Dr.Hj.Septimar Prihatini, M.Pd
(Praktisi Pendidikan dan Pemerhati Masalah Keumatan)

Fenomena hijrah akhir-akhir ini sering kita temui pada sebagian kalangan yang hendak berubah.  Dunia selebritis hingga kalangan masyarakat kebanyakan.  Contoh yang fenomenal di kalangan perempuan hijrah secara fashion berkerudung dan berbusana muslimah menjadi trend tersendiri.    Namun hijrah yang seperti ini baru sekedar mengikuti derasnya berbagai iklan produk-produk fashion yang cukup menggiurkan. Atau bentuk hijrah lainnya yang bersifat penampakan fisik. Perubahan penampilan fisik, jika tidak disertai dengan sebuah paradigma berpikir kenapa harus hijrah dan hijrah yang bagaimana harus di lakukan, sepertinya harus di evaluasi.

Kata Hijrah berasal dari bahasa Arab berarti meninggalkan, menjauhkan atau berpindah tempat.  Bisa juga dimaknai sebagai perpindahan dari suatu kondisi kepada kondisi lainnya.  Dalam konteks hijrah kita mengenal ada momentum bersejarah di masa Nabi saw saat mendakwahkan Islam di Mekah. Yaitu momen Nabi Muhammad saw bersama para sahabat beliau melakukan hijrah dari Mekah ke Madinah al-Munawaroh.  Atas perintah dan tuntunan wahyu dari Allah SWT.

Secara historis, sebagian besar kita sudah mafhum atau memahani. Bahwa peristiwa awal hijrah Rasulullah dari Mekah ke Madinah didahului dengan penindasan oleh kaum kuffar terhadap Rasulullah dan para sahabat ketika Islam mulai diperkenalkan sebagai aqidah dan sistem yang harus ditaati. Penolakan yang disertai dengan intimidasi dan tindakan penyiksaan fisik, menyebabkan Rasulullah dan para sahabat diperintahkan Allah untuk “pindah" secara fisik ke negeri yang telah siap menerima Islam lebih baik di banding di Mekkah.


Jika hijrah merupakan alat bayar untuk menukar paganisme dengan iman, maka aksi hijrah secara filosofis tidak pernah usang sepanjang zaman. Tetap berlaku efektif kapanpun dan dimanapun, sepanjang manusia memiliki tekad bulat untuk merubah jalan kehidupannya ke arah yang lebih baik.

Secara filosofis, hijrah dapat dimaknai dari beberapa sudut pandang.
Antara lain dari sudut  aspek sosial, Hijrah merupakan entri point revolusi total kehidupan sosial yang dimulai dari cara pandang yang hanya tertumpu pada keyakinan total dan kesetiaannya pada hukum kebenaran Tuhan (Allah swt). Masyarakat pagan yang menumbuh-suburkan kehidupan sosial yang korup, dzalim dan anarkis telah mematikan cara berpikir benar dan adil. Sifat-sifat tamak, serakah, menindas dan menjajah telah menjadi ideologi sosial sehingga tak ada lagi tempat buat masyarakat kelas bawah untuk ikut berperan serta dalam kehidupan bermasyarakat.

Hijrah dari aspek ekonomi, dapat dimaknai secara konsep bahwa sistem ekonomi Islam diyakini sebagai yang terbaik dan  solusi masalah kesejahteraan ummat. Hijrah ekonomi mengandung makna hijrah dari sistem ekonomi kapitalis dan sosialis ke sistem ekonomi Islam. Sistem ekonomi Islam mengakui tiga jenis kepemilikan yaitu kepemilikan individu, kepemilikan umum, dan kepemilikan negara. Berkaitan dengan ketiga kepemilikan tersebut  dibedakan antara kepemilikan pribadi, pemanfaatan pemilikan, dan konsep distribusi kekayaan. Dalam konsep kepemilikan kapitalisme, kepemilikan pribadi sebagai prinsip dasarnya, sedangkan sosialisme mengakui kepemilikan kolektif sebagai prinsip dasarnya.

Hijrah ekonomi dalam makna implementasi saat ini  bisa diartikan sebagai usaha untuk menguatkan ekonomi internal umat Islam. Sebab saat ini perekonomian dikuasai oleh kaum kuffar dan umat Islam terbatas pada konsumen aktif. Agar ekonomi umat teberdayakan maka umat Islam harus berusaha semaksimal mungkin mendukung usaha sesama, seperti belanja di toko milik umat Islam. Usaha UMKM umat juga harus diberdayakan agar masyarakat terbiasa menggunakan produk umat Islam yang terjamin kehalalan produknya. Hijrah ekonomi secara implementatif juga diupayakan dengan menghindari produk–produk ribawi yang sudah sangat menggurita sebagai akibat pengkondisian oleh kelompok kapitalis. Praktek ribawi sudah menjadi suatu hal yang biasa di proyek property, perbankan dan rentenir.

Hijrah Budaya, secara konsep beralihnya pemikiran sekuler yang tidak mengindahkan nilai Islam ke pada proses perubahan budaya berpikir  Islam kaffah sebagai sandaran. Sehingga hasil infiltrasi budaya akan lahir sebagai karakter Islam. Milah (tata cara) Yahudi dan Nasrani tidak lagi disentuh dan dilestarikan apalagi diikuti. Mulai tata cara berpakaian, berpenampilan, berinteraksi antar manusia sampai pola tindak berkeluarga, bermasyarakat dan bernegara.

Selanjutnya adalah hijrah politik. Bagian penting saat ini yang harus banyak direkonstruksi adalah hijrah dari pemikiran politik non Islam ke Islam. Hijrah dari sistem politik sekuler yaitu demokrasi  ke sistem khilafah.

