Ummu Athifa
(Ibu Rumah Tangga) 

Pandemi covid-19 semakin menampakkan keganasannya. Penyebaran yang tak terkendali menyebabkan korban positif covid-19 semakin bertambah. Tercatat Senin, 03 Agustus 2020, korban positif mencapai 123.000 jiwa. Angka yang besar ketika penerapan new normal life diberlakukan. 

Akibat penyebaran virus covid-19 yang masih meluas berdampak kepada pembelajaran di sekolah. Hingga saat ini pembelajaran masih dilakukan secara daring. Belum adanya tatap muka di sekolah. Namun, keberlangsungan pembelajaran daring belum maksimal. 

Banyak siswa mengeluhkan pembelajaran ini. Mulai dari susah sinyal karena akses internet masih belum tersedia. Ini terjadi di Kabupaten Kuningan salah satunya. 

Dinas Pendidikan Kabupaten Kuningan mencatat terdapat 53 desa yang diketahui susah sinyal. Selain itu, sarana prasarana yang tidak memadai, karena masih banyak orang tua yang tidak memiliki gawai untuk anaknya mengikuti KBM jarak jauh. (detik.com/24Juli)

Persoalan pembelajaran daring menjadikan Pemerintah Kabupaten Kuningan mengizinkan sekolah untuk menggelar kegiatan belajar mengajar (KBM) tatap muka. Pembelajaran tatap muka ini tentu menuai berbagai respon masyarakat. Wakasek SMPN 1 Kuningan, Andri Maulana mengatakan pihaknya belum berani menggelar KBM tatap muka di sekolahnya, karena menunggu surat keputusan dari dinas pendidikan.

Berbeda dengan, Ketua Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS) Kabupaten Kuningan, Jaja Subagja menjelaskan KBM tatap muka tingkat SMA/SMK baru akan dimulai Senin 10 Agustus pekan depan. Ini dikarenakan terdapat 14 kecamata yang masuk ke dalam zona hijau. Maka sebagai tahap awal akan diuji coba di SMAN 1 Jalaksana. (detik.com/3Agustus)

Perlu diperhatikan, pembelajaran akan dilakukan secara bergilir setiap minggunya. Sebagai contoh pada minggu pertama hanya untuk tingkat 10, minggu kedua tingkat 11 dan minggu ketiga tingkat 12. Selain itu untuk pelajaran olahraga, kegiatan ekstrakurikuler juga ditiadakan dan kantin sekolah wajib ditutup. Hal ini merupakan bentuk usaha memutus rantai penyebaran covid-19. 

Namun dengan adanya KBM tatap muka, pemerintah tetap harus memantau penyebaran virus covid-19 dan ketertiban protokol kesehatan. Jangan sampai penyebaran semakin meluas dan korban semakin bertambah, terutama di kalangan anak-anak.

Jika memang dirasa perlu pembelajaran masih daring, seyogianya pemerintah memberikan fasilitas yang memadai. Sarana dan prasarana disediakan langsung oleh pemerintah. Selain itu, pemerintah dapat membuat pemetaan pembelajaran kepada siswa yang tinggal di daerah pelosok. 

Faktanya, pemerintah masih abai terhadap pembelajaran daring. Padahal ini akan berkaitan erat dengan kualitas pendidikan. Ini berarti perlu keefektifan pembelajaran dalam kondisi apapun. Maka perlu dikaji ulang pembelajaran kurikulum kepada siswa. 

Jika ditelusuri lebih mendalam, kondisi pandemi ini sebenarnya adalah kesempatan emas bagi pendidik pada anak didiknya untuk dapat optimal dalam rangka edukasi pembinaan kepribadian anak. Membina mereka menjadi generasi yang tangguh menghadapi ujian pandemi, menjaga keselamatan jiwa, kebersihan, dan peduli lingkungan. 

Inilah yang dicontohkan dalam sistem pendidikan Islam. Sistem ini meniscayakan pendidikan akan tetap berjalan dengan optimal walau pandemi menerpa. Dikarenakan tujuan pendidikan dalam Islam adalah membentuk kepribadian Islam anak didik mencakup pola pikir dan pola sikap. 

Adanya kerjasama antara pihak sekolah, guru, bahkan orangtua yang mendidik anak atas dorongan keimanan. Anak didik wajib dipahamkan tsaqafah keislaman, disamping itu juga diajarkan ilmu terapan seperti sains dan tekonologi. 

Lantas, dengan adanya pandemi, landasan dan tujuan tersebut tidak boleh lemah. Hadirnya pendidikan justru harus semakin menguatkan takwa bagi siapapun berupa tunduk dan patuh kepada Allah swt. secara total tanpa tapi dan tanpa nanti. Inilah kunci pertolongan Allah bagi hamba-Nya yang beriman dan bertakwa. 

Maka peran orangtua juga punya andil besar dengan menjadikan dirinya faqih fiddin, sehingga mampu membina tsaqofah, kepribadian, dan kecakapan hidup anak sesuai aturan Islam. Adapun sains dan teknologi yang mungkin membutuhkan tatap muka di sekolah dapat ditunda.

Metode pengajaran khas yang ada pada Islam yaitu talqiyan fikriyan yaitu berupa proses penyampaian pemikiran oleh guru dan penerimaan oleh siswa dengan adanya penggambaran atas fakta (ilmu yang disampaikan) yang berhasil memengaruhi perilaku siswa. Guru harus mampu memiliki kecapakan metode tersebut. Walaupun kondisi pandemi, tidak boleh mengabaikan metode ini.

Itulah Islam menjamin kesuksesan pembelajaran. Walaupun saat pandemi tetap terlaksana dengan baik dengan memfasilitasi sarana dan prasarana dengan mudah. Artinya terakses oleh seluruh masyarakat. 


Wallahu'alam bi shawab.

 
Top