Oleh : Sri Kayati, S.Pd
(Anggota Komunitas Setajam Pena)

Romantika kehidupan manusia memang tidak pernah sepi dari berita dan masalah. Masalah hidup tidak hanya menghampiri orang dewasa saja. Anak-anak usia sekolah pun tidak terlewatkan pula. Apalagi di  saat-saat sulit seperti sekarang ini, mereka menghadapi berbagai masalah yang menuntut untuk diselesaikan semua. Di usianya yang masih relatif belia, emosinya yang masih sangat labil dimana belum bisa menemukan jadi dirinya serta belum mempunyai cukup bekal  dan  pengalaman hidup, mereka harus mengarungi lautan masalah yang keras menghantamnya. Di sela-sela kesibukannya menuntut ilmu beserta liku-likunya, mendadak mereka dihadapkan dengan keadaan yang memaksa mereka untuk menjalaninya. Dampak atau akibat dari wabah Covid-19 telah memicu munculnya permasalahan tersendiri bagi  anak sekolah. Mereka medadak harus belajar dari rumah secara online yang menuntut banyak hal yang harus tersedia, seperti laptop, android yang bisa support atau mendukung pembelajaran serta kuota data untuk bisa terkoneksi dengan internet.

Di samping itu, aktivitas anak belajar daring di rumah dalam waktu yang relatif lama akan berdampak pada kejenuhan. Sehingga mereka akan mencari pelampiasan dengan pergi keluar rumah serta nekat bertemu dengan teman-temannya. Yang mana aktivitas di luar rumah jelas tanpa pengawasan orang tua. Karena orangtua harus tetap bekerja untuk bisa memenuhi kebutuhan hidup keluarga, apalagi tambah anggaran belanjanya untuk membeli kuota agar anak-anaknya bisa tetap ikut pembelajaran daring dari rumah. Akibat dari masalah yang kompleks tersebut  akan membawa  munculnya masalah baru. Banyak anak yang justru tidak melaksanakan pembelajaran jarak jauh (PJJ) atau daring, tapi mereka malah berkeliaran keluar rumah dengan aktivitas yang tidak jelas. Kondisi seperti ini jelas akan sulit bagi pihak orangtua atau pihak sekolah untuk bisa memantau aktivitas anak. Anak bisa saja terjerumus dalam pergaulan bebas yang berdampak fatal dan memunculkan masalah baru. Banyak kasus anak sekolah yang melakukan pesta seks dan bahkan sampai hamil di luar nikah.

Seperti dilansir jawapos.com (26/7/2020), Pengadilan Agama Jepara, Jawa Tengah, menjelaskan, sebanyak 240 permohonan dispensasi nikah tidak semuanya karena hamil terlebih dahulu. Melainkan, ada yang karena faktor usia belum genap 19 tahun sesuai aturan terbaru. “Dari 240 pemohon dispensasi nikah, dalam catatan kami ada yang hamil terlebih dahulu dengan jumlah 50-an persen. Sedangkan selebihnya karena faktor usia yang belum sesuai aturan, tetapi sudah berkeinginan menikah,” kata ketua Panitera Pengadilan Agama Jepara Taskiyaturobihah. Dia mengungkapkan, sesuai Undang-Undang Nomor 16/2019 tentang Perkawinan bahwa batas minimal calon pengantin putrid berusia 19 tahun. Sementara pada undang-undang Perkawinan sebelumnya, batas minimal calon pengantin putrid berusia 16 tahun. Sehingga, warga yang berencana menikah namun usianya belum genap 19 tahun harus mengajukan dispensasi nikah.  Banyaknya permohonan dispensasi nikah tidah hanya terjadi di Pengadilan Agama Jepara, melainkan hamper menyeluruh setelah ada penambahan batas minimal usia perkawinan dari 16 tahun menjadi 19 tahun.

Senada dengan itu, Dosen Departemen Hukum Perdata Fakultas Hukum Universitas Padjadjaran Susilowati Suparto mengatakan, peningkatan angka pernikahan dini di masa pandemi Covid-19 salah satunya ditengarai akibat masalah ekonomi. Kurangnya pengawasan orangtua terkait kebijakan penutupan sekolah dan pemberlakuan belajar di rumah juga menjadi salah satu pemicu maraknya pernikahan dini. Susilowati menuturkan, aktivitas belajar di rumah mengakibatkan remaja memiliki keleluasaan dalam bergaul di lingkungan sekitar. Ini terjadi bila pengawasan orangtua terhadap anaknya sangat lemah. (kompas.com, 8/7/2020)

