Oleh : Fitra Yuni Sara
(Mahasiswa dan Pegiat Literasi Aceh Barat)

Sejatinya Islam tidak pernah mendefinisikan persoalan keagamaan dan politik sebagai dua institusi yang berbeda. Menurut John L Esposito dalam Ensiklopdi Oxford, dalam Islam, negara sebagai institusi politik diselenggarakan untuk melayani kebutuhan-kebutuhan Islam, menjaga ummah, dan menjamin pelaksanaan syariat (hukum Islam).

Meski Islam tak mengenal adanya pemisahan antara agama dan negara, dalam perjalanan sejarah, banyak negara berpenduduk muslim menganut sekularisme. Esposito mengungkapkan “Sekularisme atau proses sekularisasi berasal dari pengalaman sejarah Eropa.” Sekularisme memang berawal dan berakar dari sejarah Kristen di Barat.

Ensiklopedi Islam mendefinisikan sekularisme sebagai suatu aliran atau sistem doktrin dan praktik yang menolak segala bentuk yang diimani dan diagungkan oleh agama atau keyakinan harus terpisah sama sekali dari masalah kenegaraan (urusan duniawi).

Pada abad ke-17 dan 18 M, di Barat, berkembang periode sekularisme moderat. Pada masa itu, agama dipandang sebagai masalah individu yang tak berkaitan dengan masalah negara. Memasuki abad ke-19, berkembang sekularisme ekstrem, ditandai dengan munculnya pemikiran materialisme hintoris Marxisme.

Pada zaman ini, agama benar-benar menjadi urusan pribadi tanpa campur tangan negara. Bahkan, negara memusuhi agama dan orang-orang yang beragama.

Zia gokalp (1875-1924) seorang sosiolog terkemuka dan politikus nasional Turki yang pertama kali memopulerkan istilah “sekuler”di dunia Islam. Ia menggulirkan perlunya pemisahan antara masalah ibadah serta keyakinan dan muamalah. Sehingga, terjadi pemisahan antara kekuasaan spiritual khalifah dan kekuasaan duniawi sultan di Kesultanan Turki Utsmani. (www.Republika.co.id)

Sepanjang sejarahnya sekularisme tidak dapat diterima karena bertentangan dengan aajaran Islam, karena di dalam Islam setiap masalah dalam kehidupan harus berdasarkan aturan yang telah ditetapkan dengan berlandaskan hukum syara’. Contoh, suatu sistem kepemimpinan jika tidak didasarkan dengan aturan Islam, maka bukan hal yang mustahil lagi apabila terjadi kezaliman dan ketidakadilan terhadap rakyat yang dipimpinnya. Sebaliknya, jika Islam memimpin dunia maka sistem akan lebih tertata dengan baik, adil, aman, dan damai.

Jika dilihat dari sudut pandang Islam, ada banyak sekali kerugian yang ditimbulkan dibandingkan dengan keuntungan yang didapatkan.

Islam Mampu Atasi Sekularisme

Proses Sekularisasi yang kian berkembang melanda sebagian umat Islam dan beberapa kalangan lainnya serta kelompok intelektual yang kemudian merubah mindset, sikap serta mencerminkan perilaku mereka yang tidak sesuai ajaran Islam. Kurangnya pendalaman agama mengakibatkan minimnya pengetahuan-pengetahuan mendasar tentang Islam.

Di sinilah masalah yang terjadi, dimana mereka menerima sebagian aturan di dalam Islam dan menolak sebagian yang lain yang menurutnya tidak perlu ia kerjakan. Terlihat jelas bahwa sistem sekuler berkembang luas di tengah-tengah umat Islam.

Islam adalah agama yang mulia, satu-satunya sistem yang mampu atasi seluruh problematika kehidupan termasuk arus sekularisme.

Jika berkembangnya sekularisme disebabkan oleh pendangkalan ilmu agama, maka dapat diatasi dengan peningkatan kualitas kehidupan serta mempelajari dan mengamalkan aturan Islam di seluruh aspek kehidupan. Namun jika berkembangnya sekularisme disebabkan seiring berjalannya perubahan perkembangan Ilmu dan Teknologi, maka harus diatasi dengan menata kembali seluruh lini kehidupan. Peran tersebut seharusnya di bawah pimpinan orang-orang yang berpengaruh dalam negara seperti presiden, menteri, dan seluruh petinggi-petinggi dalam negara.

Mengapa demikian? Karena ketika pemimpin yang memerintahkan dengan tegas, otomatis seluruh warga negara pun ikut menjalankan. Sebaliknya jika pemimpin hanya duduk di singgasananya dengan tenang tanpa memikirkan rakyat, sudah pasti rakyatnya akan hancur dalam menjalani kehidupan yang tidak teratur.

Wallahu ‘alam Bishshawab.
 
Top