Oleh: Neti Ummu Hasna

Perusahaan besar Unilever menyatakan dukungannya terhadap komunitas LGBTQ. Pernyataan itu diposting melalui akun instagramnya Unilever Global pada Jumat 19 Juni 2020. Otomatis Unilever menambah deretan panjang perusahaan-perusahaan besar dunia yang mendukung LGBTQ. Sebelumnya telah ada Apple Inc, Microsoft Corp, Google Inc, Coca-Cola.co, Walt Disney.co, Visa, Mastercard, Yahoo! Inc-, dll. Di satu sisi hal ini tidaklah mengherankan, mengingat perusahaan seperti Unilever ini dan juga perusahaan-perusahaan lainnya, umumnya adalah perusahaan milik asing, dimana nilai-nilai barat sudah melekat, termasuk penerimaan mereka terhadap komunitas LGBTQ. Di sisi yang lain perusahaan-perusahaan ini banyak beroperasi di negara-negara yang mayoritasnya adalah muslim, termasuk di Indonesia. Tak pelak dukungan Unilever terhadap LGBTQ inipun mendapat reaksi dan penolakan keras dari masyarakat di Indonesia. Warganet bahkan MUI pun menyerukan aksi boikot terhadap produk-produk Unilever. Mereka tidak rela uang yang sudah dibelanjakan untuk membeli produk-produknya  digunakan untuk membiayai/mendukung kaum LGBTQ. Mereka beralasan, lebih baik tidak pakai produknya daripada ikut berdosa.

Namun tanggapan lain pun muncul. Apakah boikot produk itu cukup efektif dan berpengaruh untuk "memberi pelajaran" pada pihak Unilever sehingga mereka akan menghentikan dukungannya pada komunitas LGBTQ? Mungkin benar aksi boikot itu akan merugikan mereka, namun seberapa signifikan pengaruhnya, mengingat Unilever itu perusahaan raksasa. Keberadaannya sudah puluhan tahun dan mengakar kuat di Indonesia. Produk-produknya pun sudah sangat lekat di masyarakat. Coba saja cermati produk-produk rumah tangga yang ada di rumah kita, mulai sabun mandi, sabun cuci, odol, sampo, makanan, minuman, kecap, penyedap masakan mungkin sebagian besarnya produk Unilever atau produk perusahaan asing yang lainnya. Artinya hampir-hampir tidak ada produk kebutuhan rumah tangga kita yang tidak bergantung dari perusahaan-perusahaan besar itu. Sekuat itulah gurita perusahaan-perusahaan asing itu di negara kita. Belum lagi guritanya yang ada di negara-negara lain di seluruh dunia. 

Betul, kita memang harus menyatakan sikap atau melakukan tindakan terhadap setiap bentuk kebatilan yang terjadi atau yang dikampanyekan oleh siapapun. Mungkin tindakan untuk tidak lagi membeli produk-produk Unilever bisa saja menjadi pilihan pribadi anggota masyarakat, sebagai bentuk protes atau pernyataan sikap mereka. Namun jika untuk menghentikan dukungan Unilever terhadap LGBTQ sepertinya jauh panggang dari api. Kecuali, jika negara yang melakukannya. Bukan hanya satu negara tapi seluruh negara dimana Unilever berdiri di sana. Selevel negara bahkan bisa melakukan tindakan lebih dari itu dengan mencabut ijin operasi perusahaan tersebut. Namun, hal inipun mustahil terjadi. Pasalnya hampir semua negara saat ini menganut asas sekularisme dimana ide-ide kebebasan telah tumbuh subur bahkan menjadi sarana untuk lahan bisnis mereka. Apalagi kalau bicara boikot memboikot, apakah Indonesia sudah siap untuk berdikari dalam industri? Bukan pesimis atau merendahkan, tapi kita bicara tentang fakta dan mental penguasa negeri ini.

Jika sudah demikian, maka tidak ada cara untuk memberantas komunitas LGBTQ kecuali dengan edukasi dan memahamkan masyarakat secara terus menerus. Dipandang dari norma apapun terutama dari sisi aqidah Islam LGBTQ adalah penyimpangan/dosa yang dilaknat oleh Allah dan Rasul-Nya yang berimplikasi pada munculnya kemudharatan yang besar bagi para pelakunya, masyarakat dan juga negara. Masyarakat yang di dalamnya tumbuh subur komunitas LGBTQ ini akan menjadi masyarakat yang rusak, rapuh, penyakitan dan dengan cepat akan hancur binasa. Maka juga perlu adanya upaya untuk mengonter setiap individu, lembaga, komunitas ataupun negara yang berinisiatif untuk melegalkan komunitas LGBTQ agar diterima sebagai layaknya manusia atau anggota masyarakat yang normal.

Dari Ibnu Abbas Rodhiyallahu ‘anhuma, dia berkata bahwa Nabi Shollallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Allah melaknat siapa saja yang berbuat seperti perbuatan kaum Luth. Allah melaknat siapa saja yang berbuat seperti perbuatan kaum Luth. Allah melaknat siapa saja yang berbuat seperti perbuatan kaum Luth” ( Terjemah Hadits Riwayat Nasa’i dalam Kitab As-Sunan Al-Kubra IV/322 (no. 7337)

Dari Jabir Rodhiyallahu ‘anhu, dia berkata bahwa Rosulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

“Sesungguhnya yang paling aku takuti (menimpa) umatku adalah perbuatan kaum Luth” ( Terjemah Hadits Riwayat Ibnu Majah : 2563, 1457).

Semua upaya tersebut akan lebih efektif lagi jika telah terwujud sebuah institusi/negara yang mengadopsi nilai-nilai ajaran Islam dalam tata aturan dan perundang-undangannya. Dengan aturan Islam itulah segala bentuk nilai atau perilaku yang bebas dan menyimpang akan bisa dicegah dan diberantas dari tengah-tengah masyarakat. Karena Islam memiliki seperangkat aturan yang preventif, edukatif dan kuratif untuk setiap persoalan manusia. Dengan aturan Islamlah akan terwujud masyarakat yang sehat, harmonis dan produktif. Sebuah gambaran masyarakat yang menjadi harapan kita semua tentunya.
 
Top