Oleh: Analisa
(Muslimah Peduli Generasi)


Kasus remaja kian meruak kepermukaan. Menjadi bahan menarik untuk dibicarakan oleh semua kalanganz terutama bagi remaja muslim yang kian hari kian menimbulkan keresahan.


Seperti permasalahan yang baru-baru ini terjadi. Menurut data, ratusan remaja mengajukan dispensasi nikah. Tidak menutup kemungkinan banyak anak remaja yang telah melakukan seks bebas sehingga menyebabkan kehamilan. Ada juga remaja yang sudah berkeinginan menikah tetapi belum sampai umur. Seperti tercantum dalam undang-undang pernikahan di negara ini batas minimal mencapai umur 19 tahun keatas.


Yang jadi permasalahan para remaja ini banyak beranggapan bahwa pernikahan menjadi jalan satu-satunya menyelesaikan permasalahan akibat seks bebas. Sehingga mereka dapat terlindungi serta menutupi kasus keburukan dan aib bagi mereka. Dengan menikah semua selesai.


Ternyata ini bukan permasalahan sepele. Apabila pendapat ini telah menjadi opini, maka remaja yang lain akan ikut terbawa arus serta zina menjadi legal di kalangan masyarakat. 


Kebijakan dispensasi nikah ini menuai pro dan kontra seperti:
1). Dijalankan bersamaan dengan pendewasaan usia perkawinan dengan harapan menurunkan angka pernikahan dini.
2). Menjadi jalan keluar untuk memaklumi fenomena seks bebas di kalangan remaja.
Kritisi terhadap kebijakan ini.


Yang dibutuhkan saat ini bukan larangan nikah dini dan dispensasi nikah. Tetapi bangsa ini membutuhkan pemberlakuan sistem ijtimaiy Islam agar generasi siap memasuki gerbang keluarga dan  mencegah seks bebas remaja. 


Dispensasi nikah karena seks bebas tidak hanya berdampak individual. Tetapi berpotensi melahirkan keluarga tanpa ketahanan dan generasi lemah serta diambang keterpurukan yang panjang.


Faktor penyebab terjadinya hal ini karena umat Islam yang lemah secara akidah sehingga tidak memiliki visi-misi hidup yang jelas. Hal ini diperparah dengan lemahnya pemahaman mereka terhadap aturan-aturan Islam, termasuk tentang konsep pernikahan dan keluarga, fungsi, dan aturan-aturan main di dalamnya. Hal ini karenakan jauhnya Islam dari kehidupan mereka mengadopsi pemikiran liberal dan kapitalis. Serta adanya upaya konspirasi asing untuk menghancurkan umat Islam dan keluarga muslim melalui serangan berbagai pemikiran dan budaya sekuler yang rusak dan merusak. Terutama paham liberalisme yang menawarkan kebebasan individu. Baik dalam berpendapat, berperilaku, beragama, maupun dalam kepemilikan.


Semua itu di dorong oleh kebijakan yang diambil dari sistem kapitalis yang telah bercokol sejak lama dalam pemikiran umat Islam. saat i agama dianggap sebagai ibadah ritual saja. Sehingga enggan mengambilnya untuk mengatur kehidupan dalam aspek yang lainnya. Kapitalis dengan asas sekularisme (pemisahan agama dari kehidupan) jelas telah menuntun manusia agar menjauhkan agama dari pengaturan kehidupan. Agama justru dianggap sebagai racun yang menghambat kemajuan manusia. Walhasil, generasi yang tumbuh dalam sistem kapitalisme menjadi generasi yang gampang ingkar kepada Allah Swt dan tidak takut lagi akan murka-Nya.

Padahal Islam sangat rinci dalam mengatur semua permasalahan umat, secara praktis dan paripurna. Seperti undang-undang pernikahan pada masa kekhalifahan Utsmani tersebut berisi 16 pasal. Salah satunya berbunyi, “Usia pernikahan mulai umur 18-25 tahun. Bila sampai usia 25 tahun belum menikah, maka akan dipaksa menikah.” (Kontributor dakwatuna Ja’far Samin).


Nyatanya saat ini kita tidak memakai aturan dari sang pencipta. Tidak mengikuti metode yang Rasul ajarkan, para sahabat dan Khalifa terdahulu. Maka wajar saja kehancuran pasti kita dapati saat ini. 


Apabila terus kita diamkan maka berakibat patal bagi keberlangsungan generasi umat seterusnya. Maka dari itu kita membutuhkan peran yang sangat kuat dari sistem yang kuat pula yang mampu menopang segala permasalahan umat saat ini. Bukan hanya masyarakat yang harus mengubah cara pandang dengan perbaikan generasi. Namun harus ada penyelamat bangunan keluarga dengan cara pandang, cara berpikir serta tata cara aturan Islam. Hal ini bisa diwujudkan dengan menerapkan aturan hidup bernegara dalam naungan Khilafah. 


Kita harus memperbaiki sistem pendidikan, sistem ekonomi, sistem pergaulan, sistem politik dan lain-lain yang pada hakikatnya adalah saling berhubungan. Ibarat gigi dalam roda. Sungguh, memang jelas bahwa hanya Khilafah metode penyelesaian masalah dalam mengarungi biduk bahtera kehidupan di dunia yang fanah ini.

Dengan kehadirannya umat sejahtera dan aman sentosa dalam bingkai daulah yang berasal dari sang pencipta Allah Swt.

Wallahu a'lam bishawabb.
 
Top