Di tengah karut marutnya sistem demokrasi yang menjerumuskan kita pada sistem pemilihan suara terbanyak yang menang dan terpilih, berakibat munculnya para pemimpin yang tidak cakap atau tidak kompeten secara syarat minimal sekalipun. Sebab para pemimpin yang lahir dari proses demokasi dihasilkan berdasarkan mobilisasi suara terbanyak. Untuk mendapatkan suara terbanyak ini tidak jarang dilakukan usaha usaha yang illegal..mulai dari serangan fajar, money politics dan usaha-usaha lain yang tidak halal.

Dalam sistem politik Islam, pemilihan pemimpin ditentukan melalui proses seleksi sangat ketat oleh para pakar dan ulama teruji. Seleksi berdasarkan kompetensi dengan sandaran  hukum serta aturan  secara syar'i, memilih  pemimpin yang mampu dalam mengemban tugasnya sebagai perisai bagi ratyat.  Pemimpin yang benar-benar mampu mengurus berbagai keperluan umat.

Memahami makna mendalam dari prosesi hijrahnya Nabi saw, yaitu hijrah meninggalkan kekufuran (Mekah sebagai tempat yang masih sulit untuk menerima Islam-saat itu) menuju penerapan Islam secara totalitas (Madinah yang sudah dipersiapkan) dan sebagai pusat untuk mengemban dakwah Islam ke wilayah-wilayah lainnya melalui kekuatan Institusi negara yang dipimpin langsung oleh Rasulullah saat itu dan dilanjutkan oleh para Khulafaur Rasyidin sampai para khalifah berikutnya yang tercatat hingga lebih kurang selama 13 abad lebih.

Kenapa bisa merubah seluruh kondisi dari kekufuran menuju cahaya Islam?, karena hijrah yang dilakukan adalah hijrah pemikiran. Hijrah pemikiran meliputi semua aspek kehidupan, baik sosial, budaya, hukum dan politik, Sebagaimana firman Allah dalam al-Qur'an surat al-Baqarah ayat 208 :

 _" Hai orang-orang yang beriman masuklah kalian ke dalam Islam secara kaffah, janganlah kalian mengikuti langkah2 syaithan. Sesungguhnya syaithan itu adalah musuh yang nyata bagimu"_

...masuklah kalian dalam Islam secara kaffah bermakna secara totalitas.

Menjadi renungan bagi kita, marilah momentum pergantian tahun hijriyah ini kita maknai secara totalitas kesempurnaan Islam.  Yaitu kembali mensinergikan antara pola pikir kita dengan pola amal yang semata-mata diniatkan untuk menjadikan Islam sebagai aqidah sandaran yang shahih yang melahirkan pemikiran-pemikiran menyeluruh (kulliyah). 

Sejak Islam mengalami kemunduran, tanpa disadari umat ini mengalami kemerosotan dalam berfikir.  Sejak pertengahan abad XII Hijriyah atau tahun ke-18 Masehi.  Kemerosotan berpikir umat Islam karena lemahnya pemahaman terhadap Islam.   

Revolusi pemikiranlah yang membuat Islam bangkit dan terkemuka.  Terlebih lagi kondisi saat ini setelah sekian lama umat Islam kehilangan pemimpin.  Tidak lagi menjadikan seluruh syariat Islam sebagai aturan kehidupan dalam institusi negara.  Sejak keruntuhan kejayaan Islam tahun 1924 hingga kini berbagai hukum-Sekuler-Kapitalis serta hukum kufur lainnya dipaksakan penerapannya di negeri-negeri muslim.  Walhasil, kerusakan di sana-sini, kemaksitan merajalela, sistem ekonomi berbasis ribawi menggurita, ketimpangan kaya dan miskin semakin nyata, politik dunia hanya untuk pertarungan kekuasaan semata bak hukum rimba.

Maka hijrah untuk merekontruksi ulang kembali  pemikiran umat menjadi sangat penting.  Karena serangan pemikiran-lah yang telah merubah kiblat pemikiran kebanyakan umat baik sebagian kalangan pemimpin,  intelektual, politisi ataupun yang lainnya terdistorsi menjadi pemikiran yang sekuler.  Keberhasilan serangan ini apa yang dikenal dengan serangan pemikiran (ghozwul fikr).  Selama serangan ini tidak segera dihilangkan maka umat dan Islam akan berada dalam kelemahan yang sulit untuk dibangkitkan.

Moment hijrah pemikiran menjadi upaya melakukan serangan balik terhadap pemikiran yang merusak.  Mengikuti seruan dakwah pemikiran, dan melakukan pengkajian berbagai tsaqofah Islam, berdiskusi dengan berbagai kalangan yang komitmen dalam perjuang Islam kaffah menjadi  langkah yang tepat dalam prosesi hijrah pemikiran.  Masyarakat Islam harus melakukan perubahan pemikiran,  karena dari pemikiran yang benar akan lahir perilaku atau akhlak yang benar. Kejayaan Islam memerlukan totalitas hijrah pemikiran. 

Tekad dan upaya untuk berubah tentunya menjadi modal utama.  Karena perubahan tidak terjadi begitu saja, sebagaimana Allah SWT telah memberi isyarat dalam al-Qur'an melalui firmanNya :

   إِنَّ اللهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ

 _"Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri"_ .(QS ar-Ra'd : 11)

Inilah saatnya umat Islam bangkit untuk bahu membahu berjuang hingga sampai pada kejayaan Islam kembali tegak.  Kembali memimpin dalam pentas dunia  dengan aturan yang diridhoi dari sang Kuasa Allah subhanahu wa ta'ala.
 
Top