Oleh : Yuliyati Sambas, S.Pt
Pegiat Literasi Komunitas Penulis Bela Islam AMK

Ribuan orang dari berbagai ormas keislaman pada Minggu, 05 Juli 2020 melaksanakan aksi 'Apel Siaga Ganyang Komunis Jabodetabek' di Kebayoran Lama, Jakarta Selatan. (Pikiran Rakyat Cirebon, 05/06/2020)

Aksi penolakan umat terhadap ajaran komunisme hingga resolusi jihad qital adalah wujud semangat memperjuangkan kebenaran yang hakiki. Umat sungguh tak ingin komunisme yang menafikan agama hidup dan berkembang lagi di bumi Pertiwi. Mereka bahkan rela jikapun harus berkorban dengan jiwa raga, hingga nyawa. Betapa umat tak ingin ideologi yang telah menorehkan luka menganga yang demikian berdarah di masa lalu terulang kembali.

Namun demikian, tentu wajib diingat bahwa yang telah menjadikan negeri ini dan negeri-negeri muslim lain di dunia terperosok pada jurang kesengsaraan kini adalah kapitalisme. Ia mencengkeram dunia dengan prinsip sekulernya. Mengebiri Islam hanya pada ranah mahdhah dan ritualitas yang bersifat individu.

Hal itu mengakibatkan umat dijajah baik dari sisi ekonomi, sosial, tata aturan kehidupan dan lainnya. Umat tak lagi hidup dalam lingkungannya yang alami. Dimana semestinya umat menjalani kehidupan dengan diterapkan syariat yang berasal dari Zat yang Maha Pencipta.

Maka sudah semestinya perjuangan dilanjutkan dengan penolakan terhadap semua pemikiran dan sistem yang menegasikan Islam. Dengan menolak komunisme, kapitalisme dan semua pemikiran rusak dan batil lainnya.

Sebaliknya, wajib bagi umat semua untuk memperjuangkan tegaknya sistem Islam. Ia akan memberangus semua ide dan pemikiran sesat yang bersandar pada akidah kufur semisal komunisme dan kapitalisme dan semua turunannya.

Sistem Islam yang dahulu diperjuangan oleh Baginda Rasulullah saw. beserta para sahabat. Hingga Islam mampu diterapkan dengan sempurna di bawah naungan daulah Islam di Madinah. Lantas umat melanjutkannya dengan mendirikan Daulah Khilafah Islamiyah.
 
Top