Oleh: Ummu Najla
Komunitas Ibu Peduli Generasi


Pemutaran film “Jejak Khilafah Di Nusantara” (JKDN) menuai kontroversi. Film yang sejatinya akan ditayangkan 20 Agustus 2020 mendatang ini, sukses membuat penganut paham anti khilafah meradang dan kebakaran jenggot. Massifnya kampanye JKDN di dunia maya, mulai dari treaser dan tagar pendukung JKDN dibalas dengan anti klimaks. 

Tuduhan miring, fitnah, penggembosan hingga upaya pemblokiran dan pembatalan pun menjadi skenario utama sang antagonis. Baik didalangi oleh individu ataupun kelompok-kelompok tertentu yang mengatas namakan Islam. Seakan tak ada lagi semangat ukhuwah dan menghargai perbedaan. Mereka justru melakukan segala cara untuk menggagalkan acara tersebut. 

Kalangan anti khilafah pun tak segan-segan mempropaganda umat. Mereka bergandengan tangan dengan pemerintah mensejajarkan para pengembannya dengan penganut Komunis. Bahkan slogan “Khilafah lebih berbahaya dari PKI” pun menghiasi tajuk berita.   


Api Perjuangan Tak Akan Padam

Khilafah selalu menjadi kontroversi dalam setiap pembahasan. Pro dan kontra senantiasa menghiasi deadline berita. Segala upaya dilakukan untuk menghadang langkah dakwah ini. Mulai dari pembubaran ormas pengusung ide khilafah hingga pengebirian aktivis dakwahnya. 

Namun anehnya, dakwahnya terus bergema dan meroket tanpa terbendung lagi. Inilah yang membuat musuh-musuh khilafah kehabisan akal dan menghalalkan segala cara, demi memberangus dakwah khilafah hingga ke akar-akarnya andaikan mereka mampu. Persis seperti yang dikabarkan Allah SWT dalam firmanNya:
“Mereka berkehendak memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut (ucapan-ucapan) mereka, sementara Allah tidak menghendaki selain menyempurnakan cahaya-Nya walaupun orang-orang yang kafir tidak menyukainya. Dialah Yang telah mengutus Rasul-Nya (dengan membawa) petunjuk (al-Quran) dan agama yang benar untuk Dia menangkan atas segala agama walaupun orang-orang musyrik tidak menyukai.” (QS at-Taubah: 32-33).

Dalam ayat yang lain Allah SWT berfirman:
 “Mereka ingin memadamkan cahaya Allah dengan mulut (tipu daya) mereka, tetapi Allah (justru) menyempurnakan cahaya-Nya, walau orang-orang kafir membencinya.” (QS. Ash-Shaff: 7)

Di sisi lain, penggemban dakwah khilafah semakin kuat dan kokoh. Mereka seakan tak peduli banyaknya hujatan, cibiran, fitnah. Bahkan langkah-langkah irrasional yang mereka lakukan untuk menjegal dakwah. Di luar nusantara sana, bahkan nyawa menjadi taruhan demi tegaknya dakwah. 

Memang, itulah harga mahal yang harus dibayar untuk meraih kemenangan. Sudah menjadi kelaziman sebuah kebenaran harus ditebus dengan tetesan keringat dan darah pejuangnya. Bukankah itu yang dicontohkan oleh Rasulullah saw dan para sahabat yang mulia sepanjang sejarah Islam. Mati satu tumbuh seribu, Dakwah must go on. Begitulah harusnya dinamika dakwah menuju puncak kejayaan. Tak akan padam hingga meraih tujuan demi sebuah keyakinan. Sebagaimana firman Allah SWT:
“Karena itu berdakwahlah dan beristiqamahlah sebagaimana diperintahkan kepada kamu serta janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka.” (TQS asy-Syura [42]: 15). 

Mereka pun sangat paham bahwa meninggalkan dakwah merupakan kerugian besar bagi seorang Muslim. Pasalnya, Rasulullah saw. telah bersabda:
“Kalian sungguh-sungguh menyerukan kemakrufan dan mencegah kemungkaran atau Allah benar-benar akan memberikan kekuasaan kepada orang-orang buruk di antara kalian, lalu orang-orang baik di antara kalian berdoa, tetapi doa mereka tidak Allah kabulkan.” (HR Ibnu Hibban).


Fakta Sejarah yang Tergadaikan

Terlepas dari pro dan kontra akan perjuangan khilafah. Harusnya kita berpikir obyektif memandang fakta sejarah. Apapun adanya sesungguhnya sejarah tak bisa dikubur. Walaupun sempat tergadaikan oleh para pendengki khilafah. Mereka berupaya menjual sejarah dengan harga murah. Dan membuang kebenaran di keranjang sampah kebohongan.

