Oleh : Ruri Retianty Aktivitas : Ibu Rumah Tangga Tragedi memilukan kembali terjadi ditengah-tengah kita. Laman AyoBandung.com (13/08/2020) melansir, seorang warga Desa Cileunyi, Kecamatan Cileunyi, Kabupaten Bandung, menemukan bayi di tempat sampah dengan kondisi sudah hangus terbakar. Jasad bayi tersebut ditemukan dalam keadaaan terbungkus oleh plastik, sedangkan jenis kelaminnya belum teridentifikasi. Mayat tersebut langsung dibawa ke rumah sakit untuk diotopsi lebih lanjut. Kejadian ditemukannya jasad bayi ini diduga dibuang akibat hasil aborsi yang acap kali terjadi. Hasil penelitian mengenai tingkat pembuangan bayi atau aborsi berdasarkan sampel yang diambil dari sejumlah fasilitas kesehatan di enam wilayah di Indonesia ada 37 aborsi pada 1.000 wanita usia produktif berproduksi (15-49 tahun) setiap tahunnya, (Solopos.com) 17/02/2020. 


Pergaulan bebas di kalangan remaja makin merebak sehingga banyak remaja yang hamil di luar nikah akibat free sex sehingga bayi yang tidak berdosa menjadi korban. Permasalahan aborsi akibat pergaulan bebas di negeri ini memang belum usai, bahkan semakin tidak terkendali saja. Berbagai upaya yang dilakukan pemerintah dalam mengatasi permasalahan tersebut tidak mampu menyentuh akar permasalahan. Salah satunya yaitu usaha menambahkan pendidikan seks di dunia pendidikan. Namun sayang tidak terbukti membuahkan hasil faktanya angka aborsi kian bertambah. Akar permasalahan yang sebenarnya adalah karena negeri ini masih mengemban sistem kapitalisme-sekulerisme. Yakni faham yang memisahkan agama dari kehidupan manusia. Agama hanya dipakai sebatas urusan ritual ibadah semata. Pergaulan tidak boleh melibatkan agama. Tak pelak faham liberalisme (kebebasan) akan muncul bak jamur di musim hujan. Akibatnya masyarakat cenderung membiarkan para remaja melakukan aktivitas pacaran, berikhtilat (campur-baur), khalwat (berdua-duan dengan lawan jenis). Mereka meniru gaya hidup ala barat yang serba bebas. Para remaja juga mudah mengakses situs dewasa atau situs porno. Situs bermuatan tak pantas ditonton oleh siapapun termasuk remaja. Semua itu dampak dari kehidupan manusia yang menafikkan peran Pencipta dalam mengatur pergaulan manusia. 

Diperparah dengan kondisi pemerintah yang tidak mampu melindungi nyawa manusia termasuk terhadap bayi-bayi yang dibuang. Adapun hukuman bagi pelaku pembuangan bayi tidak setimpal dengan perbuatannya. Cukup dengan hukuman penjara yang tidak menjerakan pelakunya sehingga pembuangan bayi terus terjadi. Islam datang ke dunia ini bukan hanya sekedar agama ritual, melainkan lengkap mengatur semua permasalahan yang terjadi dalam kehidupan manusia, termasuk mengatur urusan pergaulan. Syari'at Islam adalah rujukan dan pondasi satu-satunya yang melahirkan aturan paripurna untuk mengatur masyarakat. Pelaksanaan syari'at Islam tersebut didukung oleh tiga pilar yaitu : 1. Ketakwaan individu, yaitu ketakwaan seseorang yang telah mengimani rukun iman dan memahami konsekuensi keimanan kepada Allah Swt, terikat dengan seluruh aturan Allah Swt sebagai Sang Pencipta. Ketakwaan individu inilah yang mendorong setiap muslim termasuk remaja untuk melaksanakan hukum-hukum Islam seputar pergaulan diantaranya menutup aurat, tidak berkhalwat, tidak ikhtilat, dan menyibukkan diri pada kebaikan. 2. Kontrol masyarakat, dalam kehidupan yang memerapkan Islam kaffah, masyarakat dididik untuk bersikap saling peduli, yaitu saling mengingatkan untuk berbuat baik dan berupaya mencegah orang lain untuk berbuat mungkar. Firman Allah Swt :

 "Dan hendaklah diantara kamu ada segolongan orang yang menyeru kepada kabajikan, menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan mereka itulah orang-orang yang beruntung". TQS ali-Imran:[3]:104. Di samping itu, warga diharuskan untuk melapor jika menjumpai kasus pelanggaran terhadap syari'at, seperti pelecehan seksual, zina, dan sebagainya. 3. Negara, negara (khilafah) berwenang menerapkan aturan hukum pergaulan. Negara akan menutup akses yang dapat menginspirasi untuk melakukan tindakan pergaulan bebas seperti situs porno. Tidak hanya itu negara juga mengawasi setiap tayangan yang muncul di televisi agar sejalan dengan Islam, artinya negara akan melarang tayangan yang mempertontonkan aurat, pacaran, LGBT, tabarruj, dan sebagainya. Pengawasan ini dilakukan di bawah kontrol Khalifah. Jika ada yang melanggar, maka negara menjatuhkan hukuman (sanksi) sesuai hukum syari'at. Sanksi dalam Islam bersifat zawajir (pemberi efek jera) dan jawabir (penebus dosa). Negara juga bertugas membangun sistem pendidikan dengan kurikulum berbasis akidah Islam, sehingga remaja akan teredukasi hingga terbentuk kepribadian Islam dengan pola fikir dan pola sikap Islami. Selain itu negara aktif melakukan aktivitas dakwah baik secara langsung yaitu dengan mengirimkan ulama di setiap daerah, juga secara tidak langsung melalui perantara media. Alhasil tiga pilar tersebut itu hanya bisa sinergi dilakukan ketika Islam diterapkan secara kaffah, karena sejatinya Islam melarang pola hidup individualis. Sudah saatnya kita membuang jauh liberalisme faham rusak yang telah membuat aborsi marak. Maka yakinlah kasus aborsi hanya bisa diatasi secara hakiki dengan Islam. Yakni Islam kaffah dalam bingkai Daulah khilafah Islamiyah. Wallahu 'alam bishshowab.
 
Top