Oleh : Amey Bunda Hafidz


Bulan juli 2020 Eucalyptus mendadak popular. Diketahui, eucalyptus disebut dapat mengobati penyakit akibat virus corona. Kementerian Pertanian (Kementan) menyatakan sedang mengembangkan kalung antivirus yang diklaim mampu membunuh virus, termasuk virus corona Covid-19.


Kalung ‘Anti-Virus Corona Eucalyptus’ tersebut dibuat Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan) Kementerian Pertanian. Mentan SYL mengklaim kalung ini dapat mematikan virus Corona dengan kontak, dengan cara dihirup.


Kontak 15 menit bisa membunuh 42% Corona, semakin lama maka lebih banyak yang tereliminasi. Dalam jangka waktu setengah jam, bisa membunuh hingga 80%. Direncanakan produk kalung eucalyptus tersebut diproduksi massal di bulan Agustus ini.


Namun setelah muncul reaksi dari Direktur McGill University’s Office for Science and Society (McGill OSS), Profesor Joe Schwarcz, seorang profesor bidang kimia yang telah menerima berbagai penghargaan internasional di bidang tersebut. Kementan akhirnya mengeluarkan klarifikasi.


Dalam klarifikasinya, Fadjry mengatakan bahwasanya izin BPOM tidak menyebut antivirus, melainkan hanya sebagai jamu dan bukan vaksin. Namun jika memang ini tidak punya manfaat untuk antivirus, menurut Fadjry paling tidak bisa memperbaiki pernapasan dan minimal mengurangi gejala dari Covid-19.


Fadjry memang mengatakan Balitbang Kementan telah meriset senyawa eucalyptol dan khasiatnya dalam penanganan virus coronan  sejak pandemi masuk ke Indonesia Maret lalu. Di mana pihaknya melihat efektivitas dari kalung tersebut hanya untuk meredakan pernapasan dan gejala corona saja.


Sementara itu, pakar farmakologi klinis dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) dr. Nafrialdi mengatakan, klaim kalung bisa menangkal penyebaran virus corona berpotensi menyesatkan masyarakat.


Belum lama berselang dari keriuhan atas perbincangan eucalyptus, Indonesia digemparkan ulang dengan adanya pernyataan orang Indonesia atau pihak tertentu terkait obat atau herbal yang bisa menyembuhkan Covid-19. Salah satunya adalah Hadi Pranoto, seseorang yang memperkenalkan diri sebagai profesor sekaligus Kepala Tim Riset Formula Antibodi Covid-19. Baru-baru ini Hadi diwawancara oleh musisi Erdian Aji Prihartanto atau Anji, yang diunggah dalam video Youtube pada 31 Juli 2020. Dalam video tersebut, Hadi menyebutkan bahwa cairan antibodi Covid-19 yang ditemukannya bisa menyembuhkan ribuan pasien Covid-19. Cairan antibodi Covid-19 tersebut diklaim telah didistribusikan di Pulau Jawa, Bali, dan Kalimantan. Hadi menyebutkan bahwa lama penyembuhan berkisar 2-3 hari. https://www.kompas.com 02/08/2020.


Juru Bicara Satuan Tugas Penanganan Covid-19 Wiku Adisasmito turut menanggapi beredarnya informasi soal klaim obat Covid-19 dari Hadi Pranoto. Mengenai klaim Hadi, Wiku mengatakan, di Indonesia telah diatur tentang produk herbal berupa jamu, obat herbal terstandar, dan fitofarmaka. Jika ramuan herbal tersebut masih dalam tahap penelitian dan belum ada bukti ilmiah tentang keamanan dan efektivitasnya, Wiku mengatakan, tidak boleh dikonsumsi oleh masyarakat. Karena Wiku sebenarnya juga masih mempertanyakan siapakah sebenarnya Hadi Pranoto.https://www.kompas.com 02/08/2020.


Lantas kecamanpun lahir dari Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB IDI) yang mengecam klaim seorang pria bernama Hadi Pranoto yang mengaku telah menemukan 'obat COVID-19' di channel YouTube musisi Anji. IDI menegaskan klaim Hadi Pranoto itu membahayakan. "Ya namanya pembohongan, kan penipuan masyarakat. Dan itu sangat berbahaya sekali. Kalau menyebar luas begitu gimana?" kata Wakil Ketua Umum PB IDI, dr. Slamet Budiarto, saat dihubungi, Minggu (2/8/2020).


