Dispensasi Nikah, What Wrong?

Oleh : Siti Aisah, S. Pd
(Praktisi Pendidikan)

Resah dan gelisah
Menunggu di sini
Disudut sekolah tempat 
Yang kau janjikan
Ingin jumpa denganku
Walau mencuri waktu. 
(Ost. Sinetron Dari Jendela SMP yaitu Kisah Kasih di Sekolah)

Soundtrack lagu Sinetron yang tayang di salah satu TV swasta ini, menjadi begitu populer di masyarakat beberapa waktu ini. Terlepas dari itu semua, sinetron ini yang diadaptasi dari novel dengan judul yang sama pun, menuai berbagai kecaman. Mengapa demikian? Beberapa adegan yang kurang pantas di peragakan oleh seseorang yang bukan muhrim dan berakting layaknya pasangan sah. Dengan konten yang sama dengan sinetron di atas. film ‘Dua Garis Biru' yang mendapat kecaman negatif yang sama mendapat tempat di masyarakat. Dengan dalih mengedukasi remaja agar tidak melakukan seks bebas, film ini pun menuai banyak pujian. Hal ini di tandai dengan 3 penghargaan sekaligus di salah satu ajang film Nasional. 

Madu berbalut racun, mungkin itulah gambaran yang cocok untuk tayangan remaja saat ini. Mereka dipaksa menggemari konten yang mengarah kepada didikan syahwat media. Kemudahan penggunaan teknologi dalam mengakses konten senonoh, yang pada awalnya malu-malu lalu lama-lama menikmati.  Namun sangat disayangkan, aturan yang ada saat ini ada pembatasan usia tentang perkawinan sesuai Undang-Undang Nomor 16/2019 bahwa minimal calon pengantin putri berusia 19 tahun. Sementara sebelumnya Undang-Undang Perkawinan membatasi minimal usia calon pengantin putri adalah 16 tahun. Sehingga, apabila saat ini ada warga yang berencana menikah namun usianya belum genap 19 tahun harus mengajukan dispensasi nikah.

Namun, saat ini kebijakan dispensasi nikah ini dijalankan bersamaan dengan pendewasaan usia perkawinan. Harapannya agar mampu menurunkan angka pernikahan dini, sehingga tidak mudah terjadi perceraian yang disebabkan tidak dewasanya para pasangan yang menikah di usia dini. Bagi sebagian yang lain dispensasi nikah ini adalah ‘jalan keluar’ untuk memaklumi adanya fenomena seks bebas di kalangan remaja akibat hamil diluar nikah atau istilah kerennya adalah MBA (Married By Accident). ”Data permohonan dispensasi nikah sebanyak 240 pemohon tercatat mulai Januari hingga Juli. Sementara usia pemohon dispensasi nikah ada yang berusia 14 tahun hingga 18 tahun. Artinya, tidak hanya semuanya tamatan SMA karena bisa saja ada diantaranya yang putus sekolah atau bahkan tidak sekolah,” ujar Taskiyaturobihah. Ketua Panitera Pengadilan Agama Jepara. (jawapos.com, 26/07/2020) 

Terdata ratusan remaja mengajukan dispensasi nikah di berbagai daerah di Indonesia dalam kurun waktu tertentu. Fakta ini menegaskan beberapa permasalahan tersebut lahir dari rahim sekulerisme yang memisahkan agama dari kehidupan. Kebebasan pergaulan remaja yang nyata menghantarkan kepada kemaksiatan. Agama dianggap hanya khusus sekedar ibadah shalat saja, jadi sampai-sampai ada istilah pacaran islami. Hal ini Ketika pasangannya tersebut mengingatkan untuk shalat ataupun ibadah lainnya. Padahal, aktivitasnya tersebut hanya kamuflase yang sebenarnya akan terus berkembang ke arah kontak fisik. Ironis, aktivitas generasi Bucin (Budak Cinta) yang menjadi julukan remaja saat ini yang mendewakan nafsu syahwat sesaat. Padahal ada jalan yang sudah jelas dihalalkan agama. Yaitu jalur pernikahan. 

Kritisi terhadap kebijakan ini adalah dibutuhkan bukan larangan atas nikah dini ataupun dispensasi nikah. Namun, Bangsa ini membutuhkan pemberlakuan sistem pergaulan Islam agar generasi siap memasuki gerbang keluarga dan mencegah dari seks bebas remaja. Dispensasi nikah akibat dari seks bebas dilakukan para bucin tak bertanggungjawab yang tidak hanya berdampak pada individual saja, tapi berpotensi melahirkan keluarga tanpa ketahanan dan generasi lemah.

Perlu dipahami menikah tidak semata-mata menyalurkan naluri berkasih sayang antara lawan jenis. Namun menjalankan sunnah Nabi yang sesuai dengan fitrah manusia. Walhasil tujuan dari pernikahan adalah adanya ketentraman jiwa. Dengannya akan berkembang kecintaan, kasih sayang, dan kesatuan antara pasangan suami isteri. Karena itu jatuh cinta itu adalah penyakit yang obatnya tiada lain hanya dengan pernikahan. Sehingga dengan ini keturunan umat manusia akan tetap berlangsung semakin banyak dan berkesinambungan.

“Dan diantara tanda-tanda kekuasaanNya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tentram bersamanya, dan dijadikanNya diantara kamu rasa kasih sayang. Sesungguhnya pada yang demikian terdapat tanda-tanda (kekuasananNya) bagi kaum yang berfikir”.(QS. Ar-Ruum:30).
 
Menikah bisa menjadi wajib, sunnah, haram, makruh atau mubah. Wajib bagi orang yang sudah mampu kawin, nafsunya telah mendesak dan takut terjerumus dalam perzinahan. Sunnah bagi orang yang nafsunya telah mendesak lagi mampu kawin, tetapi masih dapat menahan dirinya dari berbuat zina. Dan menikah baginya lebih utama. Haram bagi seseorang yang tidak mampu memenuhi nafkah batin dan lahirnya kepada isteri dan bisa menahan nafsunya. Makruh bagi mereka yang lemah syahwat, dan mubah bagi yang tidak terdesak oleh alasan-alasan yang mengharamkan, mewajibkan, menyunahkan dan memakruhkan (Sayyid Sabiq, Fiqh Sunnah jilid 7)

Dengan demikian, kebijakan dispensasi nikah yang saat ini dilakukan seharusnya diarahkan kepada para calon mempelai yang telah benar-benar wajib untuk menikah. Remaja yang belum mampu diarahkan kepada kegiatan positif bidang pendidikan, perindustrian, ataupun bidang lainnya yang akan memalingkan dari kemaksiatan. Kebijakan ini hanya bisa dilakukan jika akidah islam yang menjadi dasar aturannya. Tontonan yang merusak akhlak akan senantiasa di blokir dan di restart ulang pendidikan agama tentang sistem pergaulan dalam islam.  Sungguh indah aturan Sang Pencipta ini.  Adanya pergaulan antara manusia dan lainnya membuat semakin jelas bahwa dunia ini ada yang menciptakan dan mengatur.
 
Top