Oleh : Alfira Khairunnisa Aktivis Muslimah Peduli Umat

11 Juli lalu bertepatan dengan tragedi berdarah Srebrenica. Ya, 25 tahun yang lalu. Sungguh tragis tragedi pembantaian yang terjadi di Srebrenica pada tahun 1995 silam. Pembantaian tersebut menjadi sejarah kelam Eropa. Ribuan warga Muslim Bosnia menjadi korban peristiwa tersebut.

Pasukan Serbia membunuh lebih dari 8.000 pria dan anak lelaki muslim dalam beberapa hari saja pada 11/7/1995 setelah Srebrenica dikepung. Sungguh mencengangkan. Selama Perang Bosnia, Srebrenica dikepung oleh pasukan Serbia antara 1992 dan 1995. Benar saja, saat itu milisi Serbia mencoba merebut wilayah dari Muslim Bosnia dan Kroasia untuk membentuk negara mereka sendiri.

Kemudian pada tahun 1993, Dewan Keamanan PBB telah menyatakan bahwa Srebrenica sebagai "daerah aman". Tapi apa yang terjadi? Pasukan Serbia yang dipimpin oleh Jenderal Ratko Mladic yang sekarang menghadapi tuduhan genosida di Den Haag menyerbu zona PBB meskipun kehadiran sekitar 450 Belanda tentara yang ditugaskan untuk melindungi warga sipil yang tidak bersalah sebagai pasukan penjaga perdamaian PBB.

Nestapa Umat Tanpa Penjaga

Tragedi ini juga menjadi bukti tidak adanya perlakuan adil PBB terhadap negara berpenduduk muslim, bahkan PBB menjadi alat melegitimasi kebengisan segelintir penjahat untuk memuaskan nafsu kedengkiannya terhadap Islam dan kaum muslim

Tragedi Srebrenica dan perang Bosnia menjadi pelajaran penting bagi umat, bahwa saat ini umat butuh penjaga. Tanpa penjaga dan pembela, negeri muslim akan terus menjadi medan pertarungan kepentingan negara besar yang tak segan  mengorbankan ribuan nyawa muslim. Beginilah ketika hidup tanpa penjaga umat. Umat tiada penjaga dan pembela. Maka pertanyaannya, dimana sesungguhnya peran negara?

Imam al-Ghazali pernah mengungkapkan pentingnya kekuasaan dan negara. Beliau mengatakan bahwa agama dan kekuasaan (ibarat) saudara kembar. Agama adalah pondasi dan kekuasaan adalah penjaga. Sesuatu yang tanpa pondasi niscaya runtuh dan sesuatu tanpa penjaga niscaya lenyap.

Betapa menyedihkan umat kini. Hingga banyak akibat yang menimpa umat Islam di seluruh dunia akibat ketiadaan Imam atau Khalifah, sebagai penjaga bagi Umat Islam. Umat Islam terpecah-belah. Negeri-negeri Muslim terpisah-pisah atas dasar nasionalisme di lebih dari 50 negara. Akibatnya, kaum Muslim menjadi lemah walaupun secara jumlah sangat besar.

Dengan begitu, mereka menjadi santapan empuk negara-negara imperialis Barat. Bukan hanya Srebrenica. Tapi juga yang menimpa saudara-saudara kita di Palestina, Kashmir, Afghanistan, Irak, Muslim Rohingnya, dan wilayah lainnya. Walaupun berjumlah banyak, umat Islam tampak tidak berdaya menghadapi Barat. Sebabnya, mereka tidak bersatu; hidup terpisah-pisah oleh batas-batas nasionalisme dan nation-state.

Benarlah seperti yang digambarkan oleh Rasulullah saw.:

“Telah berkumpul umat-umat  mengelilingi kalian sebagaimana orang-orang yang makan berkumpul mengelilingi piring mereka.” Mereka bertanya, “Apakah pada saat itu kami sedikit, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Tidak. Pada saat itu kalian banyak, tetapi kalian seperti buih di lautan. Allah menghilangkan rasa takut dari dada-dada musuh kalian kepada kalian. Allah pun  menimpakan pada kalbu-kalbukalian penyakit Al-Wahn.” Mereka bertanya, “Apakah penyakit Al-Wahn itu, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Cinta dunia dan takut akan mati.” (HR Abu Dawud dan Ahmad).