"Ya obat itu kan berarti harus diuji klinik, seperti vaksin. Dia uji klinik di mana? Kecuali kalau herbal itu kan cuma untuk suplemen, nggak ada masalah. Tapi kalau dia sudah ngomong obat, itu nggak boleh. Karena obat itu harus diuji klinik," ujar Slamet. https://news.detik.com 02/08/2020


Abdul Kareem Newell menyebutkan bahwa kelemahan mendasar dari sistem demokrasi sekuler adalah tidak adanya ketakutan dari pemimpin kepada Tuhannya atau pertanggungjawaban di akhirat nanti. Hal ini membuka peluang besar bagi pemimpin untuk terjerumus dalam sikap tiran. (Akuntabilitas Negara Khilafah, 2011, PTI h 67-68).


Maka hal yang wajar dalam negara kapitalis tidak ada pemberian jaminan apa pun pada rakyatnya. Karena tugas dan fungsi negara hanya sebagai wasit bagi rakyatnya. Negara baru bertindak jika ada masalah. Jaminan diberikan sebagai bentuk tambal sulam dari kebobrokan sistem kapitalisme.


Hal ini terlihat nyata dalam perilaku negara yang menjadikan rakyatnya seolah hanya sebagai kelinci percobaan. Nyaawa kini tidak lagi berharga. Lantas apakah negara berharap bahwa rakyat akan tetap bisa percaya?


Sudah banyak masyarakat yang terlihat menyepelekan akan bahaya dari virus covid-19 ini. Meskipun negara sudah berupaya untuk menyakinkan masyarakat akan bahaya yang mengintai, namun mereka tetap saja abai .


Hal ini tak lain lahir dari lambannya pemerintah dalam penangan wabah covid-19 yang semakin hari bukan semakin menurun justru semakin naik. Bahkan Indonesia kini menduduki posisi 7 di Asia. https://muslimahnews.com 04/08/2020


Sungguh apa yang terjadi hari ini semestinya cukup untuk mengoreksi total sistem kesehatan sekuler kapitalistik yang diterapkan sebagai bagian kecil dari sistem hidup sekuler secara keseluruhan. Karena sistem ini benar-benar jauh dari kata manusiawi. Semuanya –termasuk urusan kesehatan– serba diukur dengan takaran untung rugi.


Hal ini memang niscaya, mengingat sistem ini tegak di atas paradigma yang rusak. Akidah sekularisme yang mendasari sistem hidup hari ini benar-benar menafikan nilai kebaikan alias halal haram. Dan sebaliknya, begitu mengagungkan nilai-nilai material dan kemanfaatan.


Maka lahir dari asas ini, sistem kepemimpinan dan kekuasaan yang sarat kepentingan. Fungsi mengurus dan menjaga umat hanya ada dalam khayalan. Pelayanan terhadap rakyat justru menjadi alat mencari keuntungan.


Berbeda jauh dengan sistem Islam. Sistem ini tegak di atas landasan keyakinan bahwa manusia diciptakan sebagai hamba Allah dengan mengemban amanat sebagai pengelola kehidupan dan termanifestasi dalam bentuk ketundukan pada aturan hidup yang diturunkan Allah Ta’ala, yakni syariat Islam.


Kesadaran ruhiyyah akan tanggungjawab inilah yang mendorong para penguasa (khalifah) menyediakan hak-hak rakyat dengan hati-hati dan dengan pelayanan terbaik dari kemampuan yang mereka miliki. Tanpa melihat apakah rakyatnya tahu atau menyadari akan hak-haknya atau tidak, dan apakah mereka memintanya atau tidak.


Kesadaran ruhiyah ini pula yang membuat para penguasa atau khalifah terdorong untuk secara kreatif melakukan berbagai riset dan inovasi, sekaligus menciptakan suasana dinamis di tengah-tengah masyarakat.


Dan ini, sejalan dengan penerapan aturan Islam secara kaffah, seperti penerapan sistem pendidikan yang mencerdaskan, sistem ekonomi yang menyejahterakan, sistem politik yang memandirikan dan memartabatkan, sistem hukum yang meminimalisir penyimpangan, sistem sosial yang mendorong kerja sama dalam kebaikan, dan lain-lain. Termasuk di dalamnya, sistem kesehatan yang komprehensif meliputi aspek promotif, preventif, kuratif dan rehabilitatif, yang dipastikan akan menjadi jalan kebaikan, berupa hadirnya sumber daya manusia yang unggul dan siap melaksanakan fungsi penciptaannya sebagai pengelola bumi sekaligus pengemban risalah Islam ke seluruh alam.

 
Top