Oleh : ummu Qutuz 
Ummahat dan Member AMK     

25 Tahun yang lalu, tepatnya pada Juli 1995 terjadi pembantaian Srebrenica. Pembantaian atau tepatnya adalah genosida (pembersihan etnis) muslim yang sangat biadab dipertontonkan. Lebih dari 8.300 muslim dibunuh secara brutal dan lebih 60.000 muslim sepanjang perang  Bosnia diperkosa  ketika pasukan pemelihara perdamaian PBB membiarkan terjadi. PBB sendiri menggambarkan sebagai kejahatan terbrutal di Eropa sejak perang Dunia ke-2.
 
Selama 21 tahun terakhir, pengadilan kriminal internasional (ICC) yang terbasis di wilayah Deen Haag menghukum beberapa orang Serbia, yang paling menonjol adalah pemimpin Serbia Bosnia Radovan Karadzic, dihukum penjara hanya 40 tahun. Rekan militernya Jendral Ratko Mladic meskipun terlambat dihukum seumur hidup. Namun kesalahan tidak terbatas pada Serbia saja. Dalam wawancara eksklusif dan kesaksian di pengadilan menunjukkan bahwa pemerintah Inggris, Amerika , dan Prancis bersama dengan PBB, mengetahui 6 minggu sebelum pembantaian bahwa kantung Srebrenica akan jatuh akan tetapi mereka membiarkan nasib kaum muslimin Serbia tersebut.
   
Barat terlibat dalam upaya melenyapkan muslim secara permanen. Bukti keterlibatan Barat dapat ditelusuri, komando militer Serbia Bosnia mengeluarkan "Directiv 7". Perintah ini pada awalnya merupakan arahan untuk memastikan "mati lemasnya daerah kantong" tetapi kemudian menjadi "operasi tempur untuk menciptakan situasi tak aman yang luar biasa, tanpa alasan untuk bertahan hidup". Penduduk Srebrenica dan Zepa dan memerintahkan pemindahan permanen muslim Bosnia dari daerah aman.
     
Pada 2 Juni Mladik memerintahkan "Penghancuran pasukan muslim di kantong-kantong ini". Mantan Menteri Pertahanan Belanda Joris Voorhoeve bersikeras bahwa para pemimpin Barat sepenuhnya menyadari perintah ini, tapi ia dan pasukan Belandanya ''disimpan dalam kegelapan''. Badan intelejen setidaknya dua dari lima anggota tetap dewan keamanan  PBB mengetahui pada awal Juni 1995 satu setengah bulan sebelum serangan itu. Bahwa Serbia bermaksud mengepung dalam beberapa minggu mendatang. Ketiga kantung timur itu adalah Srebrenica, Zepa dan Garazde. Kantor berita yang berbasis di Inggris, Observer, telah memverifikasi secara independen bahwa kedua
negara itu adalah AS dan Inggris.
   
Pada tahun 90-an, seorang cendekiawan genosida Gregory H.Stanton asal Amerika, meneliti tahapan genosida. Genosida bukan dilakukan oleh sekelompok kecil individu. Melainkan oleh sejumlah besar orang dan negara yang semuanya berkontribusi pada terjadinya genosida.

Gagasan awal tentang Serbia Besar (termasuk wilayah Bosnia, Kosovo, Kroasia,1 Montenegro dan negara-negara tetangga lainnya) sudah ada sejak abad ke-19 dan dihidupkan kembali setelah kematian pemimpin Yugoslavia Josip Bros Tito pada tahun 1980. Dengan kemunduran blok komunis, Presiden Serbia Slobodan Milosevic dan kaum nasionalis Serbia melihat kesempatan untuk memobilisasi massa untuk mendukung pembentukan negara Serbia yang homogen. Orang Bosnia dicap sebagai teroris dan ekstremis Islam. Dan dianggap sebagai acaman terhadap proyek hegemoni Serbia. Terjadi dehumanisasi terhadap orang Bosnia yang dilakukan oleh orientalis Serbia yang berpengaruh, Gereja Ortodoks dan beberapa orang sejarawan.

Sebuah rencana untuk menghancurkan Bosnia dan "sepenuhnya memusnahkan orang-orang muslim" disusun pada awal 1980-an oleh staf umum Angkatan Darat Rakyat Yugoslavia. Menurut Vladimir Srebrov, seorang politisi yang ikut  mendirikan partai SDS dengan terpidana  penjahat perang Serbia Bosnia Radovan Karadzic. Dikenal sebagai rencana RAM (bingkai) yang terkenal, tujuannya adalah untuk menjadikan Bosnia sebagai Serbia Besar dan Kroasia Besar. Satu dokumen yang ditulis oleh dinas khusus tentara termasuk para pakar perang  psikologis menyatakan bahwa cara paling efektif untuk menciptakan teror dan kepanikan di antara penduduk Bosnia yaitu dengan memperkosa kaum wanita, anak-anak di bawah umur, dan anak-anak.
       
Sampailah pada hari dimana terjadi pemusnahan massal terhadap etnis muslim Bosnia yaitu pada tanggal 11 Juli yang dikomandoi oleh Jenderal Ratko Mladic (sekarang menjadi penjahat perang) bersama pasukan militer Serbia dan unit paramiliternya. Dalam upaya untuk menyembunyikan pembunuhan itu, pasukan Serbia mengangkut mayat-mayat korban dengan buldozer dan truk serta menguburkannya di berbagai lokasi. Membuat para korban itu berkeping-keping dihancurkan. Tulang-tulang manusia dapat ditemukan sejauh 20 km terpisah sehingga sulit bagi keluarga untuk memberikan pemakaman yang layak kepada orang-orang yang mereka cintai. Sungguh sangat biadab perlakuan mereka terhadap etnis muslim Bosnia.
     
Trageni ini pun membuktikan adanya ketidakadilan perlakuan PBB terhadap negara berpenduduk muslim bahkan PBB menjadi alat legitimasi keberingasan segelintir penjahat untuk memuaskan nafsu kedengkiannya terhadap Islam dan kaum muslim.
     
Barat berupaya membuang genosida Srebrenica pada tumpukan abu sejarah. Namun umat Islam tidak boleh melupakan apa yang terjadi di Srebrenica pada Juli 1995. Tragedi Srebrenica dan perang Bosnia mejadi pelajaran penting bagi generasi umat ini bahwa dengan tidak adanya khilafah, negeri muslim akan terus menjadi medan pertempuran atas kepentingan negara besar yang tak segan mengorbankan ribuan nyawa kaum muslim. Wallahu a'lam bish-shawab.
 
Top