Oleh : Hamsia
(Komunitas Peduli Umat)

Miskin. Satu kata yang menyakitkan yang terdengar biasa saja di telinga kita. Satu kata yang menyimpan tangisan, penderitaan, ketidaknyamanan dan penuh harapan. Seperti baru-baru ini apa yang disampaikan oleh Presiden Jokowi di Istana Merdeka, Jakarta Rabu 5 Agustus 2020 menyampaikan, ada 10 provinsi dengan prevalensi stunting tertinggi di Indonesia. Ke-10 provinsi yang dimaksud yakni Nusa Tenggara Timur, Sulawesi Barat, Nusa Tenggara Barat, Gorontalo, Aceh, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Kalimantan Barata, Sulawesi Tenggara dan Sulawesi Tengah.

Dikonfirmasi atas data tersebut, PIt Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Sultra, dr. Muhammad Ridwan mengatakan, kurangnya pemahaman orang tua terhadap manfaat asupan gizi menjadi penyebab.

Pemahaman orang tua dianggap rendah untuk kesadaran pentingnya asupan gizi kepada ibu saat hamil, anak di masa perkembangan. Faktor lain yang berpengaruh yakni lingkungan dan ekonomi. (MEDIAKENDARI.com, 28/8/2020)

Stunting yang ada di negeri ini bukanlah perkara baru, sebelum adanya pandemi Corona, stunting sudah terjadi. Permasalahan stunting dalam sistem kapitalisme saat ini tidak akan pernah selesai, baik dengan berbagai macam solusi yang dapat menyelesaikan segala problem kehidupan yang terjadi saat ini karena dalam Islam, negara bertanggung jawab dalam mengurusi rakyatnya dalam hal memberi kesejahteraan terhadap rakyatnya dalam berbagai sektor baik ekonomi, ekonomi, pendidikan dan sebagainya.

Sungguh miris potret kehidupan saat ini. Permasalahan kasus gizi buruk tidak hanya penyebab langsung dari kekurangan nutrisi atau infeksi, tidak lain merupakan dampak dari akumulasi berbagai persoalan akibat dari sistem kapitalisme saat ini, seperti ekonomi, pendidikan dan kesehatan.

Krisis ekonomi memperburuk keadaan. Pengangguran semakin meningkat karena rendahnya penyerapan tenaga kerja akibat dari minimnya lapangan pekerjaan yang disediakan oleh pemerintah dengan adanya sektor non-riil (lembaga keuangan dan perbankan), sehingga masyarakat memiliki penghasilan yang rendah untuk memenuhi kebutuhan baik sandang maupun pangan dan terutama adalah pendidikan.

Menyebabkan masyarakat sulit untuk memenuhi kebutuhan hidup yang semuanya serba mahal. Harga beras dan makanan pokok lainnya yang mengalami kenaikan, dikarenakan pemerintah lebih banyak mengimpor daripada menggunakan hasil produksi negara sendiri. Akhirnya petani merugi, dan lagi-lagi petani miskin.

Dengan demikian hal ini telah mendorong angka kemiskinan terus naik. Tidak heran jika masyarakat tidak dapat membeli bahan makanan mereka dengan pemenuhan gizi yang tepat. Ditambah lagi pelayanan kesehatan baik fasilitas atau sumber daya manusianya yang kurang memadai serta sulitnya keterjangkauan. Apalagi saat ini pelayanan menggunakan BPJS juga sudah terbatas untuk beberapa penyakit, semakin memperparah kondisi masyarakat.

Sejatinya, kemiskinan yang harus dipecahkan adalah kemiskinan yang menimpa individu, sehingga yang harus dilakukan adalah menjamin pemenuhan kebutuhan pokoknya serta mendorong mereka untuk memenuhi kebutuhan sekunder dan tersiernya, dan jalan untuk mencapainya adalah dengan menciptakan distribusi ekonomi yang adil di tengah-tengah masyarakat.

