Oleh : Hj. Nur Fitriyah Asri
Pengurus BKMT Jember

Pada tanggal 6-10 Juli 2020, telah berlangsung konferensi virtual terbesar skala internasional, Konferensi AIDS ke-23. Momen ini dianggap penting mengingat terjadi peningkatan tajam virus HIV/AIDS. Hingga tiga kali lipat, menurut data terbaru UNAIDS 2020.

Dunia prihatin bahwa capaian program pengendalian HIV/AIDS dinilai gagal. UNAIDS menetapkan target pengurangan jumlah infeksi HIV baru dan kematian karena AIDS di bawah 500.000 per tahun pada 2020. Ternyata dalam dua tahun terakhir mengalami peningkatan tajam. Justru meningkat hingga 1,7 juta orang tertular virus setiap tahun.

Populasi kunci penyebab peningkatan tajam infeksi HIV pada kelompok terpinggirkan yaitu Lesbian, Gay, Biseksual, Transgender (LGBT), pengguna narkoba suntik, narapidana dan pekerja seks. Adapun dana global untuk mengatasi infeksi turun 7%. (Global AIDS Update 2020)

Kegagalan tersebut disebabkan karena kelompok terpinggirkan mengalami diskriminasi (perbedaan perlakuan), distagmasi (sikap direndahkan), sebagai vektor penyakit selama pandemi Covid-19. Akibatnya mengalami hambatan mengakses hak-hak mereka dalam layanan kesehatan. Akhirnya berdampak menghambat pencegahan. Karena pandemi Covid-19 memperparah ketidaksetaraan terhadap LGBT.

Alasan itu menjadi perhatian khusus UN Women's (entitas PBB untuk kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan). Mereka bermaksud mencapai kesetaraan gender dan mewujudkan SDGs pada tahun 2030. Dengan menggalang kekuatan besar bekerja sama dengan organisasi seluruh dunia dengan mitra eksternal penyandang dana, di antaranya unilever, yang beroperasi di lebih dari 180 negara.

Ibarat mendapat angin segar.
Hal tersebut mendorong keseriusannya dalam memperjuangkan kesetaraan gender. Apalagi mengingat keberadaan di negeri-negeri  muslim (Indonesia) masih diperdebatkan. Seharusnya dunia menghormati orientasi seksual setiap orang sebagaimana pernyataan Winnie Byanyima, Direktur Eksekutif UNAIDS.(voa.indonesia.com)

Dengan alasan tersebut, kemudian diangkatlah peringatan "Pride Month atau Bulan Kebahagiaan" bagi komunitas LGBT pada tahun ini. Sesungguhnya terjadinya di AS untuk memperingati kerusuhan Stonewell yang terjadi pada akhir tahun1969 oleh orang-orang LGBT.

Kemudian peristiwa tersebut menjadi momen penting dalam perjuangan gerakan hak-hak LGBT Modern, yang diisi dengan berbagai kegiatan.

Sangat naif, jika pandemi Covid-19 sebagai pihak tertuduh dikambinghitamkan sebagai penyebab naiknya virus HIP/AIDS. Juga menyebabkan ketidaksetaraan kepada kelompok terpinggirkan, dalam hal ini penyumbang terbesar HIV/AIDS adalah LGBT. Padahal dalam sejarah, belum pernah mengalami penurunan, yang ada justru mengalami peningkatan.

Semua itu disebabkan karena sistem yang diadopsi adalah sekularisme, paham yang memisahkan agama dengan kehidupan. Agama tidak boleh mengatur urusan publik. Jadi jangan berharap jika virus HIV/AIDS dan kelompok terpinggirkan akan mengalami penurunan. Jauh panggang dari api. Semua itu hanya ilusi.

Sebab di balik itu, sejatinya ada skenario keji untuk menghadang tegaknya khilafah.
Yaitu dengan menghancurkan umat Islam, salah satunya: berusaha melegalisasikan kelompok LGBT agar hak-haknya dapat dilindungi dari ancaman hukum Islam. Dengan demikian syariat Islam yang menjadi penghalang keterikatan umat Islam dengan hukum syara dapat disingkirkan.

Dengan begitu, upaya mewujudkan kebebasan perilaku yang diyakini Barat terwujud. Menurut Barat, kebebasan merupakan hak dasar bagi setiap manusia. Pada akhirnya umat lebih menuntut kebebasan (liberal), tidak mau lagi terikat dengan syariat Islam.  Akhirnya lupa dengan kewajibannya menegakkan khilafah. Lebih dari itu bahkan akan menolak dan memusuhi khilafah.

Agar mendapatkan pengakuan legalitas keberadaan LGBT, Barat membutuhkan partner untuk mengampanyekan nilai-nilai Barat di negeri-negeri muslim. Dimana dalam dokumen buku "Building Islam Moderat Network" yang terbit tahun 2007. Di situ dengan gamblang disebutkan bahwa partner yang dimaksud adalah kelompok Islam moderat (Islam Liberal), LSM, ormas Islam moderat, akademisi, tokoh-tokoh moderat. Dalam hal ini termasuk kelompok perempuan yang memperjuangkan kesetaraan gender untuk mencetak muslim moderat.

Omong kosong jika menjadikan legalisasi LGBT sebagai alasan untuk mencegah penularan infeksi HIV/AIDS. Justru dengan dilegalisasikan, membuat kelompok terpinggirkan itu mendapat angin segar, bebas berbuat tanpa takut terjerat hukum, baik hukum agama maupun negara.

Dampaknya luar biasa, kemaksiatan merajalela, terjadi penurunan angka kelahiran (terancam punah), meningkatnya penyebaran penyakit menular seksual, azab Allah akan tiba. Itulah akibat sistem yang rusak akan menghasilkan kerusakan. Di samping menggunakan falsafah "devide et impera" Barat juga menggunakan semua cara,  termasuk legalisasi LGBT dengan tujuan menghancurkan umat Islam agar khilafah tidak tegak.

Oleh sebab itu hanya sistem Islam yaitu khilafah yang bisa menghentikan dan menguburkan ideologi kapitalis sekuler.

Sebab, khilafah mempunyai sistem komprehensif sebagai problem solving. Aturan yang sempurna berasal dari Allah. Mengatur semua lini kehidupan, baik individu, keluarga, masyarakat dan negara. Khilafah tidak akan memberikan udara bebas kepada pelaku LGBT dan bentuk kemaksiatan apapun.

Wallahu a'lam bishshawab.
 
Top