Oleh : Depi Fitriyani
(Remaja Peduli Generasi)

Televisi adalah suatu media elektronik yang berfungsi sebagai penerima siaran, berupa gambar yang bergerak, baik berwarna ataupun hitam putih. Dari dulu hingga sekarang TV semakin berkembang dengan inovasi-inovasi yang berbeda. Uniknya lagi benda yang hanya berukuran seperti kotak ini bisa menjadi salah satu media massa dengan berbagai informasi dan gambar hidup.

Sehingga tidak heran, jika media ini selalu menjadi daya tarik bagi setiap orang. Jika dulu hanya orang-orang kaya saja yang bisa memilikinya, akan tetapi tidak dengan sekarang. Tidak pandang lagi kaya ataupun miskin hampir setiap rumah memiliki televisi.

Tidak sedikit orang menjadikan tontonan di televisi sebagai hiburan dan penghilang penat ketika seharian lelah beraktivitas. Baik dari kalangan muda maupun tua ikut menjadi penikmat suguhan media televisi.

Berbagai stasiun pertelevisian pun sekarang telah marak dan saling berlomba-lomba menyuguhkan tontonan yang semakin menarik dan seru. Mulai dari tayangan anak-anak,  tentang percintaan hingga yang katanya 'Islami tapi berbalut sekuler. Tontonan yang disuguhkan pun juga jauh dari norma agama lebih banyak mengumbar kemesraan.

Tontonan seperti ini tentunya akan berpengaruh pada pemikiran seseorang, karena seseorang berdasarkan apa yang ia lihat dan ia baca. Ketika tayangan yang disuguhkan adalah tontonan yang buruk, maka bisa dipastikan akan berdampak negatif pula bagi para penontonnya.

Dalam sebuah penelitian berjudul “Psychologists Study Media Violence for Harmful Effects” oleh Psychological Association (APA) pada tahun 1995, bahwa tayangan yang bermutu akan mempengaruhi seseorang untuk berlaku baik, dan tayangan yang kurang bermutu akan mendorong seseorang untuk berlaku buruk. Penelitian ini juga memaparkan kesimpulan yakni perilaku buruk yang dilakukan seseorang berasal dari tontonan mereka sejak kecil.

Cemas dan merasa khawatir melihat fakta yang terjadi. Di tengah kondisi pandemi dimana anak-anak tidak bersekolah dan hanya di rumah saja, sehingga kebanyakan di antara mereka menghabiskan waktu di depan televisi. Orangtua yang tidak bijak dalam mengawasi tontonan anak-anak, sehingga begitu mudah mereka mengakses tontonan apa saja yang mereka sukai.

Seperti misalnya film, Ganteng-Ganteng Serigala, Mermaid in Love hingga yang booming sekarang adalah Dari Jendela SMP yang katanya mirip dengan film Dua Garis Biru yang ditayangkan di bioskop. Dimana film ini menuai kontroversi di berbagai kalangan, tetapi meski demikian film ini mampu memagnet para penonton dengan meraup 571.188 penonton dibulan Juli 2019. Luarbiasa film yang unfaedah seperti ini disambut hangat oleh pecinta film tanah air.

Dampak untuk Para Generasi

Maklumat yang didapat dari tontonan yang buruk tentu akan berdampak buruk pula. Tidak jarang adegan yang ditayangkan adalah adegan yang ekstrim. Mulai dari mengutarakan kata-kata mesra, berpelukan, ciuman, bahkan adegan diranjang.

Wajar jika kita jumpai anak-anak yang suka menirukan adegan yang diperankan dalam film tersebut. Pikiran mereka ternodai oleh tontonan yang tidak mendidik. Sehingga, lemahnya taraf berpikir para generasi. Akibatnya mereka kehilangan ghirahnya untuk menuntut ilmu agama, dan mencari tahu tentang kisah inspiratif dari para Nabi dan Rasul terdahulu.

Lantas, apa jadinya generasi penerus bangsa ini, jika ia tidak memiliki semangat juang yang tinggi. Tidak memiliki moral dan akidah yang kuat akan agamanya. Tentu saja, hanya generasi sampahlah yang bisa dihasilkan dari negeri bebas ala Barat seperti ini.

Islam Punya Solusi

Generasi saat ini sedang dalam kondisi yang gawat darurat. Dimana masa depan generasi hancur karena pergaulan bebas yang semakin marak, akibat buah dari aturan sistem yang mengesampingkan Kalam Allah sebagai Sang Pencipta dan Pengatur. Terlebih lagi tayangan dari berbagai media yang tidak mampu memberi tuntunan untuk para penontonnya.

Pada sistem demokrasi kapitalis sekuler saat ini. Tayangan yang disuguhkan hanya demi memuaskan hawa nafsu dan menyenangkan hati para pemilik modal. Karena nyatanya stasiun pertelevisian saat ini memang dikuasai oleh para kapitalis. Sehingga yang dipikirkan hanyalah masalah untung dan rugi, tanpa melihat apakah tayangan itu baik atau tidak.

