Oleh : Neneng Sriwidianti
Pengasuh Majelis Taklim dan Member AMK

Umat Islam Bosnia memperingati 25 tahun pembantaian Srebrenica. Hampir 8000 nyawa umat Islam menjadi korban peristiwa itu. Peringatan tahun ini sekaligus menjadi upacara penguburan sembilan korban yang diidentifikasi selama setahun terakhir.

Sehad Hasanovic, adalah salah satu dari sekitar tiga ribu kerabat korban yang menghadiri peringatan tersebut terlepas dari ancaman virus Corona. Dia memiliki seorang putri berusia dua tahun, usia yang sama ketika dia kehilangan ayahnya.

"Sulit ketika kau melihat seseorang memanggil ayah mereka dan kau tidak memilikinya," kata Hasanovic sambil menangis, dikutip dari AFP. (cnnindonesia.com, 12/7/2020)

Kota Srebrenica yang terletak di kawasan Bosnia dan Herzegovina menjadi saksi bisu terjadinya pembantaian ribuan warga muslim Bosnia pada tahun 1995 silam. Peristiwa pembantaian disebut sebagai salah satu upaya genosida yang pernah terjadi di Eropa.

Tak hanya pembunuhan, peristiwa kelam tersebut juga tak luput dari kasus pemerkosaan yang dialami oleh sejumlah korban selamat maupun yang telah tewas akibat pembantaian sadis tersebut.

PBB dengan hak azasi yang diusungnya bungkam, ketika  pembantaian itu menimpa kaum muslimin. Berharap kepada mereka seperti punguk merindukan bulan. Peringatan ini seharusnya menyadarkan kaum muslimin dan membuktikan, tidak adanya perlakuan adil PBB terhadap negara berpenduduk muslim. Justru, PBB menjadi alat legitimasi kejahatan untuk memuaskan nafsu kedengkiannya terhadap Islam dan kaum muslimin. Sampai kapanpun, sistem demokrasi tidak akan berpihak kepada Islam. Masihkah kita berharap kepada demokrasi? Sementara, Islam mempunyai seperangkat aturan yang sempurna.

Perlindungan dan penghormatan terhadap jiwa manusia merupakan tuntutan ajaran Islam yang wajib ditegakkan. Islam mendudukkan nyawa manusia pada derajat yang paling tinggi. Nyawa seseorang tidak bisa dibunuh kecuali dengan sebab yang dibenarkan syariat.

"Oleh karena itu Kami tetapkan (suatu hukum) bagi Bani Israil, bahwa barang siapa membunuh seseorang, bukan karena orang itu membunuh orang lain, atau bukan karena berbuat kerusakan di bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh semua manusia. Barangsiapa memelihara kehidupan seorang manusia, maka seakan-akan dia telah memelihara kehidupan semua manusia. Sesungguhnya Rasul Kami telah datang kepada mereka dengan (membawa) keterangan-keterangan yang jelas. Tetapi kemudian banyak di antara mereka setelah itu melampaui batas di bumi." (TQS. Al-Maidah [5] : 32)

Hari ini, umat butuh perisai untuk melindungi seluruh kaum muslimin. Hanya khilafah, satu-satunya harapan kita yang bisa mewujudkannya. Rasulullah saw. bersabda :
"Sungguh imam (khalifah) itu laksana perisai, orang-orang akan berperang di belakang dia dan berlindung dari musuh dengan kekuasaannya." (HR. Bukhari, Muslim, An-Nasa'i, Abu Dawud dan Ahmad)

Penjagaan jiwa dalam Islam bukan hanya untuk muslim saja. Tetapi non muslim yang disebut sebagai dzimmi mendapatkan perlakuan yang sama. Tidak boleh ada diskriminasi antara muslim dan dzimmi.

Kedudukan Ahlu dzimmah diterangkan oleh Rasulullah saw. dalam sabdanya :
"Barangsiapa membunuh seorang mu'akid (kafir yang mendapatkan jaminan keamanan) tanpa alasan yang haq, maka ia tidak akan mencium wangi surga, bahkan dari jarak empat puluh tahun perjalanan sekali pun." ( HR. Ahmad)

Betapa agungnya Islam, ketika hukum-hukumnya diterapkan secara kafah oleh negara. Khilafah satu-satunya institusi yang bisa melaksanakannya. Ketika khilafah tegak, pembantaian dan ketidakadilan hari ini terhadap muslim akan berakhir. Dunia yang kelam akan berganti terang, diliputi rahmat dan berkah dari Allah Swt. Sudah saatnya kita berjuang untuk menegakkan kembali khilafah Islamiyah. Maka, Islam sebagai rahmatan lil alamin akan melingkupi dunia.

Wallahu a'lam bishshawab.
 
Top