Oleh : Narti Ibu Rumah Tangga Bosan rasanya belajar di rumah saja. Itulah kiranya yang dirasakan oleh para pelajar di tengah pandemi Covid-19. Saat situasi dan kondisi virus yang masih mengintai, namun sebagian masyarakat sudah ingin kembali belajar normal. Ini tentu merupakan dilema. Satu sisi mereka merasakan penatnya belajar di rumah, di sisi lain kita meski waspada terhadap tertularnya wabah. Karena faktanya setiap hari, korban wabah ini belum menunjukkan penurunan. Yang terjadi malah sebaliknya, semakin bertambah. Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud), Nadiem Makarim mengizinkan kembali sekolah dibuka untuk kegiatan Belajar Mengajar (KBM) tatap muka. Awalnya hanya mengizinkan sekolah yang berada di zona hijau yang dibolehkan, 15 Juni lalu. Dua bulan kemudian, Nadiem mengizinkan sekolah di zona kuning. Keputusan terakhir ada di Pemerintah Daerah. Jika diizinkan, maka Kepala Sekolah harus memenuhi sejumlah kriteria. "Zona hijau dan kuning diperbolehkan, kalau berkenan untuk melakukan pembelajaran tatap muka. Tapi tentunya dengan protokol," kata Nadiem, Jumat 7 Agustus 2020. (tirto.id.14 Agustus 2020). Sebagai perpanjangan dari para pemangku kebijakan, maka Pemerintah Kabupaten Bandung juga telah menerbitkan surat edaran yang memperbolehkan pembelajaran tatap muka beserta persyaratannya. Kepala Dinas Pendidikan (Kadisdik) Kabupaten Bandung H. Juhana mengatakan bahwa Pembelajaran Tatap Muka (PTM) di lingkungan sekolah tidak dapat dihindari karena sudah terhenti selama setengah tahun. Untuk mengatur hal itu, pihaknya telah mengeluarkan Surat Edaran nomor : 423.5/2159-Disdik tentang pembelajaran tatap muka di satuan Pendidikan pada masa pandemi Covid-19 di Kabupaten Bandung. "Pembelajaran Tatap Muka (PTM) harus dimulai, dimana tiap-tiap sekolah boleh mengusulkan kepada kami (Disdik). Kepala sekolah dan seluruh warga satuan pendidikan, menjadi prioritas kami. Untuk itu kami muat regulasinya dalam surat edaran yang kami keluarkan tanggal 11 Agustus 2020 ini," ungkap Kadisdik, Rabu 12 Agustus 2020. (Galamedianews.com.12/8/20). PTM dapat dilaksanakan di Kecamatan dengan status zona hijau dan kuning dari Covid-19. Beberapa persyaratan bagi sekolah yang mengusulkan kegiatan PTM antara lain : membuat surat permohonan kepada Disdik Kabupaten Bandung dan melampirkan izin atau rekomendasi dari aparat setempat atau Camat, selaku ketua gugus tugas percepatan penanganan Covid-19 Kecamatan. (Galamedianews.com. 12/8/20). Fakta di atas menunjukkan potret kebijakan yang kontradiktif. Di satu sisi angka statistik penyebaran wabah Covid-19 di Indonesia semakin tinggi, tetapi di sisi lain kebijakan pendidikan malah membuka sekolah makin longgar. Metode Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) selama ini memang berjalan dengan banyak mengalami kendala, khususnya secara teknis. Misalnya tidak ada jaringan internet atau sinyalnya buruk, siswa atau guru tak mempunyai gawai, jaringan listrik, hingga metode guru kunjung yang tak optimal karena faktor geografis dan akses ke rumah siswa yang jauh. Namun, kendala-kendala tersebut tidak bisa dijadikan alasan untuk membuka kembali sekolah-sekolah. Karena resiko nyawa dan kesehatan anak, guru, dan orang tua lebih besar ketimbang tertinggal dan tak optimalnya layanan pendidikan bagi siswa. Inilah bukti lemahnya negara kapitalis sekuler dalam mengatasi segala permasalahan, termasuk pendidikan. Pada sistem ini negara tak serius dalam mengurusi masalah pendidikan. Urusan pendidikan tidak dianggap sebagai kebutuhan pokok masyarakat yang seharusnya dipenuhi oleh negara. Karena asas dari kapitalisme, hanya mendahulukan nilai keuntungan materi belaka, tak mempedulikan keselamatan dan hak rakyat. Terbukti, pada saat pandemi Covid-19 seperti sekarang ini, masih saja membuat kebijakan yang berubah-ubah, sehingga membuat rakyat kebingungan. Sistem kapitalisme, sangat berlawanan dengan sistem Islam. Dalam Islam, pendidikan merupakan salah satu kebutuhan pokok masyarakat yang wajib dipenuhi secara maksimal oleh negara. Pendidikan adalah hal yang serius, karena menyangkut masa depan generasi. Islam memiliki metode pengajaran khas, yakni talqiyan fikriyan, yaitu berupa proses penyampaian pemikiran oleh guru dan penerimaan oleh siswa, dengan penggambaran atas fakta (ilmu yang disampaikan) yang berhasil mempengaruhi dan mencerminkan perilaku siswa. Guru meski mampu memiliki kecakapan metode ini, meskipun dalam kondisi wabah pandemi. Sejak awal terjadi wabah, negara sudah membuat aturan lockdown atau karantina wilayah. Wilayah yang terkena wabah dipisahkan dengan wilayah yang bebas dari wabah. Jadi pembelajaran pada wilayah yang bebas wabah masih bisa tetap normal dilaksanakan. Sedangkan di wilayah yang terkena wabah, maka akan dibuat kebijakan pembelajaran jarak jauh (PJJ), dengan sarana dan pra sarana yang tetap akan diberikan. Baik kebutuhan jaringan internet, kuota, maupun platform yang memadai. Seperti dalam hadis Rasulullah saw. terkait ketegasan beliau dalam menangani wabah yang terjadi, yang artinya: "Apabila kalian mendengar wabah di suatu tempat, maka janganlah memasuki tempat itu, dan apabila terjadi wabah sedang kalian berada di dalamnya, maka janganlah kalian keluar darinya." (HR. Imam Muslim) Dengan memahami hadis di atas, maka jelas bahwa negara akan mengambil kebijakan tegas untuk memisahkan antara wilayah yang terkena wabah, dengan wilayah yang terbebas dari wabah. Sehingga seluruh aktifitas bisa berjalan dengan normal. Baik muamalah ekonomi, sosial, termasuk sektor pendidikan, bisa dilaksanakan dengan efektif. Jadi, meskipun terjadi wabah, pembelajaran tatap muka tetap bisa terlaksana tanpa menemui dilema. Demikianlah kelebihan sistem Islam. Mengatasi permasalahan bisa dengan cepat dan tepat tanpa menuai permasalahan baru. Sistem inilah yang selalu kita rindukan. Yang melimpah keberkahan, karena berasal dari Sang Pembuat Hukum bagi manusia, Allah Swt. Ini semua bisa terwujud manakala sistem Islam diterapkan dalam bingkai Daulah Khilafah 'alaa minhaj an-Nubuwwah. Wallahu a'lam bishshowab.
 
Top