Oleh : Silmi Kaffah
(Pemerhati Generasi Muda)

Jagat media terus diramaikan dengan pemberitaan kehamilan sejumlah remaja perempuan yang nyata-nyata belum melangsungkan pernikahan. Bahkan banyak di antaranya masih berstatus pelajar sekolah menengah. Salah satu indikasi peningkatan kasus ini adalah banyaknya permohonan dispensasi nikah di Pengadilan Agama. Seperti dilansir oleh MuslimahNews.com (28/07/2020), Jumlah dispensasi pernikahan terus bertambah terutama setelah batas minimal pernikahan perempuan naik dari 16 tahun menjadi 19 tahun.

Sebagaimana yang terjadi di Pengadilan Agama Jepara, Jawa Tengah, menjelaskan bahwa sebanyak 240 permohonan dispensasi nikah tidak semuanya karena hamil terlebih dahulu. Melainkan, ada yang karena faktor usia belum genap 19 tahun sudah dinikahkan. ”Dari 240 pemohon dispensasi nikah, dalam catatan kami ada yang hamil terlebih dahulu dengan jumlah berkisar 50-an %. Sedangkan selebihnya karena faktor usia yang belum sesuai aturan, akan tetapi sudah berkeinginan menikah,” kata Ketua Panitera Pengadilan Agama Jepara. (Jawa pos.com, 26/7/2020)

Akar Masalah

Dispensasi nikah yang banyak dilakukan oleh remaja bisa jadi jalan keluar bagi mereka untuk melegalkan aktivitas pergaulan bebas. Remaja sudah tak merasa takut dan khawatir lagi jika terlibat dalam aktivitas maksiat tersebut. Bagaimana tidak, dispensasi nikah yang ditetapkan penguasa merupakan pintu gerbang remaja untuk melegalisasikan aktivitas mereka. Kebiasaan yang terjadi di masyarakat saat ini jika terjadi kasus hamil di luar nikah walaupun masih di bawah umur, maka orang tua pelaku akan berupaya untuk menikahkannya, tak ketinggalan dengan pesta yang sangat meriah.

Hal inilah yang membuat generasi muda saat ini tak takut dan tak khawatir untuk melakukan pergaulan bebas yang berujung pada hamil di luar nikah, sebab sanksi yang diberikan orang tua dan dilegalkan penguasa justru pernikahan mewah. Sehingga pelaku zina dan maksiat di kalangan generasi muda saat ini tak pernah habis.

Maraknya perzinaan di kalangan remaja merupakan produk aturan yang dibuat oleh manusia dengan sistem kapitalis-sekuler sebagai landasannya. Karenanya, kasusnya terus muncul selama aturan yang rusak ini diterapkan dalam kehidupan. Di sisi lain, dalam dominasi aturan saat ini negara telah gagal menjamin keselamatan generasi dari pergaulan bebas.

Bagaimana tidak, konten pornografi dan pornoaksi yang jelas memicu seks bebas di kalangan remaja tak ditindaki dengan tegas oleh penguasa. Tak hanya itu, tontonan yang mengajarkan pacaran dan interaksi tanpa batas antara lawan jenis justru semakin tak terkendali. Sehingga sangat sulit untuk menghindarkan generasi dari pergaulan bebas dan seks bebas yang berujung pada nikah muda tanpa persiapan mental dan juga ilmu yang cukup. Akibatnya, perceraian adalah langkah yang marak ditempuh oleh mereka.

Solusi Islam

Islam adalah agama sempurna sebagai pedoman dan petunjuk dalam kehidupan. Islam bukan hanya menetapkan larangan berzina, akan tetapi juga menentukan seperangkat aturan dalam rangka mencegah terjadinya pelanggaran syariat ini. Keharaman zina merupakan perkara yang jelas hukumnya dan tidak ada perdebatan di dalamnya. Allah Swt. dalam firman-Nya menyebut zina sebagai perbuatan keji dan jalan yang buruk;

“Dan janganlah kamu mendekati zina, karena sesungguhnya zina itu adalah faahisah (perbuatan yang keji) dan seburuk-buruk jalan (yang ditempuh oleh seseorang).” (QS Al-Israa : 32)

Sesungguhnya yang dibutuhkan masyarakat terutama generasi muda saat ini bukanlah dispensasi nikah. Akan tetapi, lebih kepada seperangkat aturan yang mampu membatasi interaksi antara laki-laki dan perempuan sehingga mencegah terjadinya pergaulan bebas terutama di kalangan remaja.

Wallahu a'lam Bishshawab.[]
 
Top