Oleh : Mulyaningsih
Pemerhati masalah anak, remaja dan keluarga

Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DPPPA) Kota Banjarmasin kesulitan meredam kasus pernikahan siri anak di bawah umur yang terjadi di Kota Seribu Sungai itu. Kepala Dinas PPPA Kota Banjarmasin Iwan Fitriadi mengatakan, hal itu terjadi lantaran pernikahan tersebut terjadi di luar Kantor Urusan Agama (KUA) setempat, sehingga tidak tercatat dalam registrasi. Kendati demikian ia menegaskan, pernikahan siri terhadap anak dibawah umur sudah tidak diperbolehlan lagi. Menurutnya hal tersebut sesuai dengan Undang-udang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan yang telah mengalami perubahan.

“Jadi usia kawin untuk perempuan tidak lagi 16 tahun, sekarang disamakan dengan laki-laki, yaitu 19 tahun,” tegasnya

Kepala Dinas yang akrab disapa Iwan itu memastikan, anak yang berusia di bawah ketentuan tidak bisa melakukan pernikahan melalui KUA di Kota Banjarmasin. Ia menjelaskan, kondisi tersebut merupakan salah satu penyebab terjadinya kekerasan terhadap anak dan kekerasan dalam rumah tangga (KDRT). (kalselpos.com, 27/07/20)

Pernikahan dini alias nikah muda seolah menjadi hal yang seram, menakutkan bahkan horor di sistem sekarang. Berbagai usaha dilakukan agar tak terjadi pernikahan dini. Namun, di sisi lain fakta membuktikan bahwa di tengah masa pandemi ini, justru angka pernikahan dini makin bertambah. Mengapa bisa terjadi demikian? Sebenarnya apa yang menjadi permasalahan, sistem yang salah atau nikah dininya? Itulah pertanyaan yang mungkin terbersit dalam pikuran kita.

Menikah merupakah salah satu aktivitas dua insan yang begitu sakral. Bahkan, bernilai ibadah, menyempurnakan separuh agama. Selain itu, menikah merupakan sunnah Rasul. Tentunya menjadi tujuan setiap insan untuk bisa melangsungkannya. Jika telah mampu maka lakukanlah dan jika beljm mampu maka tahanlah dengan berpuasa. Sebagaimana sabda Nabi saw.

"Wahai para pemuda! Barangsiapa di antara kalian berkemampuan untuk menikah, maka menikahlah, karena nikah itu lebih menundukkan pandangan, dan lebih membentengi farji (kemaluan). Dan barangsiapa yang tidak mampu, maka hendaklah ia shaum (puasa), karena shaum itu dapat membentengi dirinya.” (HR Bukhari, Muslim, Tirmidzi, dan lainnya).

Melihat dari sisi pernikahan, bahwa itu adalah aktivitas yang sakral dan penuh nilai ibadah. Bahkan kaum Muslim tentunya sepakat dan paham benar bahwa menikah adalah bagian dari ibadah. Tak ada yang salah ketika sepasang pemuda ingin melangsungkan pernikahan. Hanya saja ada aturan yang mesti mereka ketahui bersama. Hal ini terkadang luput dari pemahaman masyarakat pada umumnya.

Ketika sepasang remaja ingin melangsungkan pernikahan, setidaknya ada persyaratan yang harus dipenuhi. Tentunya baligh menjadi syarat utama. Tak hanya dalam soal biologis semata, namun sisi pola pikir dan sikap harus baligh juga. Terkadang di masyarakat memandang baligh hanya seputar umur. Padahal dalam Islam, baligh ini berbeda antara orang yang satu dengan yang lain. Artinya akan berbeda antara satu dengan yang lainnya.

Seseorang dikatakan baligh jika ia telah melewati fase biologisnya. Artinya sudah memikul sendiri kewajiban untuk selalu terikat terhadap hukum Allah. Hal ini yang kadang belum dimengerti oleh semuanya. Ketika baligh berarti dia mampu mengambil segala sesuatunya hanya berasal dari Islam saja bukan yang lain. Lantas mengapa remaja sekarang tak mengetahui akan hal itu?

