan sesaat seorang pemimpin semisal Erdogan. Keputusannya mengubah aya sophia menjadi masjid dinilai sebagai langkah  maju akan bangkitnya kembali ideologi Islam. Padahal sejatinya sinyal kebangkitan Islam tidak bisa dinilai  dari kebijakan Erdogan, sayangnya tidak sedikit  pendukungnya yang begitu terkesan dengan kepribadiannya yang dikenal  sebagai sosok agamis dan  taat beragama.


Erdogan seolah bangkit melawan elite politik sekuler yang ditanam Kemal Pasha sejak keruntuhan Khilafah Islamiyyah 1924. Namun fakta menunjukkan sebaliknya, alih-alih mengupayakan kebangkitan seperti yang diharapkan oleh umumnya umat Islam, Erdogan justru memunculkan keakrabannya dengan Israel yang telah sekian lama menjadi musuh umat Islam.


Saat ini, meskipun  Allah belum berkenan memberikan pertolongan-Nya secara sempurna, namun perkembangan dakwah telah menunjukkan hasil yang menggembirakan. Hal ini bisa kita saksikan dari munculnya kesadaran umat yang mulai tidak  ragu menyuarakan Khilafah sebagai ajaran Islam, bangga mengibarkan panji Rasulullah  sebagai simbol kemenangan Islam, serta  berani “melawan” narasi busuk rezim dan kroni-kroninya yang mendiskreditkan Islam dan pejuangnya. 


Inilah yang menjadi penyebab ketakutan barat akan munculnya kembali kekuatan Islam yang dulu telah begitu lama memimpin dunia. Untuk itu mereka berupaya sekuat tenaga melakukan untuk menghentikan geliat kebangkitan umat ini. Benarlah kiranya firman Allah Swt. dalam Al Qur'an yang artinya:


“Mereka ingin memadamkan cahaya Allah dengan mulut (tipu daya) mereka, tetapi Allah (justru) menyempurnakan cahaya-Nya, walau orang-orang kafir membencinya (8). Dialah yang mengutus RasulNya dengan membawa petunjuk dan agama yang benar agar Dia memenangkannya di atas segala agama-agama meskipun orang musyrik membencinya(9).” (TQS Ash-Shaaf [61] : 8-9).


Umat juga semestinya tidak perlu terlalu  khawatir dengan berbagai upaya pembelokan isu atau penggiringan opini yang tidak menguntungkan umat Islam. Apa yang menimpa  umat saat ini, sejatinya pernah terjadi pada masa Rasulullah saw. dimana pada saat itu  menjadi sasaran narasi kebencian. 


Pada saat itu kafir Quraisy menggunakan berbagai propaganda seperti berdebat, menggugat, mencaci, melemparkan berbagai isu dan tuduhan. Propaganda itu juga digunakan untuk menyerang akidah Islam dan para pemeluknya, membusuk-busukkan dan menghina esensi ajaran Islam. Namun Rasulullah dan para sahabat terus menerus menggencarkan dakwah dan senantiasa menyeru manusia agar kembali ke jalan Allah.


Telah menjadi sunnatullah  dalam dakwah agar senantiasa bersedia  menanggung risiko perjuangan. Karena sikap teguh dan konsisten itu nyatanya membuat musuh-musuh Islam makin gentar dan kian kacau dalam menyusun langkahnya.


Keyakinan kafir barat akan kebangkitan umat melalui tegaknya kembali khilafah, semestinya membuat umat Islam lebih bersemangat lagi dalam memperjuangkan khilafah. Karena kemunculan Daulah Khilafah Islamiyyah bukan sekedar faktor ramalan atau prediksi, melainkan sebuah keniscayaan yang bersumber dari bisyarah (kabar gembira) yang disampaikan oleh  Rasulullah saw.:


"Kemudian akan ada lagi khilafah yang menempuh jejak kenabian.." (HR.Ahmad)


Semoga kita termasuk bagian yang memperjuangkan dan menyambut kabar gembira tersebut seraya tetap berpegang kepada tharîqah dakwah Rasulullah saw. dalam mewujudkan kembali Khilafah ‘ala minhâj an-nubuwwah. Amin.


Wallahu a'lam bishawaab

 
Top