Oleh : Umniyatul Ummah

Ibu Rumah Tangga

Indonesia masih dalam bayang-bayang Covid-19, dimana wabah ini  mengintainya setiap saat. Sampai saat ini jumlah pasien belum juga mengalami penurunan bahkan kian hari kian melonjak. Tidak hanya di kota-kota besar virus ini sudah mulai merambah ke daerah. Padahal pandemi ini sudah lama menembus negara kita, namun sepertinya pemerintah belum dapat mengatasinya secara tuntas. 

Belum lama ini di kabupaten Bandung ditemukan satu keluarga yang terkonfirmasi positif Covid-19. Tepatnya di Kompleks Cibiru Asri, Desa Cinunuk, Kecamatan Cileunyi Kabupaten Bandung. Seperti yang diinformasikan Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Bandung, Grace Mediana Purnami, satu keluarga tersebut terdiri dari bapak, ibu dan tiga orang anak.

“Setelah dilakukan pemeriksaan laboratorium satu keluarga yakni bapak, ibu, dan tiga anaknya dinyatakan positif Covid-19,” jelasnya saat On Air di Radio PRFM 107.5 New Channel, Rabu (29/7/2020).

Saat ini, seluruh anggota keluarga tersebut tengah menjalani isolasi di rumah sakit. Lebih lanjut, Grace menyatakan pihaknya juga telah melakukan pelacakan (Tracing) untuk mengetahui sumber awal penularan Covid-19 terhadap satu keluarga tersebut.(PRFMNEWS.ID, 29 Juli 2020)

Fakta di atas menunjukan bahwa saat ini negara atau daerah tempat tinggal kita belum benar-benar aman dari wabah Covid-19. Semenjak pemerintah menerapkan new normal atau Adaptasi Kebiasaan Baru (AKB) kehidupan masyarakat sudah terlihat seperti normal kembali sebagaimana sebelum terjadinya wabah. Aktivitas rutin masyarakat berjalan seperti biasa, bekerja, belanja ke mall, ke tempat wisata dan sebagainya. Tentu saja hal yang demikian tidak menutup kemungkinan adanya interaksi dengan orang lain bahkan mungkin dari daerah lain yang kita tidak tahu bagaimana kondisi mereka sehat ataukah tidak.

Selain itu, kesadaran masyarakat juga masih minim. Ini dapat terlihat masih adanya sebagian masyarakat yang abai terhadap protokol kesehatan, seperti penggunaan masker, menjaga jarak dan juga mencuci tangan. Sehingga masyarakat terkesan kurang peduli, bahkan cenderung abai terhadap kesehatan. Padahal pemberlakuan new normal ini sejatinya membuat masyarakat rentan terhadap suatu penyakit, terlebih lagi Covid-19.

Inilah kebijakan ala kapitalisme sekuler. Siap tidak siap masyarakat harus dihadapkan pada kebijakan ini. Ketidakberdayaan pemerintah dalam menghadapi wabah pandemi ini mengantarkannya pada pengambilan kebijakan yang terkesan asal-asalan. Selain itu dorongan dari para pengusaha yang pada dasarnya merekalah penguasa sebenarnya. Usaha mereka terancam bangkrut  sehingga segala upaya dilakukan untuk mempertahankan proyek dan bisnisnya.

Dari sini terlihat bahwa negara-negara yang menerapkan ideologi kapitalisme, menganggap bahwa kepentingan ekonomi jauh lebih penting daripada keamanan dan kesehatan masyarakatnya. Ketamakan sistem kapitalisme inilah yang menyebabkan wabah Covid-19 ini semakin membesar dan tidak terkendali  di seluruh dunia.

Solusi kapitalis dalam mengatasi wabah telah tampak secara nyata  bagaikan jauh panggang dari api. Dalam kapitalisme kemaslahatan dan keuntungan materi adalah sesuatu yang diagung-agungkan. Demi meraup keuntungan segala macam cara dilakukan sekalipun jika harus mengorbankan kesehatan masyarakatnya. Cara penyelesaian yang demikian juga merupakan bukti bahwa kebijakan yang diambil oleh pemerintah belum tepat dan terkesan kurang peduli.

Berbeda dengan Islam yang memiliki pandangan lain yang bertolak belakang dengan sistem kapitalisme. Dalam sistem ekonomi Islam, standar pertama yang dilakukan negara adalah menjamin terpenuhinya kebutuhan pokok hingga sekunder tiap individu masyarakat, baik negara dalam kondisi aman ataupun saat terkena wabah seperti Covid-19 ini. 

Dalam kasus penularan wabah, maka akan dilakukan karantina wilayah tempat wabah tersebut berada, dengan penjagaan ketat, warga di daerah wabah tidak boleh keluar daerah demi menghindari penularan secara bebas. Demikian pula warga yang berada di luar wabah tidak boleh masuk daerah wabah supaya tidak tertular. Dengan demikian daerah yang bersih dari wabah bisa mensuport daerah yang dikarantina. Baik berupa bantuan semisal kebutuhan pokok, alat kesehatan dan lain-lain. 

Islam memiliki tiga prinsip dalam menanggulangi wabah antara lain:

Pertama, jika terjadi wabah maka penguncian area yang terkena wabah harus dilaksanakan sesegera mungkin. Kebijakan ini serupa dengan kebijakan lockdown atau karantina wilayah. Sehingga seluruh kebutuhan pokok umat akan dipenuhi oleh negara dan wabah pun akan cepat mereda.

“Apabila kalian mendengarkan wabah di suatu tempat maka janganlah memasuki tempat itu. Dan apabila terjadi wabah sedangkan kamu sedang berada di tempat itu maka janganlah keluar rumah.”  (HR Muslim)

Kedua, Isolasi yang sakit. Jika ada penyakit yang menular, maka wajib bagi pasien yang terjangkit melakukan isolasi. Baik itu isolasi mandiri ataupun ditangani tenaga medis. Di sini dibutuhkan kesadaran masyarakat sebagai garda terdepan dalam memerangi wabah ini. Sehingga tenaga kesehatan sebagai garda terakhir tidak akan mendapatkan beban yang begitu berat. Kematian para tenaga medispun akan bisa dihindari.

Kesadaran yang dilandasi oleh keimanan akan menghasilkan amal yang produktif. Artinya, masyarakat yang memahami bahwa Islam harus diterapkan dalam kehidupannya, mereka akan melakukan social distancing dengan maksimal. Karena mereka memahami bahwa hal demikian adalah bentuk ikhtiar untuk kesembuhan yang merupakan perintah Allah Swt.

“Sekali-kali janganlah orang yang berpenyakit menular mendekati yang sehat.” (HR Imam Bukhari Muslim)

Ketiga, pengobatan hingga tuntas. Bagaimanapun, nyawa manusia lebih berharga dibanding dunia dan isinya. Maka pengobatan harus maksimal dan ditunjang dengan sistem kesehatan yang baik. Fasilitas rumah sakit yang memadai, Alat Pelindung Diri (APD) yang lengkap, tenaga medis yang banyak dan berkualitas, juga pendanaan yang sehat.

Oleh karena itu, jika kita menginginkan permasalahan pandemi ini berakhir, selain berikhtiar untuk menjaga diri dari virus, juga harus disertai dengan perjuangan menerapkan Islam secara kaffah. Tidak bisa kita berharap pada sistem yang rusak kapitalisme sekuler karena tidak mungkin dapat menyelesaikan permasalahan, yang ada masalah bahkan kian bertambah. Hanya dalam sistem Islamlah seluruh masalah akan dapat teratasi secara tuntas.


Wallahu a'lam bi ash-shawab

 
Top