Fitriani, SKM
(Aktivis Dakwah Kampus) 


Indonesia saat ini dihebohkan dengan pernyataan terkait obat atau herbal yang katanya bisa menyembuhkan covid-19 ini.  Hadi pranoto seseorang yang memperkenalkan diri sebagai Profesor sekaligus kepala Tim Riset Formula Antibodi Covid 19. Profesor Hadi diwawancara yg terkait penemuan obat atau herbal tersebut. Ia mengatakan bahwa cairan anti bodi covid-19 yang ditemukan bisa menyembuhkan ribuan pasien covid-19.Sebagai penguat obat tersebut agar dipercaya uji nya beliau telah mendistribusikan cairan anti bodi tersebut ke pulau Bali, Jawa dan Kalimantan.Bukan itu saja Hadi menyebutkan telah memberikan cairan anti bodi covid-19 kepada para pasien di wisma Atlet dengan proses sembuh bisa sampai 2-3 hari. (Kompas.com).

"Obat itu perlu di Uji Klinis"

Ahli biologi molekuler independent, Ahmad Utomo mengatakan "salah satu masalah paling dasar di negeri kita tentang obat atau pengobatan sebuah penyakit adalah Klaim". Masalah di indonesia dan masyarakat awam itu salah satunya terkait klaim makanya kita punya BPOM agar masyarakat terlindungi dan aman dalam mengkonsumsi obat.  tutur, Ahmad.(Kompas.com)

Bahkan saat ini pun belum ada ilmuwan yang bisa meyakini adanya obat yang teruji untuk menangani Covid-19 ini. Obat herbal mungkin bisa berefek baik bagi pasien yang memiliki gejala ringan tapi tidak untuk gejala berat, maka diperlukan penanganan khusus dan perhatian lebih terkait penyakit Covid-19 pada pasien. 

"Lemahnya kepercayaan masyarakat kepada Pemerintah"

Covit-19 sudah begitu lama terjadi hingga saat ini pun kondisi semakin mencekam data menunjukkan bahwa angka positif Covid sebesar121.226, bansos yang tiada habisnya menjadi rebutan, kemiskinan yang marak terjadi dikutip dari data Badan Pusat Statistik mencatat angka kemiskinan per maret 2020 mengalami kenaikan menjadi 26,42 juta orang. Perdagangan pasar pun menurun drastis dari segi ekonomi. Pemerintah yang hanya bisa membuat kebijakan tanpa melihat realita di depan mata. Bulan semakin hari berganti masyarakat pun sudah pupus harapan, ingin meminta? bantuan sulit untuk datang, pembagian masker pun masih menjadi rebutan. Miris bukan?

Masyarakat pun beranggapan covid 19 bukanlah suatu ancaman lagi sudah menjadi hal biasa ketika kita melihat kebijakan yang dulunya ditetapkan oleh pemerintah hanyalah omongan lalu semata. Masyarakat masih bepergian untuk hal-hal yang tidak penting seperti nongkrong, hangout dan lain-lain. Seakan-akan covid-19 ini hanyalah ilusi semata. pun tidak lagi dengar tidak lagi diterapkan oleh masyarakat, nyatanya masih ada yang bandel tidak menggunakan masker, berjabat tangan tanpa mencuci tangan dan banyak lagi. Ini  tanda bahwa masyarakat sudah lelah dan tidak percaya lagi kepada pemerintah, kita diminta untuk bertahan hidup di tengah pandemi "jika mati ya itu sudah menjadi takdir".  

" Fungsi Negara :Cara Islam menangani wabah"

Pertama : Dari segi makanan nya

Islam adalah agama pencegahan. Telah banyak disebutkan bahwa Islam mewajibkan kaum muslim untuk ber-ammar ma’ruf nahiy munkar.  menyeru kepada kebaikan dan mencegah kepada kemunkaran. Pembinaan pola baku sikap dan perilaku sehat baik fisik, mental maupun sosial, pada dasarnya merupakan bagian dari pembinaan Islam itu sendiri.

Islam memang telah memerintahkan kepada setiap orang untuk mempraktikkan gaya hidup sehat, pola makan sehat dan berimbang serta perilaku dan etika makan. Misalnya diawali dengan makanan. Allah SWT telah berfirman: “Makanlah oleh kalian rezeki yang halal lagi baik yang telah Allah karuniakan kepada kalian” (TQS. [16]:114)

Kedua : Ciptakan Sarana dan Prasarana yang harus dilaksanakan ditengah wabah

Pelayanan dan kesehatan berkualitas hanya bisa direalisasikan jika didukung dengan sarana dan prasarana kesehatan yang memadai serta sumber daya manusia yang profesional dan kompeten. Penyediaan semua itu menjadi tanggung jawab dan kewajiban negara. Karenanya negara wajib membangun berbagai rumah sakit, klinik, laboratorium medis, apotek, lembaga litbang kesehatan, sekolah kedokteran, apoteker, perawat, bidan serta sekolah kesehatan lainnya yang menghasilkan tenaga medis. Pelayanan kesehatan harus diberikan secara gratis kepada rakyat tanpa mendiskriminasi.

Pembiayaan untuk semua itu diambil dari kas Baitul Mal, baik dari pos harta milik negara maupun milik umum. Maka dengan begitu, apabila terjadi kasus wabah penyakit menular dapat dipastikan negara dengan sigap akan membangun rumah sakit untuk mengkarantina penderita, atau membangun tempat karantina darurat. Serta mendatangkan bantuan tenaga medis yang profesional untuk membantu agar wabah segera teratasi. 

Ketiga : Negara harus menciptakan Obat atau Vaksin untuk Umat

Umat Islam terdahulu mengembangkan ikhtiar baru mengatasi Pandemi, yakni vaksinasi. Cikal bakal vaksinasi itu dari dokter-dokter muslim zaman Khilafah Utsmani, bahkan mungkin sudah dirintis di jaman Abbasiyah.Sebagai muslim kita harus waspada dan optimis sekaligus. Waspada, bahwa virus  ini bisa menyebar ke negeri-negeri muslim yang lambat mengantisipasi. Namun juga optimis bahwa untuk setiap penyakit, Allah pasti juga menurunkan obatnya.

Negara akan mengintensifkan upaya menemukan vaksin Corona, lalu menawari Cina bantuan mengatasi pandemi corona, baru kemudian memaksa Cina mengubah politiknya, dari yang tidak pro Muslim, ke pro Muslim, contohnya kasus Uighur. Sekaligus agar Cina membuka pintu untuk dakwah Islam yang seluas-luasnya. 

Wallahu a’lam Bisshawab. 



 
Top