Oleh : Jasmyne Sabiya

Adat bak Poteu Meureuhom
Hukom bak Syiah Kuala
Kanun bak Putroe Phang
Reusam bak Laksamana

Masyarakat Aceh kian menginterpretasikan dirinya dengan sebuah hadih majah di atas. Ini mengartikan bahwa sudah menjadi kebiasaan orang Aceh, merujuk segala sesuatu kepada para ulama, karena ulama merupakan representatif penegakan hukum syara' dalam kehidupan masyarakat.


Aceh juga dijuluki Seuramoe Mekkah (Serambi Mekkah) sebab Aceh merupakan daerah pertama yang memeluk agama Islam di wilayah Indonesia. Selain itu, Aceh tempat berdirinya Kerajaan Islam pertama, yaitu Kerajaan Samudera Passe (Pasai) yang terletak di pesisir pantai Utara Sumatera, tepatnya di Aceh Utara pada abad ke-13. Letak Aceh yang juga strategis menjadikan wilayah ini sebagai pusat perkembangan Islam bahkan menjadi daerah transit jemaah haji yang ingin beribadah ke Makkah.

Jejak Sejarah Islam di Antara Hubungan Dua Saudara

Kerajaan Samudera Passe atau disebut juga Samudera Darussalam ini memiliki peran sangat penting dalam penyebaran syariat Islam di Nusantara. Bahkan saat Khilafah Abbasiyyah jatuh pun pada 1258 oleh serbuan pasukan Mongol, Hulegu Khan, salah seorang anak keturunan khalifah meminta perlindungan kepada Sultan Passe. Dia adalah keturunan Khalifah al-Muntashir yang generasi terakhirnya wafat pada 1407. Hingga kini makam beliau masih terlihat kokoh di tanah Passe, Aceh.

Di satu sisi yang lain, Aceh pun mengalami sejarah kelam. Peperangan yang berlangsung sengit di Selat Malaka dengan pihak Portugis menjadi kisah memilukan. Namun Kesultanan Aceh dengan cepat segera meminta bantuan kepada Khilafah Utsmaniyah kala itu untuk membantu dalam pertempuran melawan kafir Portugis di Malaka.

Laksana mengingat saudara nan jauh di sana. Ekspedisi segera dilancarkan setelah dikirimnya duta oleh Sultan Alauddin al-Qahhar (1539–1571 M) kepada Sulaiman al-Qanuni pada tahun 1564 M, dan kemungkinan lebih awal, sekitar tahun 1562 M, saat meminta bantuan Khilafah Utsmaniyah untuk melawan kafir Portugis.

Hubungan persaudaraan Aceh dengan Khilafah Utsmaniyah terjalin sangatlah erat. Dimana terlihat Sultan Alauddin al-Qahhar berkeinginan mengembangkan hubungan tersebut untuk mengusir Portugis dari Malaka, dan memperluas wilayahnya di Sumatera.

Hingga bergulir ke periode kejayaan antara kedua tanah Islam ini, adanya bai’at dari kesultanan Aceh kepada Sultan Selim II. Ini menjadi bukti bahwa Aceh menjadi bagian Khilafah Utsmaniyah. Sehingga, Aceh banyak didatangi para ulama dari berbagai belahan Dunia untuk menyebarkan seruan Islam. Terbukti Syarif Makkah mengirimkan utusannya, seorang ulama bernama Syaikh Abdullah Kan’an sebagai guru dan mubalig.

Hingga kini terlihat sangat jelas, peristirahatan para ksatria utusan Khilafah Utsmaniyah yang berbaring damai di Gampong Bitay, Banda Aceh. Merekalah para pejuang yang telah mengabdikan jiwa raganya dalam meneguhkan kaum muslimin di Aceh dalam menyebarkan dakwah Islam dan jihad di Nusantara.

Melaju pada tahun 1582, datang dua orang ulama besar dari negeri Arab, yakni Syaikh Abdul Khair dan Syaikh Muhammad Yamani, yang senantiasa berpegang teguh pada tali Allah. Di samping itu, di Aceh sendiri laksana lahir sejumlah ulama-ulama besar, seperti Syamsuddin as-Sumatrani dan Abdur Rauf as-Singkeli.

Dengan kasih sayang Allah, tercurah rahmat kebahagiaan senantiasa tampak jelas di sana. Kebaikan dan kesejahteraan terajut di tengah-tengah kaum muslimin, lantaran syariat Islam kian terpatri di hati mereka seiring penerapannya di tanah-tanah kaum muslimin.

Dengan izin Allah yang Maha Kuasa. Tentu sejarah ini tidak bisa ditutup-tutupi. Apa lagi dihapus dari ingatan kaum muslimin. Getaran peradabannya yang gemilang kian terasa meski masa itu jauh dari pelupuk mata. Pada akhirnya, terjalinnya hubungan baik ini membuktikan pada dunia bahwa adanya jejak khilafah di Seuramoe Mekkah. Begitu juga sebaliknya, Aceh Seuramoe Mekkah bagian dari khilafah.

Khilafah Kembali Hanya Menunggu Waktu Saja

Adapun sejak Khilafah Utsmaniyah runtuh pada 3 Maret 1924, selama itu juga kebahagiaan dan kesejahteraan yang pernah dirasakan kaum muslimin dahulu, hilang terbawa kebobrokan sistem Kapitalisme saat ini. Hampir satu abad lamanya duka yang terajut di hati kian melukai dan tak terobati.

Namun, mari kita mengingat Baginda Rasulullah saw. pernah bersabda :
"... Sesungguhnya akan muncul kembali masa kekhilafahan yang mengikuti manhaj kenabian." Setelah itu Beliau diam. (HR. Ahmad)

Seyogyanya seluruh kaum muslimin wajib meyakini kabar gembira yang telah disampaikan oleh Baginda Rasulullah saw. ini. Sementara itu, kita juga harus berjuang bersama-sama untuk menegakkan kembali khilafah. Seraya memohon kepada Allah, agar senantiasa melimpahkan karunia-Nya dan memuliakan para pejuang dengan keagungan-Nya.

Semoga Allah menyegerakan pertolongan untuk kemenangan Islam. Pada hari itu kaum muslimin akan bersuka ria karena pertolongan Allah tiba di depan mata. Dan dengan semua itu Allah akan mengobati semua duka di dada-dada kaum muslimin seluruhnya. Aamiin.

Wallahu a'lam bish-shawwab.
 
Top