Oleh : Wulan
(Komunitas Ibu Peduli Generasi)

Tahun ajaran baru telah tiba. Para siswa pun mulai aktif belajar. Beberapa sekolah sudah memberlakukan pembelajaran dengan bertatap muka. Namun banyak pula yang masih melakukan pembelajaran secara daring (dalam jaringan). Menurut Kemendikbud banyak siswa yang sulit memahami materi pelajaran. (news.detik.com, 26/07/2020)

Bagi orang tua yang anaknya mulai masuk sekolah pasti merasa khawatir. Pasalnya semenjak pemerintah memberlakukan kehidupan normal baru pertambahan pasien covid 19 meningkat drastis.

Ironisnya, pembelajaran daring pun memusingkan orang tua. Pengeluaran membengkak untuk pembelian paket internet. Stress semakin bertambah ketika pihak sekolah juga membebani orang tua untuk mendampingi belajar anak-anaknya. Di sisi lain mereka juga harus tetap membayar uang sekolah. Kebutuhan keluarga sehari-hari sulit terpenuhi akibat pandemi. Pekerjaan rumah sang Ibupun terbengkalai, demi menemani anak-anak belajar online.

Mirisnya, masalah yang muncul akibat pembelajaran daring tak berhenti sampai di sini. Banyak kejadian tragis bahkan sampai merenggut nyawa. Koneksi internet yang buruk membuat sebagian pelajar dan mahasiswa gelap mata. Tak cukup sekedar mencari tempat yang tinggi seperti perbukitan, bahkan ada yang nekad naik ke atap rumah atau menara masjid.
Rudi Salam contohnya.
Mahasiswa Unhas asal Tana Ejaya, Kecamatan Tellulimpoe, Kabupaten Sinjai, harus meregang nyawa akibat memanjat menara masjid demi mencari sinyal internet (Kompas.com) 13/05/2020. Lantas kalo sudah begini siapakah yang harus bertanggung jawab?

Potret Suram Pendidikan Ala Kapitalisme

Karut marut pendidikan di Negeri ini sebenarnya sudah terjadi jauh sebelum ada pandemi covid 19. Di masa normal saja banyak rakyat yang tidak bisa mengakses pendidikan, apalagi di masa wabah seperti ini. Pemerintah sebagai pelayan rakyat harusnya bisa menyediakan fasilitas pendidikan yang memadai bagi rakyatnya.
Di masa sekolah online seperti sekarang ini harusnya layanan internet gratis diberikan kepada semua rakyat agar pendidikan tetap bisa berjalan dengan baik. Nyatanya, sekitar 42ribu lebih sekolah yang ada di negeri ini masih belum bisa mengakses jaringan internet. (news.detik.com, 26/07/2020)

Meskipun demikian Negara seolah tidak peduli dengan keadaan ini dan tidak memberikan solusi untuk permasalahan ini. Tapi memang sesuatu yang wajar bagi negara yang menganut sistem kapitalisme di mana prinsip dasar  segala sesuatu didasarkan pada untung rugi. Maka langkah-langkah yang diambil pemerintah pun tetap tidak akan pernah berpihak kepada rakyat kecil. Pengusahalah yang akan selalu diuntungkan, karena merekalah yang sudah berjasa mengantarkan mereka ke kursi kekuasaan. Harusnya pemerintah juga mengambil langkah-langkah strategis agar wabah ini bisa segera diselesaikan,tapi sekali lagi ini akan mustahil dilakukan jika negeri ini tetap menganut sistem kapitalisme.

Jaminan Pendidikan Dalam Islam

Islam menganggap bahwa  pendidikan adalah hak dasar rakyat yang harus dipenuhi oleh negara secara gratis. Islam juga telah mengatur bagaimana pelaksanaan proses belajar mengajar ketika terjadi suatu wabah di suatu wilayah. Langkah-langkah strategis pun juga akan diambil pemerintah agar pelayanan pendidikan kepada rakyat tetap bisa berjalan dengan baik. Adapun langkah-langkah itu antara lain:

Pertama, negara Khilafah adalah negara berasaskan akidah dan syariah Islam. Maka dari  itu, negara juga menegaskan tujuan pendidikan baku yang harus diemban seluruh pemangku pendidikan baik negara, siswa, guru, tenaga kependidikan, hingga oleh orang tua siswa. Dalam kondisi wabah, maka materi pembelajaran yang utama adalah untuk menguatkan ketaatan kepada Sang Pencipta yang menguasai manusia.

Kedua, negara Khilafah menguasai ilmu dan teknologi komunikasi yang handal. Maka, keterbatasan guru, siswa dan orang tua untuk melakukan pembelajaran daring bisa diminimalisir.

Berbeda dengan kondisi saat ini, masih banyak guru, siswa, dan orang tua yang gagap teknologi komunikasi.
Ketiga, belajar di rumah dalam Khilafah ditopang oleh perekonomian yang stabil bahkan maju. Dengan kondisi tersebut, negara mampu menopang kehidupan ekonomi rakyat yang membutuhkan bantuan akibat lockdown. Orang tua tak perlu bekerja di luar. Mereka bisa optimal membantu proses belajar di rumah dengan sebaik-baiknya.
Kebutuhan pokok dan berbagai fasilitas pendukung pembelajaran diberikan negara secara gratis. Negara juga menyediakan platform pendidikan gratis dan sarana pendukungnya, seperti internet gratis dan media (alat komunikasinya).

Begitulah sempurnanya Islam, mampu mengatasi semua permasahan yang muncul di tengah umat. Ketika Islam diterapkan secara Kaffah maka keberkahan dan kesejahteraan akan dirasakan oleh selurah umat manusia baik itu Islam maupun bukan. Dan sekaranglah saatnya kita kembali ke sistem Islam dan membuang jauh-jauh sistem rusak seperti kapitalisme dan sosialisme.
Wallahu 'alam bish shawwab.
 
Top