Seakan menutupi kilauan emas dalam tumpukan sampah. Sekecil apapun cahayanya tak akan pudar walaupun terpendam dalam palung yang dalam. Sejarah kebenaran akan jejak khilafah menampaki bumi lambat laun akan terungkap. Tak hanya di Nusantara tapi di seantero dunia. Walaupun para sejarawan dibungkam dan diintimidasi untuk menenggelamkannya. Namun arus kebangkitan justru mengangkatnya ke permukaan.

Suka ataupun tidak, nyatanya banyak sekali kesultanan Islam di Nusantara sesungguhnya merupakan bagian Kekhalifahan Islam di bawah Turki Utsmaniyah. Ketika perang dunia I berkecamuk, Khalifah di Turki menyerukan jihad. Seluruh kaum muslimin antusias menyambutnya termasuk di Nusantara. Banyak kesultanan di Nusantara yang bersekutu dengan Kekhalifahan Turki Utsmaniyah, seperti Kesultanan Aceh, Buton, Sulawesi Selatan, Banten. (Deliar Noer, Gerakan Modern Islam di Indonesia 1900-1942, cetakan keenam, LP3ES, 1991, hal. 34).

Itulah mengapa salah satu Sultan Buton, Lakilaponto, dilantik menjadi “Sultan” dengan gelar Qaim ad-Din yang memiliki arti “penegak agama”, yang dilantik langsung oleh Syekh Abdul Wahid dari Makkah. Sultan Ageng Tirtayasa mendapat gelar sultan dari syarif  Makkah. Pada akhir abad ke-20, Konsul Turki di Batavia membagi-bagikan Alquran atas nama Sultan Turki. 

Sebuah arsip Utsmani berisi petisi Sultan Alaiddin Riayat Syah kepada Sultan Sulayman Al-Qanuni, yang dibawa Huseyn Effendi, membuktikan jika Aceh mengakui penguasa Utsmani di Turki sebagai Kekhalifahan Islam. Alhasil, As-Singkeli dan Qanun Syariah di terapkan di Aceh hingga sekarang.

Dalam literatur yang lain dijelaskan, Raja Sriwijaya Jambi bernama Srindravarman mengirim surat kepada Khalifah ‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz dari Khilafah Bani Umayah pada 100 H (718 M) untuk belajar Islam. Khalifahpun mengutus salah seorang ulama terbaiknya untuk memperkenalkan Islam kepada Raja Sriwijaya. 

Pada tahun 718, Sri Indrawarman akhirnya masuk Islam. Sejak itu kerajaannya disebut orang sebagai “Kerajaan Sribuza yang Islam”. Tidak lama setelah Sri Indrawarman bersyahadat, pada 726 M, Raja Jay Sima dari Kalingga (Jepara, Jawa Tengah), putra dari Ratu Sima juga memeluk agama Islam.

Diutusnya para Wali untuk berdakwah ke tanah Jawa juga menjadi bukti kuat adanya jejak Khilafah di Nusantara. Dan tentunya masih banyak bukti-bukti lain yang tidak bisa disebutkan satu persatu secara detail dalam tulisan ini. Alhasil, sudah saatnya kita menghilangkan keraguan kita akan tegaknya kembali khilafah, karena janji Allah pasti akan terpenuhi. 

Berikut ini adalah hadis dari Hudzaifah ra yang berkata bahwa Rasulullah saw. pernah bersabda:
“Di tengah-tengah kalian terdapat zaman kenabian. Ia ada dan atas izin Allah akan tetap ada. Lalu Allah akan mengangkat zaman itu jika Dia berkehendak mengangkatnya. Kemudian akan ada Khilafah yang mengikuti manhaj kenabian. Ia ada dan atas izin Allah akan tetap ada. Lalu Allah akan mengangkat zaman itu jika Dia berkehendak mengangkatnya. Lalu akan ada kekuasaan yang zalim. Ia juga ada dan atas izin Allah akan tetap ada. Kemudian Allah akan mengangkat zaman itu jika Dia berkehendak mengangkatnya. Lalu akan ada kekuasaan diktator yang menyengsarakan. Ia juga ada dan atas izin Alah akan tetap ada. Selanjutnya akan ada kembali Khilafah yang mengikuti manhaj kenabian.” (HR Ahmad, Abu Dawud ath-Thayalisi dan al-Bazzar). Wallahu’alam bisshowab.
 
Top