Pada umumnya kemiskinan yang menimpa masyarakat disebabkan oleh kekeliruan sistem, dalam hal ini peranan negara. Selama orde baru kebijakan ekonomi pemerintah bertumpu pada pertumbuhan ekonomi bukan pada distribusi ekonomi. Sehingga meskipun berhasil menciptakan pertumbuhan ekonomi yang tinggi, pemerintah tetap gagal mengurangi kesenjangan apalagi menciptakan distribusi ekonomi yang adil.

Sesungguhnya kasus gizi buruk masih menjadi permasalahan yang belum terselesaikan secara tuntas. Padahal, permasalahan gizi buruk pada balita adalah permasalahan yang serius. Karena hal ini bisa mengancam keberlangsungan generasi mendatang. Hal itu karena solusi yang ditawarkan belum menyentuh akar permasalahan yang ada. Sebagaimana program yang dicanangkan pada peringatan Hari Gizi Nasional (HGN) tahun ini pun belum menyentuh subtansi akar permasalahan dari gizi buruk itu sendiri. Kita lihat program yang diberikan adalah bagaimana mewujudkan gizi seimbang untuk ibu dan balita dan bagaimana pengetahuan makanan apa yang sangat diperlukan untuk mereka.

Hal ini memang perlu diberikan agar masyarakat paham. Namun, apalah arti pengetahuan ini jika sebagian mereka yang berada pada kondisi gizi buruk nyatanya adalah mereka yang kesulitan untuk mendapatkan makanan, dikarenakan kondisi ekonomi yang terpuruk.

Pada masa sekarang, kebijakan ekonomi pemerintah semakin jauh keberpihakannya pada rakyat. Berbagai subsidi yang sangat dibutuhkan rakyat satu per satu mulai dikurangi dan dicabut.

Dalam Islam, pemimpin adalah penanggung jawab urusan dan kemaslahatan rakyat dan dia akan dimintai pertanggungjawaban atas hal itu di hadapan Allah Swt. Nabi saw. bersabda, “Seorang imam (pemimpin) pengatur dan pemelihara urusan rakyatnya, dia akan dimintai pertanggungjawaban atas urusan rakyatnya.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Sungguh ironi setiap seorang pemimpin terpilih sebagai bupati, walikota, presiden, ketua DPR dan MPR, mereka beserta para pendukungnya bersuka cita dan mengucapkan selamat. Padahal terpilihnya seseorang sebagai pemimpin adalah satu pertaruhan antara neraka dan surga. Mereka akan memikul amanah yang sangat berat, apakah rakyatnya pada derajat yang lebih tinggi ataukah berbuat zalim terhadap rakyat.

Berdasarkan hadits Nabi saw. tersebut, seharusnya fungsi pemimpin adalah pemelihara dan pengatur urusan rakyat. Ini berarti dalam bidang ekonomi pemerintah harus mengupayakan kesejahteraan bagi setiap rakyatnya melalui pengaturan distribusi kekayaan yang adil dengan berlandaskan pada hukum syara.

Dengan demikian hanya sistem Islam yang mampu memberikan pelayanan sebaik-baiknya kepada rakyatnya. Karena semua itu merupakan tanggung jawab negara. Pada masa pemerintahan Khalifah Umar bin Khattab bagaimana dia mengurusi rakyatnya, setiap malam datang dan tidak pernah tidur nyenyak. Hal ini terjadi karena beliau khawatir jika masih ada anggota masyarakatnya kelaparan.

Alhasil, Khalifah Umar sering melakukan sidak ke rumah-rumah penduduknya untuk melihat bagaimana kondisi rakyatnya, dan ketika mengetahui ada salah satu keluarga yang belum makan, beliau pun rela memanggul sendiri bahan pokok untuk diantar ke keluarga tersebut. Sungguh luar biasa fenomena yang mungkin jarang dilakukan oleh pemimpin negeri ini.

Sejatinya, hanya sistem Islamlah yang mampu menyelamatkan generasi dari bahaya gizi buruk dan mendapatkan keberkahan hidup, maka campakkan sistem yang rusak ini dan terapkan Islam secara menyeluruh. Allah Swt. berfirman, “Jika sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah kami melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat kami) itu, maka kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.” (QS. al-A’raf [7] : 96)

Wallahu a’lam bi ash-shawab.
 
Top