Kapitalis sekuler yang dibalut oleh liberalisme akhirnya membuyarkan pemahaman Islam pada diri-diri pemuda saat ini. Mereka lebih menyukai pemahaman tersebut ketimbang Islam. Gaya hidup hedonis yang saat ini mengakar kuat menimbulkan masalah yang nyata. Tentunya semua akan berefek pada pemahaman mereka. Begitu pula ketika mereka ingin membangun rumah tangga. Konsep yang mereka jalankan jauh dari Islam, sehingga bangunan yang dibentuk tak kuat terhadap terpaan yang ada. Kemudian jauh sebelum pelaksanaan pernikahan, bebasnya bergaul inilah yang diduga kuat menjadi biangnya. Di sistem sekarang, pergaulan antara pria dan wanita dibebaskan tanpa ada kejelasan aturan. Sebagai dampaknya, hamil di luar nikah menjadi fenomena umum di masyarakat. Dan nikah dini menjadi solusi yang wajib dilakukan. Padahal bisa jadi mereka belum memahami seluk beluk pernikahan, termasuk berbagai fungsi dan kewajiban antara suami dan istri

Pandangan Islam

Islam mengatur pola hubungan manusia dengan manusia lainnya. Dalam hal ini remaja sangat rentan adanya, karena mereka sedang mencari jati diri serta ingin tahu tentang dirinya. Tanpa mau memikirkan dan merujuk pada Islam (sebagai agama yang dia anut). Hal tersebut tidak lain adalah karena adanya pemahaman sekuler yang ada dibenak mereka. Dalam urusan duniawi, maka Islam tidak boleh mengaturnya. Tak hanya itu budaya pergaulan bebas (liberalisme) telah mengakar kuat dalam benak mereka. Dan akhirnya pergaulan mereka tanpa ada batasan yang jelas. Begitupun dalam hal penyaluran naluri yang ada dalam diri mereka, utamanya adalah naluri kasih sayang. Mereka akhirnya menumpahkannya lewat perbuatan-perbuatan yang tak selaras dengan Islam. Pacaran, itulah gambaran penumpahan kasih sayang kepada sesama. Dan akhirnya mereka terjerumus dalam kubangan perbuatan keji yaitu zina.

Untuk mengatasi seluruh hal tersebut, tentu saja tidak mudah, memerlukan solusi menyeluruh. Bukan hanya saat terjadinya pernikahan sebagai gerbang pembentukan keluarga, namun jauh sebelum itu. Perlu usaha pembentukan pemahaman yang benar mengenai konsep keluarga. Terkait dengan fungsi dan posisi sebagai seorang istri atau suami. Terkait pula dengan hak dan kewajiban keduanya.

Dasarnya adalah kembali kepada Islam sebagai pedoman hidup seluruh manusia, termasuk dalam hal membangun keluarga tangguh. Selain itu, permasalahan keluarga di negeri ini tak cukup diserahkan hanya pada individu-individu semata, perlu peranan negara di dalamnya. Negara berkewajiban untuk menanamkan akidah Islam sebagai fondasi dan tuntunan. Hal ini bisa diterapkan dalam dunia pendidikan, melalui kurikulum yang diajarkan sekolah-sekolah. Ketika kurikulum sekolah berdasar pada akidah Islam maka akan mencetak generasi yang bertakwa dan mempunyai fondasi iman yang kokoh. Mereka paham benar bahwa hidup ini semata-mata hanya untuk beribadah kepada Allah saja.

Begitupula dengan aktivitas pernikahan, mereka akan menyakini bahwa hal tersebut adalah suatu ibadah. Sehingga tidak menjadikannya sebagai hal yang main-main atau ajang uji coba. Dengan begitu maka setiap diri remaja punya fondasi kokoh ketika hendak menuju pelaminan. Mengetahui secara jelas terkait dengan istri dan suami.

Disisi yang lain, negara harus mampu melawan nilai-nilai di luar Islam yang akan merusak keutuhan rumah tangga. Pengaruh dari gaya hidup bebas, hedonisme, sekulerisme, materialistik dan budaya konsumtif perlu dibuang jauh-jauh. Kemudian negara harus menjamin seluas-luasnya lapangan pekerjaan bagi para calon suami. Agar para suami-suami mendapatkan pekerjaan dengan mudah serta penghasilan yang memadai. Dengan begitu maka dari sisi ekonominya akan kuat.

Kuncinya hanya dengan penerapan Islam secara kaffah akan terwujud pergaulan yang terbingkai oleh syara. Artinya sesuai dengan petunjuk Allah Swt. Kemudian akan memunculkan keluarga yang akan melahirkan generasi tangguh dan bertakwa hanya kepadaNya. Semoga akan segera terwujud. Allahu a'lam bi ash shawab.
 
Top