Oleh : Siti Nur Afiah, A.Md. Farn
Asisten Apoteker

Angka pernikahan dini di Indonesia melonjak selama masa pandemi Covid-19. Misalnya di Jawa Barat merupakan salah satu provinsi penyumbang angka perkawinan bawah umur tertinggi di Indonesia berdasarkan data Badan Perencanaan dan Pembangunan Nasional tahun 2020.

Dosen Departemen Hukum Perdata Fakultas Hukum Universitas Padjadjaran Susilowati Suparto mengatakan, peningkatan angka pernikahan dini di masa pandemi Covid-19 salah satunya ditengarai akibat masalah ekonomi. Kehilangan mata pencaharian berdampak pada sulitnya kondisi ekonomi keluarga. Kurangnya pengawasan orang tua terkait kebijakan penutupan sekolah dan pemberlakuan belajar di rumah juga menjadi salah satu pemicu maraknya pernikahan dini.

Susilowati menuturkan, aktivitas belajar di rumah mengakibatkan remaja memiliki keleluasaan dalam bergaul di lingkungan sekitar. Ini terjadi bila pengawasan orangtua terhadap anaknya sangat lemah.

Praktik pernikahan dini didapati tetap marak meski pemerintah sudah merevisi batas usia minimal perkawinan di Indonesia menjadi 19 tahun melalui Undang-undang Nomor 19 tahun 2019. Selain itu, ada aturan yang menetapkan penyimpangan batas usia minimal dalam pernikahan hanya bisa dimohonkan dispensasi ke pengadilan. Namun faktanya, regulasi ini belum menekan praktik pernikahan dini di Indonesia. Dispensasi ke pengadilan semakin meningkat.

Dosen FH Unpad Sonny Dewi Judiasih menjelaskan, praktik perkawinan di bawah umum rentan terjadi pada perempuan di pedesaan yang berasal dari keluarga miskin serta tingkat pendidikan yang rendah.

Sejumlah faktor yang memengaruhi praktik pernikahan dini ini di antaranya adanya faktor geografis, terjadinya insiden hamil di luar nikah, pengaruh kuat dari adat istiadat dan agama, hingga minimnya akses terhadap informasi kesehatan reproduksi.

Dan banyaknya data remaja yang mengajukan dispensasi nikah di berbagai daerah, yang terbaru sebanyak 240 siswa SMA di Kabupaten Jepara berbondong-bondong mengajukan permohonan nikah selama periode Januari-Juni 2020, lantaran kedapatan hamil di luar nikah, mereka mendesak kantor pengadilan agama Jepara untuk memberikan dispensasi nikah yang dianggap solusi satu-satunya untuk menutupi aib mereka.

Gaya hidup bebas, pergaulan tanpa ada batasan, dan telah hilang budaya rasa malu ini telah menghantarkan mereka pada kehidupan yang liberal, banyaknya kasus kehamilan di luar nikah yang menimpa anak-anak remaja setiap tahun yang mengalami peningkatan, apalagi minimnya pengawasan orangtua dan didukung pula masyarakat dan negara yang tak peduli.

Untuk saat ini fenomena seks bebas telah merusak generasi bangsa Indonesia dan itu dianggap lumrah oleh sebagian masyarakat, ini menunjukkan bahwa penyaluran syahwat yang bebas tak peduli aturan syariat telah dianggap hal biasa.

Ini menunjukkan bagaimana bobroknya moral para generasi penerus negeri ini, kegiatan maksiat dianggap hal yang wajar padahal dosa zina adalah dosa besar, parahnya dispensasi nikah kini dijadikan sebuah solusi untuk menutupi aib mereka.

Kenakalan remaja yang penuh dengan kebebasan tanpa ada aturan ini tidak lahir dengan sendirinya, ini adalah hasil dari penerapan sistem kapitalis sekularisme yang mengagungkan kebebasan individu terutama dalam hal berperilaku dan beragama.

Kebebasan individu ini lahir dari sekularisme yang mana mereka berpikir bahwa yang berhak membuat aturan adalah manusia dan ini dijadikan dasar oleh mereka untuk berperilaku bebas sesuai dengan keinginan mereka tanpa ada batasan sehingga mereka meniadakan peran Sang Pencipta untuk mengatur kehidupan mereka.

Ketika akidah Islam yang diterapkan di muka bumi ini, maka generasi penerus bangsa akan bebas dari pergaulan bebas karena dalam Islam para remaja betul akan dikontrol oleh keluarga, yang mana keluarga adalah lembaga utama dan pertama untuk membentuk kepribadian ketakwaan putra putri mereka, masyarakat bahkan negara dalam menanamkan nilai-nilai akidah dan mendorong mereka untuk bertakwa kepada Sang Pencipta.

Dan negara akan dengan tegas memberikan sanksi bagi pelaku kemaksiatan, seperti ketika ada remaja yang belum menikah dan dia kedapatan melakukan kemaksiatan, maka dia akan diberi sanksi yaitu dicambuk 100 kali. Ini menunjukkan agar memberi jera kepada remaja lain dan mereka tidak akan melakukan hal seperti itu.

Dengan demikian, maka generasi Islam betul-betul telah lahir yang jauh dari kemaksiatan, akan tetapi bila sistem sekularisme masih diterapkan maka generasi remaja kita tidak akan bisa lepas dari pergaulan bebas. Sehingga yang kita butuhkan saat ini hanyalah dengan penerapan Islam secara kafah.

Wallahu a'lam bishshawab.
 
Top