Semua permasalahan yang muncul  saat ini sejatinya berawal dari kesalahan dalam pengelolaan dan pemeliharaan urusan rakyat. Bagaimana tidak, asas kebebasan yang menjadi landasan negara dalam menjalankan roda pemerintahan telah menjauhkan masyarakat dari  standar halal dan haram sebuah aktivitas. Dalam aktivitas kehidupannya manusia setiap hari, tidak lepas dari adanya tututan untuk memenuhi potensi hidupnya.  Apapun yang dilakukan manusia di tengah masyarakat setiap hari adalah untuk memenuhi kebutuhan jasmani dan kebutuhan nalurinya. Namun aktivitas yang dilakukan tidak memiliki standar yang baku. Masyarakat melakukan aktivitasnya  tiap hari berdasarkan pemahamannya masing-masing dengan landasan kebebasan. Maka sudah menjadi keniscayaan terjadinya perbedaan pendapat dan kebebasan bertingkah laku di tengah masyarakat tak terelakkan lagi.
Begitu juga dengan yang terjadi pada sistem pergaulan di masyarakat  saat ini, ketika mereka harus menyelesaikan pemasalahan ekonomi dan permasalahan akibat pergaulan bebas anak-anaknya. Mengambil langkah praktis dengan menikahkannya dianggap sebagai  solusi yang paling tepat. Mengajukan dispensasi nikah adalah satu-satunya jalan yang mereka tempuh, untuk menyelesaikan permasalahan yang  sedang dihadapi saat ini. Meskipun jalan yang mereka tempuh tidak sesuai dengan peraturan Undang-Undang Nomor 16/2019 tentang Perkawinan bahwa batas minimal calon pengantin putrid berusia 19 tahun. Karena usia mereka yang akan menikah masih di bawah 19 tahun. Alasan mereka mengajukan dispensasi nikah adalah untuk menyelesaikan permasalahan anaknya yang hamil di luar nikah atau untuk permasalahan ekonomi.

Menikah dalan Pandangan Islam

Hukum menikah adalah sunah karena nikah sangat dianjurkan oleh Rasulullah. Hukum asal nikah adalah sunah bagi seseorang yang memang sudah mampu untuk melaksanakannya sebagaimana hadits Nabi sebagai berikut :
“Wahai para pemuda, jika kalian telah mampu, maka menikahlah. Sungguh menikah itu lebih menentramkan mata dan kelamin. Bagi yang belum mampu, maka puasalah karena puasa bisa menjadi tameng baginya.” (HR. Al-Bukhari no. 4779)

“Ketika seorang hamba menikah, berarti dia telah menyempurnakan setengah agamanya. Maka bertakwalah kepada Allah pada setengah sisanya.” (HR. Baihaqi)

“Menikahlah dengan wanita yang mencintaimu dan yang mampu beranak. Sesungguhnya aku akan membanggakan kamu sebagai umat yang terbanyak” (HR. Abu Dawud)

Merujuk pada hadits di atas, maka orientasi menikah adalah untuk ibadah. Menikah adalah cara yang disyariatkan Allah untuk memenuhi naluri melestarikan keturunan. Jadi yang disebut mampu untuk menikah bukan berdasarkan batasan usia tertentu. Namun kesiapan dan pemahaman tentang pernikahan itulah yang utama. Belum tentu usia 19 pasti siap menikah, ada yang dibawah usia 19 tahun tapi sudah siap. Semua harus dipandang dari sudut pandang syariat. Pembatasan usia pernikahan jelas berujung pada pergaulan bebas. Karena kebutuhan naluri suka pada lawan jenis apabila sudah muncul dan tidak bisa mengelola dan mengalihkan kepada naluri yang lain maka akan melakukan pemenuhan dengan cara yang menyimpang dari syariat. Maka melakukan pernikahan apabila tidak didasarkan pada kesiapan dari kedua belah pihak bisa berujung jadi petaka rumah tangga. Menikah tidak bernilai ibadah tapi malah justru menjadi ajang maksiat. Yang namanya ibadah sudah selayaknya semua sesuai dengan perintah dan larangan Allah SWT. Sehingga proses menuju ke pernikahan pun harusnya berjalan sesuai syariat Islam dan tidak diawali dengan aktivitas maksiat atau perzinaan. Lantas bagaimana agar maksiat tidak marak di masyarakat, maka sistem pergaulan harus berlandaskan pada sistem Islam. Masyarakat diberi pemahaman tentang Islam adalah aturan hidup, bukan sekadar agama ritual belaka. Maka menjadikan syariat Islam sebagai satu satunya standar dalam perbuatan di tengah masyarakat adalah kebutuhan yang sangat mendesak untuk bisa segera memecahkan berbagai permasalahan.

Dengan demikian alasan menikah bukan karena untuk menutupi aib atau yang lain tapi menikah adalah ibadah yang hanya mengharap rida Allah Swt. Karena dengan menjadikan syariat Islam sebagai peraturan di masyarakat, maka aktivitas maksiat yang terjadi akan sangat mudah dicegah. Fasilitas dan hal-hal lainnya yang menjadi rangsangan naluri suka pada lawan jenis yang ada di masyarakat akan ditutup dan diganti dengan bentuk-bentuk fasilitas yang mampu membangun kesadaran masyarakat untuk meningkatkan keimanan dan ketakwaan kepada Allah Swt.
Lantas bagaimanakah kondisi masyarakat yang ideal itu bisa terwujud? Semua hanya akan terwujud apabila negara mau menerapkan sistem Islam, yaitu sistem yang berasal dari Allah Dzat yang Maha Mengetahui tentang aturan yang sesuai untuk makhluk-Nya. Yakni, sistem pemerintahan Khilafah Islam yang mampu mewujudkan peradaban mulia, yang memanusiakan manusia dengan syariat Islam.

Wallahu a'lam bishshawab.
 
Top