Oleh: Nikmatus Sa'adah, SP (Aktivis Dakwah)

Strategi baru yang di ajukan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaaan (Mendikbud) Nadhim Makariem untuk langkah baru bidang pendidikan yaitu dengan menciptakan 'perjodohan' atau kerjasama antara perguruan tinggi dengan industri. Gerakan ini desebut dengan "Pernikahan Massal” (Link and Match) antara pendidikan vokasi dengan dunia industri dan dunia kerja (DUDI). Tujuan utama peluncuran "Program Penguatan Program Studi (Prodi) Pendidikan Tinggi Vokasi Tahun 2020" ini agar prodi vokasi di Perguruan Tinggi Negeri (PTN) semakin menghasilkan lulusan dengan kualitas dan kompetensi sesuai dengan kebutuhan dunia industri dan dunia kerja. Strategi ini dinilai penting dan efektif untuk memperkuat koneksi antara perguruan tinggi dan industri. Sehingga kampus mampu mencetak SDM yang sesuai kebutuhan usaha industri.

Target program "Perjodohan"  ini adalah sekitar 100 prodi vokasi di PTN dan Perguruan Tinggi Swasta (PTS) agar melakukan pernikahan massal di tahun 2020 dengan puluhan bahkan ratusan industri. Program ini akan diteruskan dan dikembangkan di tahun-tahun berikutnya dengan melibatkan lebih banyak prodi vokasi.

Sebelumya, Mendikbud juga telah mengeluarkan program Merdeka Belajar: Kampus Merdeka pada Jumat (24/1/2020). Program ini diharapkan mampu menghasilakan mahasiswa yang unggul dan menjadi pendisrupsi revolusi industri 4.0. Namun nyatanya program ini menuai banyak catatan ditengah mahasiswa dan perguruan tinggi. Presiden BEM Universitas Gadjah Mada (UGM) Sulthan Farras menilai kebijakan Kampus Merdeka dari Menteri Nadiem sangat kental dengan pendekatan pasar, yakni mahasiswa ditargetkan untuk memenuhi kebutuhan industri.

*Dibajak Korporasi*

Jika diamati lebih mendalam, sesungguhnya strategi 'perjodohan' ini sarat akan kepentingan korporasi. Korporasi akan semakin diuntungkan yaitu mereka akan dengan mudah untuk meminta kepada perguruan tinggi untuk mencetak SDM sesuai kebutuhan mereka.

Miris, sektor pendidikan yang seharusnya mencetak para intelektual dengan segudang ilmu yang dimiliki untuk menyelesaikan permasalahan ditengah-tengah masyarakat, ternyata telah dibajak oleh korporasi. Para alumni perguruan tinggi hanya dicetak dengan mental buruh untuk memenuhi kebutuhan korporasi.

Hal ini sesungguhnya memang sejalan dengan sistem sekuler kapitalisme yang diterapkan hari ini. Yaitu segala sesuatu akan dipandang sebagai komoditi yang layak untuk dibisniskan. Begitupun juga dalam aspek pendidikan, dimana output dari pendidikan yang berhasil  adalah dengan mendapatkannya pekerjaan yang layak bagi seseorang. Sehingga tidak heran banyak dari pemuda hari ini yang orientasi hidupnya hanya untuk mencari pekerjaan atau mendapatkan materi, karena mendapatkan materi yang banyak, itu adalah standar kebahagiaannya. Generasi seperti ini hanya akan fokus pada individu dirinya, mereka tidak akan peduli dengan kondisi masyarakat. Padahal, masyarakat sangat mengharapkan dari para alumni perguruan tinggi untuk menerapkan ilmunya ditengah-tengah masyarakat sebagai solusi atas seluruh permasalahan yang tengah dihadapi.

*Kemuliaan Ilmu*

Imam Al-Ghazali mengungkapkan bahwa ilmu adalah sesuatu yang sangat mulia, karena itulah ilmu terlalu murah jika hanya ditujukan untuk hal-hal yang sifatnya duniawi. Dalam kitab Bidayatul Hidayah beliau mengatakan "jika seorang mencari ilmu dengan maksud untuk sekadar hebat-hebatan, mencari pujian atau untuk mengumpulkan harta benda, maka dia telah berjalan untuk menghancurkan agamanya, merusak dirinya sendiri dan telah menjual akhirat dengan dunia".

Dalam sistem pendidikan islam, visi dari pendidikan adalah mencetak generasi bersyahksiyah islam. Mereka adalah generasi yang memiliki keilmuan dalam bidang agama maupun dunia. Keilmuan mereka digunakan untuk diterapkan ditengah-tengah masyarakat dan sebagai problem solver ditengah umat. Mereka juga akan melakukan inovasi-inovasi baru untuk memajukan peradaban.

Negara berkewajiban untuk menjamin pendidikan secara gratis bagi setiap warga negara tanpa melihat status sosial, karena pendidikan adalah hak setiap warga negara. Negara islam memiliki visi pendidikan yang jelas, yaitu mencetak intelektual yang berkepribadian islam, dan tidak mencetak intelektual untuk kebutuhan korporasi. Negara akan terus mengontrol kebermanfaatan ilmu yang dimiliki intelektual di tengah-tengah masyarakat. Hal ini semata dilakukan untuk menyempurnakan fungsinya sebagai pelayan umat.

Kegemilangan Ilmu dalam negara Islam sudah terbukti ketika islam terterap selama 14 abad. Pada saat itu, negara Islam atau Khilafah mampu mencetak para ilmuan muslim yang ilmunya masih digunakan sampai hari ini.

Maka, sudah saatnya sistem pendidikan hari ini diganti secara total dan mendasar, yaitu dengan menerapkan sistem islam secara keseluruhan ditengah kehidupan.
Wallahu 'alam
 
Top