Tentu hal ini berbeda jika kita liat dalam kacamata Islam. Dalam struktur Negara Islam ada yang namanya departemen penerangan atau dairoh i'lamiyah. Yang berfungsi sebagai alat propaganda bagi Daulah Khilafah untuk mengirim pesan keluar negeri dan sebagai alat edukasi bagi daulah untuk warga negaranya.

Untuk melindungi masyarakat dari pengaruh media yang merusak, Negara Khilafah membuat pengaturan waktu tayang dan program siaran media sebagai berikut:

1. Setiap media penyiaran diberi keleluasaan untuk mengatur waktu dan program siaran. Hanya saja dalam kaitannya dengan program siaran, setiap stasiun televisi hanya diperbolehkan membuat program-program siaran yang dibolehkan oleh syariat, seperti olahraga, hiburan-hiburan mubah, talk show, dan lain-lain.

2. Negara Khilafah dilarang secara syar’i mengharamkan perkara-perkara yang mubah, kecuali jika perkara-perkara yang mubah tersebut mengandung bahaya (dlarar) atau bisa mengantarkan kepada bahaya.

3. Khalifah boleh saja menetapkan program-program siaran yang wajib disiarkan atau ditayangkan di seluruh media penyiaran, seperti azan di setiap waktu salat, edukasi untuk jihad, kebijakan dan perkembangan politik luar negeri Khilafah Islamiyah dan lain sebagainya.

4. Program media dilarang menayangkan hal-hal yang diharamkan oleh Islam, seperti infotainment ghibah, pemujaan terhadap materi, penonjolan hal-hal yang berbau seksualitas, tabarruj, serta siaran-siaran yang merendahkan akhlak manusia, dan lain sebagainya. Siapa saja yang membuat program-program siaran yang bertentangan dengan syariat dan akhlak Islam, akan dikenai sanksi ta’zir.

5. Program-program siaran yang mengandung unsur-unsur yang bertentangan dengan akidah dan syariah, dibekukan dan dilarang seketika, tanpa menunggu-nunggu waktu lagi. Begitu juga program-program yang menjajakan pemikiran-pemikiran kufur, seperti demokrasi, liberalisme, pluralisme, nasionalisme, dan lain sebagainya, semuanya dilarang ada dalam program-program siaran media. Begitu juga program-program siaran yang ditujukan untuk meragukan kesempurnaan Islam, semuanya dilarang tanpa komentar.

6. Semua program media yang ada di dalam Khilafah Islamiyah, diarahkan kepada penguatan masyarakat Islam, penjauhan masyarakat dari unsur-unsur yang bisa merusak sendi-sendi masyarakat Islam, serta penonjolan ketinggian Islam di tengah-tengah masyarakat.

7. Khalifah tidak melarang penggunaan media sebagai sarana untuk perniagaan, pemasaran produk dagang dan jasa, serta untuk kepentingan-kepentingan bisnis lainnya.

8. Rakyat juga tidak dilarang membuat TV berlangganan; asalkan program-program siarannya tidak bertentangan dengan akidah dan syariah.

9. Adapun program-program siaran media yang berasal dari negara-negara kafir, maka hal ini perlu dilihat. Jika negara kafir tersebut statusnya adalah negara kafir harbiy fi’lan, maka seluruh produk mereka dilarang beredar di negara khilafah. Hubungan dengan mereka adalah perang secara langsung. Adapun terhadap negara-negara kafir yang menjalin perjanjian dengan negara khilafah, maka program-program siaran medianya boleh saja dibeli, atau ditayangkan di dalam negara khilafah, asalkan tidak bertentangan dengan akidah dan syariat Islam. Karena negara khilafah boleh melakukan transaksi jual beli, atau transaksi-transaksi lain dengan negara kafir harbiy yang membuat perjanjian dengan Khilafah Islamiyah. Hanya saja, jika program-program siaran itu dikhawatirkan bisa melemahkan sendi-sendi masyarakat Islam, maka khilafah bisa saja membuat kebijakan larangan merelay program-program siaran mereka.

Inilah kebijakan media penyiaran dalam Khilafah Islamiyah. Dengan kebijakan-kebijakan di atas, Negara khilafah berupaya melindungi masyarakat dari pengaruh buruk media. Jadilah media penyiaran yang mampu menjadi sarana untuk membentuk dan memperkuat masyarakat islami, serta menyebarkan dakwah Islam ke seluruh penjuru dunia.

Luar biasa bukan solusi yang diberikan oleh Islam.
Maka jika kita tidak menginginkan generasi sampah terus menjamur di negeri ini, maka percayakanlah negeri ini untuk diatur oleh aturan Sang Pencipta yang sempurna dan paripurna.

Wallahu a'lam bishshawab.
 
Top