Oleh : Endang Noviyani
(Ibu Rumah tangga)

Pengharapan kepada manusia jika dipandang sekilas mata sangat melenakan hati dan pikiran ini.
Ku merasa terbuai akan indahnya kebahagian akan suatu pengharapan semu duniawi.

Ku kira ku tak akan kecewa tapi nyatanya ku terluka dengan sebuah harapan yang ku sandarkan pada manusia.
Ku kira semua akan berjalan sempurna, tapi nyatanya semua tak sama seperti apa yang aku dambakan dalam lamunan.

Rasanya mungkin sulit untuk digambarkan tetapi sangat menyenangkan saat kita rasakan. Seolah-olah you are my hero, you are my everything.

Tapi, ternyata. No! Tidak.
Saat ini, hari ini ku merasakan berbeda tak seperti biasanya, ku merasa seperti di atas awan yang sedang melihat indahnya langit biru. Lalu dijatuhkan begitu saja ke bawah tanah, rasanya bisa kalian bayangkan?
Sakit? Ya, tentu saja, sakit sekali.

Begitulah gambaran saat kita berharap kepada manusia, saat harapan itu sirna.
Dan tak terlaksana.
Juga di saat kita merasa bahwa hanya dirinyalah yang  paling mengerti kita, yang paling menyayangi kita.

Tapi ada saatnya pula, ia berubah 180 derajat.
Ya, namanya juga manusia yang sifatnya serba lemah, terbatas, rapuh. Dan ternyata tak bisa dijadikan sandaran untuk kita akan sifatnya itu.
Kini aku sadari, bahwa hanya ada tempat satu-satunya menggantungkan harapan ini, yang tak pernah mengecewakan, yang tak pernah luput dari pandangan, dan juga selalu ada saat kita membutuhkan?
Siapakah itu?

Dia adalah Pencipta kita, Allah Azza Wa Jalla, selalu ada saat kita senang dan susah, yang pasti selalu akan menyayangi hamba-Nya, dan Allah lah tempat terbaik dalam menggantungkan seluruh harapan kita.
Yang tak akan pernah mengecewakan.

Allah...Maafkan aku, kadang aku menjauh dari-Mu karena diimingi harapan semu.
Ya Rabbi, jadikanlah aku hamba yg selalu bergantung kepada-Mu, di kala susah dan juga senang.
Di kala bahagia dan pahitnya kehidupan dunia.
 
Top