Tanah adalah inti sel kehidupan. Tempat bernaungnya mineral dan material. Pun hara, yang melebur bersama tirta demi tegaknya populasi nan lestari. Populasi akar yang mengakar, bersahutan dengan rongga nafas tetumbuhan. Transformasi mikro dan organisme menjalar, menembus lirihnya geliat perjuangan seonggok habitat. Lingkari rantai, saling memakan dan dimakan. Bukan atas dasar kekuatan semata, hanya fitrah yang mengatasnamakan hukum rimba.

Tanah mendeskripsi dominasi yang menopang hasrat keserakahan manusia. Bukan manusia biasa. Namun manusia berkedok manusia. Padahal dibalik kemanusiaannya terdapat intuisi menerkam mangsa. Yang mencabik kelemahan hingga binasa. Tanah-lah saksi bisu dibalik perselisihan, permusuhan, konflik, kampanye, pertengkaran, pertumpahan darah dan perang lahir batin. Tanah memang kurnia perkasa, penahan erosi melawan digdaya para senyawa.

Adakalanya tanah sakit hati. Naluri. Saat seluruh pengorbanannya tak dihargai. Malah diremeh-temehkan penghuni bumi. Rasanya ingin menelan satu demi satu, bahkan seribu. Bisa saja tanah marah. Mengadu pada Sang Pemberi Titah. Namun rupanya tanah memilih sentosa, melapuk bersama lapang dada. Menanti porak poranda hingga akhir masa. Dimana tanah membuncah, memuntahkan seluruh isi perutnya dihadapan para pencipta kefasadan. Suatu hari nanti tanah akan puas membalas. Sekali lagi, bukan atas dasar kepiawaian diri. Namun demi sebuah tunduk pada norma alam semesta.

Norma memang sebuah fragmen tanpa langgar. Walau dipandang kontradiktif dengan adat kebiasaan. Seperti halnya gerombolan Salmon yang menantang ganasnya gelombang samudera. Menaklukan predator di Atlantik dan Pasifik. Berjuang sebagai Anadromous, melawan derasnya arus sungai demi sebuah peradaban gemilang. Demi norma tanpa langgar, bukan untuk mempertontonkan kesombongan.

Layaknya kesombongan para zionis yang dihipnotis akar kolonialisme modern. Menghantarkan tanah mulia pada nakba. Demi teritorial dan legitimasi, tanah Gaza merasakan sakitnya blokade militer. Kesombongan-lah yang menjadikan tanah berkah berubah marah. Merona merah.

Padahal tanah memegang teguh norma iman habis-habisan. Kesombongan membuat amnesia pada narasi pasti nan abadi. Bahwa setinggi apapun menara arogan menjulang, takkan mampu mengubah hukum alam pada keabadian. Sejatinya tanpa tegur sapa, tanah kan mengubur jasad dalam-dalam. Membayar jawaban atas hukum kausalitas penciptaan. Dari mana asal. Untuk apa. Dan akan kemana.

Tanah menasehati sekitar agar mafhum pada rantai kehidupan yang berputar. Bahwa sesuatu yang berasal dari tanah, akan kembali ke tanah.

13 Juli 2020
Nadi Raia
 
Top