Oleh : Deny Rahma
(Anggota Komunitas Setajam Pena)

Hingga saat ini vaksin untuk Covid-19 belum juga ditemukan, padahal korban yang berjatuhan karenanya sudah mencapai ribuan. Ada 53 pasien Covid-19 yang tutup usia dalam periode 13 - 14 Agustus 2020. Dengan demikian, total pasien Covid-19 yang meninggal di Indonesia ada 6.021 orang.

Indonesia tengah berupaya menemukan vaksin SARS-CoV-2 secepat mungkin. Tak hanya di dalam negeri saja, akan tetapi para pakar di bidang kesehatan seluruh dunia juga berlomba untuk menemukannya. Disinyalir untuk mengembangkan vaksin tesebut sudah dilakukan antara BUMN PT. Biofarma dengan Produsen Vaksin Sinovac biofarmasi asal Cina. Sinovac merupakan salah satu dari empat perusahaan dunia yang melakukan pengembangan tahap akhir vaksin Covid-19. Sinovac sendiri digadang-gadang sudah berpengalaman dalam pengembangan vaksin beragam virus yang menjadi epidemi maupun pandemi, seperti SARS, flu domestik, maupun flu yang disebabkan virus H1N1. Sebelumnya, sebanyak 2.400 dosis vaksin dari Sinovac, Cina, tiba di Bio Farma pada 19 Juli 2020. Uji klinis vaksin ini dilaksanakan di Pusat Uji Klinis yaitu di Fakultas Kedokteran UNPAD, yang akan mengambil sampel sebanyak 1.620 subjek dengan rentang usia antara 18-59 tahun, dengan kriteria-kriteria tertentu. Pada tahap ini untuk uji klinis calon vaksin, Pemerintah menonjolkan aspek keuntungan yang didapat  oleh Indonesia berupa alih teknologi dan keuntungan ekonomi dari produksi yang akan dilakukan di dalam negeri.

Dikutip dari Kompas.com (24/7/2020), Sekretaris Perusahaan PT Bio Farma Bambang Heriyanto mengungkapkan kerja sama tersebut akan menguntungkan Indonesia. Menurutnya, ada proses transfer teknologi yang dilakukan Sinovac kepada Bio Farma. “Jadi, dari teknologi yang diberikan ke kami, walau nanti mulainya dari downstream baru nanti ke upstream,” ujarnya. Nantinya, bahan aktif diberikan ke Bio Farma, selanjutnya baru akan diracik dan diformulasikan di Indonesia. Keuntungan lainnya, kata Bambang, uji coba ini bakal memberi informasi terkait respons vaksin pada penduduk Indonesia. Dengan demikian, kecocokan vaksin bakal dapat diketahui ketimbang membeli vaksin dari luar yang belum diuji di Indonesia.

Fakta kerjasama yang dilakukan BUMN dengan produsen vaksin juga patut mendapat perhatian. Jangan sampai menjadi kerjasama swasta (B to B) yang memonopoli kepentingan umum demi keuntungan segelintir pihak. Sementara fakta sebelumnya menunjukkan beberapa kasus ketidaklayakan produsen vaksin asal Cina yang berada di bawah standar WHO. Hal ini ditakutkan akan mengancam keberlangsungan hidup masyarakat. Maka sudah semestinya saat ini lebih waspada dan ekstra hati-hati karena hal ini berkaitan dengan hajat hidup manusia.

Dalam Islam nyawa seseorang sangatlah mahal haganya. Islam juga mewajibkan negara tidak menjadikan faktor keuntungan sebagai pertimbangan utama pengambilan kebijakan. Negara harus berorientasi kepada kemaslahatan umum yakni mendapatkan obat yang tepat dengan memfokuskan pada aspek kelayakan dan keamanan. Bukan aspek keuntungan, layaknya negara yang berideologi kapitalis. Mencari keuntungan di berbagai keadaan, bahkan di keadaan terburuk sekalipun. Karena dalam Islam sudah jelas diatur bahwa kesehatan dan keamanan disejajarkan dengan kebutuhan pangan, hal ini mengindikasikan bahwa kesehatan adalah kebutuhan dasar yang harus dipenuhi oleh negara.

Dalam Islam, negara (khilafah) juga harus berperan sebagai penjaga, pengayom dan pemberi edukasi bagi masyarakatnya. Sehingga tak akan terjadi monopoli kepentingan berbasis keuntungan yang terjadi di kalangan elit seperti sekarang ini. Negara wajib memenuhi seluruh kebutuhan warganya di bidang kesehatan seperti pengadaan pabrik yang memproduksi peralatan medis dan obat-obatan, menyediakan SDM kesehatan, baik dokter, apoteker, perawat, psikiater, akupunkturis, penyuluh kesehatan, dan lain sebagainya.

Tak lupa negara pun juga harus berperan sebagai pengedukasi bagi warganya, sehingga paham bagaimana berperilaku sehat selama hidup. Pelayanan kesehatan harus diberikan secara gratis kepada rakyat tanpa diskriminasi. Islam juga meyakini bahwa untuk setiap penyakit, Allah pasti juga menurunkan obatnya. Sehingga terciptalah keadaan yang kondusif walaupun pandemi terjadi.

Wallahu a’lam bishshawab.
 
Top