Oleh : Echi Aulia
Pemerhati Remaja

Muda foya-foya, tua kaya raya, mati masuk surga.

Penggalan kalimat di atas merupakan sebuah slogan yang menggambarkan kehidupan anak muda zaman now. Namun, slogan tersebut tidaklah tepat. Bagaimana mungkin mudanya foya-foya kemudian matinya bisa masuk surga. Sayangnya seperti inilah kebanyakan potret kehidupan muda-mudi di negeri ini. Dimana masa mudanya hanya dihabiskan untuk mencari kesenangan duniawi.

Seperti yang terjadi pada Youtuber asal Palembang Edo Dwi Putra (24) yang aktif sejak 2019 lalu. Ia adalah seorang konten kreator, akun Youtube yang ia kelola awalnya adalah teaser video berita.

Namun, siapa sangka penghasilan yang ia raih mencapai Rp 5 juta. Ia pun berambisi untuk meningkatkan subscribers dengan cara membuat konten prank yaitu membagikan daging kurban yang berisi sampah. Lebih konyol lagi yang menerima sampah itu adalah ibu kandungnya sendiri. Demi meraup keuntungan, settingan pun ia jabani.

"Dari THR sampai daging isi sampah itu korbannya saya kenal semua. Karena orang terdekat saya," kata Edo saat di Polrestabes Palembang, Senin (kompas.com, 3/8/2020).

Meskipun ia sudah meminta maaf, tetapi tidak menutup kemungkinan akan lahir Edo-edo yang lain sebagai bukti rusaknya moral generasi muda saat ini. Padahal, baik buruknya suatu bangsa tergantung dari generasi mudanya.

Semua itu adalah hasil racikan sistem kapitalis yang menganut paham liberalisme. Dimana manusia bebas  berekspresi sesuai keinginannya. Pada era milenials yang serba digital ini, pemuda disuguhi banyak kemudahan dalam berkarya. Bahkan aturan Islam pun ditabrak, tidak peduli pada rambu-rambu dalam melakukan perbuatan.

Bila ditinjau dari kaca mata Islam, generasi muda adalah pewaris bangsa. Begitu pula dengan sosok ibu sebagai madrasatul ula, pendidik pertama bagi anaknya. Namun, apa yang kita lihat hari ini? Ibu pun ikut berperan dalam merusak moral generasi.

Generasi muda dididik bukan hanya sekedar sukses menghasilkan karya. Namun juga sukses melahirkan pribadi yang bertakwa. Seperti kesuksesan pendidikan generasi umat terdahulu yang ditentukan oleh dua kaidah dasar. Pertama, dibangun melalui genetika (al-wiratsah). Kedua, pembinaan yang benar (at-tarbiyah as-shahihah). Adapun pembinaan-pembinaan tersebut sering disebut dengan halqoh.

Untuk membangkitkan generasi saat ini tidak ada cara lain selain mencontoh cara Rasulullah saw. Yaitu dengan pembinaan-pembinaan.

Dalam pembinaan Rasulullah saw. menyentuh pemikiran para sahabat. Sehingga, akidah yang mereka peroleh adalah akidah melalui proses berfikir. Para sahabat diminta untuk selalu mengaitkan akidah dan ketaatan terhadap hukum syara'. Sehingga, pola pikir para sahabat berlandaskan akidah Islam dan perbuatan mereka selalu terikat dengan hukum syara'. Pembinaan yang mengantarkan kepada pola pikir Islam dan pola sikap Islam.

Wallahu a'lam bishshawab.
 
Top