Oleh : Sari Kurnia P. 
Aktivis & Pemerhati Sosial

Bagi angkatan 70-an siapa kiranya yang tak mengenal lagu Kolam Susu yang dibawakan oleh grup musik legendaris Indonesia, Koesplus? Begini penggalan syairnya,

Orang bilang tanah kita tanah surga
Tongkat kayu dan batu jadi tanaman
Orang bilang tanah kita tanah surga
Tongkat kayu dan batu jadi tanaman

Lagu kolam susu yang sangat ringan didengarkan rupanya tak seringan filosofi yang dikandungnya. Syairnya menggambarkan tentang negeri kita Indonesia yang begitu kaya, subur, dan betapa indahnya negeri ini yang patutnya bisa kita syukuri. Tentang kekayaan alam, daratan dan lautan yang bila dikelola dengan baik maka dapat menyejahterakan rakyatnya dari generasi ke generasi. Kekayaan negeri inilah yang kemudian mengundang para penjajah, bangsa luar untuk meraup keuntungan dengan mencari rempah-rempah.

Lalu bagaimana kabar hari ini? Rupanya kitalah yang menjadi penjajah di negeri kita sendiri. Ketika banyak penguasa lupa akan kepentingan rakyatnya dan menomorsatukan kepentingan diri. Seperti yang terjadi saat ini, Indonesia mulai kehilangan jati dirinya sebagai salah satu penyumbang oksigen terbesar di dunia dengan produktivitas hutannya yang tinggi.

Baru-baru ini kita disuguhkan informasi tentang Hutan Kinipan, hutan terakhir Kalimantan yang digunduli oleh sebuah PT Sawit Mandiri Lestari. Rupanya tak hanya menggunduli, untuk menunjukkan sisi kekuasaannya, beberapa oknum juga tega mengintimidasi masyarakat adat sekitar (https://www.bbc.com/indonesia/indonesia-538901).

Satu per satu para pejuang hutan Kinipan ditangkap dengan alasan tak masuk akal. Hanya karena mereka tak ingin hutannya digundulkan. Namun apa daya, posisi tawar mereka tak mampu menumbangkan penguasa. Sedang pemerintah kita sibuk membungakan para pemilik modal usaha.

Sedikit demi sedikit rakyat dibuat sengsara. Tak ada demokrasi dalam mencari keuntungan diri. Yang kaya makin kaya, pun yang miskin kian miskin. Begitulah ketika negara diatur oleh sistem yang aturannya bukan ditautkan pada aturan Allah Swt. Padahal Allah berfirman dalam Al-Qur'an surat al-Baqarah: 168,

“Hai sekalian manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaitan; Karena Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagimu.”

Bahwa sebenarnya Allah Swt. telah mempersiapkan sedemikian rupa bumi untuk ditinggali serta untuk mencari makan di dalamnya. Namun apa daya, terkadang manusia begitu serakah terlebih ketika melihat kondisi saat ini. Berbeda masanya ketika Islam berjaya menguasai 2/3 dunia. Tanahnya subur, rakyatnya makmur, hingga syukurnya tak terukur. Islam mengatur sedemikian mungkin kehidupan manusia mulai dari bangun tidur bahkan pada tataran pengaturan ekonomi dan kekayaan alam. Kekayaan alam dalam Islam sepenuhnya milik umat yang dalam pengelolaanya seluruh hasilnya dikembalikan lagi untuk kepentingan umat. Tidak ada privatisasi kepemilikan seperti hutan, pulau, lautan, dan daratan yang seperti saat ini banyak kita saksikan. Sedang sistem saat ini memaksa orang baik berlaku serakah dan tak berperikemanusiaan.

Benar kiranya apa yang dikatakan pula oleh Mahatma Gandhi "Bumi ini cukup untuk 7 generasi, namun tak akan pernah cukup untuk 7 orang serakah" dan orang-orang serakah itulah yang saat ini kita saksikan ada.
 
Top