Belum lagi berbagai ragam penindasan menyelimuti kaum Muslimin yang disebabkan tiadanya penjaga umat. Bahkan sampai saat ini kita masih menyaksikan bagaimana Umat Islam di Uighur mengalami penindasan. Para pemimpin negeri Muslim hanya bisa mengutuk tanpa melakukan usaha untuk membebaskan umat Islam di sana. Bukankah umat Islam itu bersaudara? Sebagaimana firman Allah SWT:
ٞ
Sungguh kaum Mukmin itu bersaudara (QS al-Hujurat [49]: 10).

Bukankah Rasulullah saw. juga telah mengumpamakan umat Islam itu ibarat satu tubuh? Sebagaimana sabda beliau:

“Perumpamaan kaum Mukmin dalam berkasih-sayang itu bagaikan satu tubuh. Jika satu anggota badan merintih kesakitan maka sekujur badan akan merasakan panas dan demam.” (HR Muslim).

Sama juga halnya dengan yang dialami oleh umat Muslim Rohingya di Myanmar yang sampai sekarang terus dibantai oleh rezim Komunis. Mereka terusir dari tanah yang sudah ratusan tahun mereka tempati. Di Kashmir pun Muslim turut mengalami penganiayaan dan penyiksaan.

Penderitaan umat Islam di Suriah pun sampai sekarang masih terjadi. Sudah ratusan ribu korban lebih yang meninggal. Kota-kota di Suriah pun luluh-lantak. Rusia membantu rezim Bashar al-Assad dalam membantai umat Islam di sana. Sungguh perih rasanya mengetahui saudara seaqidah terus mendapat perlakuan dzolim penguasa negerinya.

Nestapa umat karna ketiadaan Khilafah juga terus menghimpit negeri. Termasuk menghimpit kekayaan alam negeri-negeri Muslim yang dirampok. Negeri-negeri Muslim adalah negeri yang kaya akan sumberdaya alam (SDA). Namun sayang, tak dapat memakmurkan rakyatnta. Kekayaan alam tersebut tidak dinikmati oleh umat Islam sebagai pemilik seluruh sumberdaya alam tersebut. Padahal, Rasulullah saw. bersabda:

“Kaum Muslim bersekutu dalam tiga perkara: padang rumput, air dan api.” (HR Abu Dawud, Ahmad, al-Baihaqi dan Ibn Abi Syaibah).

Jika sistem Islam diterapkan, Maka sistem Islam akan mengelola sumberdaya alam tersebut. Kemudian hasilnya akan dikembalikan kepada rakyat baik dalam bentuk fasilitas atau pelayanan berupa pendidikan dan kesehatan, serta hal lainnya yang menjadi kebutuhan pokok rakyat.

Namun, apa yang terjadi saat ini? Ketika sistem Islam tidak diterapkan, yang terjadi adalah kekayaan alam tersebut diambil-alih oleh Negara atau oleh perusahaan-perusahaan swasta baik dari dalam maupun luar negeri. Negara kafir Barat pun melalui perusahaan-perusahaannya menjarah kekayaan alam di negeri-negeri Muslim atas nama investasi.

Dengan tiadanya lagi kehidupan Islam yang diatur dengan hukum syariah di dalam sistem Khilafah, yang kemudian digantikan dengan kehidupan yang diatur dengan nilai-nilai Barat sekular, maka umat Islam kemudian semakin terasing dengan ajaran agamanya sendiri. Mereka menganggap syariah Islam sudah tidak sesuai dengan kondisi dan tuntunan zaman. Mereka sampai pada tahap memusuhi ajaran agamanya sendiri, seperti Khilafah. Inilah akibat dari proses sekularisasi yang telah sekian lama merasuki pikiran umat Islam. Maka, sudah saatnya umat ini mengambil sistem terbaik. Wallahu a'lam bish-shawab.
 
Top