Oleh : Murni, SE.
Pemerhati Sosial

Pandemi global telah memicu perebutan untuk membuat vaksin. Di berbagai belahan dunia Covid-19 tengah menjadi sebuah momok yang sangat menakutkan dan telah menjadi catatan sejarah baru dalam dunia kesehatan tak terkecuali di Indonesia.

Pemerintah Indonesia hingga kini terus mengambangkan vaksin COVID-19 dalam negeri yang nantinya dinamai Vaksin Merah Putih. Selain mengembangkan vaksin buatan sendiri, Indonesia juga tengah bekerja sama dalam pengembangan vaksin buatan perusahaan biofarmasi asal Cina Sinovac Biotech melaui perusahaan pelat merah (BUMN) PT Bio Farma dengan memproduksi sebanyak 250 juta dosis vaksin setiap tahunnya.

Pengembangan vaksin virus corona buatan Sinovac tersebut telah memasuki fase uji klinis tahap tiga. Bahkan, Indonesia menjadi salah satu tempat uji klinis vaksin tersebut. Nantinya uji klinis tahap tiga akan dilakukan di Bandung mulai Agustus mendatang selama enam bulan, bekerja sama dengan Universitas Padjadjaran.

Sebanyak 2.400 dosis vaksin COVID-19 dari China sedang dilakukan uji coba di Indonesia. Uji klinis ini akan melibatkan sebanyak 1.620 relawan yang berusia 18-59 tahun, dan berlokasi di enam titik yang telah ditentukan di Kota Bandung.

Namun, sebagai negara dengan mayoritas penduduknya muslim, muncul kekhawatiran terkait label halal serta keefektifan  vaksin corona buatan Negeri Tirai Bambu tersebut, meski Sinovac sendiri sudah berpengalaman dalam pengembangan vaksin beragam virus yang menjadi epidemi maupun pandemi, seperti SARS, flu domestik, maupun flu yang disebabkan virus H1N1.

Kerjasama antara BUMN Biofarma dengan Perusahaan Swasta China Sinovac menuai berbagai polemik. Pasalnya kerjasama ini dinilai hanya dijadikan lahan bisnis untuk mendapatkan keuntungan.

Anggota Komisi IX DPR Saleh Partaonan Daulay khawatir uji klinis vaksin Covid-19 Sinovac hanya dijadikan bisnis antara Pemerintah Indonesia dan China. Sebab, uji klinis vaksin ini dilakukan dengan pendekatan business to business (B2B), bukan government to government (G2G). (Sumber. Com)

Menurut dia, vaksin Covid-19  sebaiknya diuji coba dulu di negara asalnya di China baru kemudian dijual di Indonesia. Selain untuk memastikan keamanan dari 1.620 orang relawan yang akan disuntikkan vaksin tersebut, hal ini penting agar masyarakat tidak mempersepsikan para relawan tersebut sebagai kelinci percobaan bagi vaksin itu. Di samping juga kekhawatiran rakyat yang semakin bertambah dengan ketidakpercayaan hasil alat rapid test yang nyaris positif dan berasal dari negeri China ini.

Islam mewajibkan negara tidak menjadikan faktor keuntungan sebagai pertimbangan utama pengambilan kebijakan. Negara harus berorientasi maslahat umum yakni mendapatkan obat yang tepat dengan memfokuskan pada aspek kelayakan (halal-haram)  dan keamanan. Bukan aspek keuntungan.

Sebab persoalan Covid-19 adalah persoalan kemanusiaan, nyawa rakyat yang dimana hal itu adalah tugas negara dalam menjamin kesehatan bagi seluruh rakyatnya serta memberikan pelayanan yang maksimal. Seperti Bimaristan yang dibangun oleh Nuruddin di Damaskus tahun 1160 telah bertahan selama tiga abad dalam merawat orang-orang sakit, tanpa bayaran dan menyediakan obat-obatan gratis. Para sejarahwan berkata, bahwa cahayanya tetap bersinar tidak pernah padam selama 267 tahun.

Selain itu pasien memperoleh perawatan, obat, dan makanan gratis juga berkualitas, para pasien juga diberi pakaian dan uang saku yang cukup selama perawatan. Hal ini berlangsung selama tujuh abad. Sekarang, rumah sakit ini digunakan untuk opthalmology dan diberi nama Rumah Sakit Qalawun di Kairo, Mesir.

Di samping itu juga dalam Islam masalah kepemilikan dibagi menjadi 3 bagian yaitu kepemilikan individu, masyarakat dan negara, sebagai subyek ekonomi yang mempunyai hak-hak kepemilikan tersendiri yang ditetapkan berdasarkan ketentuan syariah.

Termasuk BUMN Bio Farma yang harus dikelola penuh oleh negara dengan memberikan pengobatan gratis serta pelayanan prima, sebab jika BUMN dan perusahaan swasta menjalin kerjasama maka tidak dipungkiri orientasinya akan berubah haluan ke arah keuntungan semata. Wallahu a'lam bishshawab.
 
Top