Oleh : Sherly Agustina, M.Ag.
(Member Revowriter dan WCWH)

"Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak. Maka dirikanlah salat karena Tuhanmu; dan berkorbanlah." (QS. Al Kautsar : 1-2)

Idul Adha adalah sebuah hari raya Islam. Pada hari ini diperingati peristiwa kurban, yaitu ketika Nabi Ibrahim, yang bersedia untuk mengorbankan putranya Ismail untuk Allah, kemudian sembelihan itu digantikan oleh-Nya dengan domba. (Wikipedia)

Hari Raya di dalam Islam ada dua yaitu Hari Raya Idul Fitri dan Hari Raya Idul Adha. Dua hari raya ini dirayakan oleh kaum muslim di seluruh penjuru dunia. Tanpa pertanyaan, saat dua hari raya ini tiba, umat Islam melaksanakannya dengan suka cita.

Umat Islam meyakini bahwa dua hari raya ini bagian dari syariat, kemudian melaksanakannya dengan mudah, meyakini kurban dan haji  bagian dari syariah Allah dan bagi yang mampu melaksanakannya. Satu syariat Allah kurban bagi yang mampu, bisa menjadi solusi distribusi makanan untuk yang membutuhkan. Maka bagaimana jika Allah memerintahkan umat-Nya untuk masuk Islam secara menyeluruh? Menerapkan syariat secara kafah dan mampu menjadi solusi atas semua permasalahan umat termasuk pandemi?

Allah Swt. berfirman:

"Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan, dan janganlah kamu turut langkah-langkah setan. Sesungguhnya setan itu musuh yang nyata bagimu." (QS. Al Baqarah : 208)

Di dalam Tafsir as-Sa'di/Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di, pakar tafsir abad 14 H dijelaskan, makna ayat Allah Tabaraka wa Ta’ala yang Maha Benar memanggil hamba-Nya yang beriman untuk memerintahkan mereka masuk ke dalam agama Islam secara totalitas. Dengan tidak memilih di antara syariat-syariat dan hukum-hukum-Nya hal yang menguntungkan dirinya saja, sesuai dengan hawa nafsunya, itu yang diterima dan diamalkan. Namun jika tidak sesuai dengan hawa nafsunya, akan ditolaknya, atau ditinggalkan, atau tidak dilaksanakan.

Hendaknya kaum mukminin menerima seluruh syariat Islam dan seluruh hukum-hukum yang berlaku di dalamnya. Dan Allah melarang kaum mukminin untuk mengikuti langkah-langkah setan dengan memperbagus yang buruk dan menghiasi kemungkaran. Karena setanlah yang membuat sebagian ahli kitab mengagungkan hari Sabtu dan menghalalkan daging unta dengan argumen bahwa inilah agama Allah yang dianut oleh orang-orang saleh dari kalangan Bani Israil.

Maka turunlah ayat ini kepada mereka, memerintahkan mereka dan seluruh kaum mukminin untuk menerima seluruh syariat Islam dan hukum-hukumnya, memperingatkan mereka akibat mengikuti langkah-langkah setan, yaitu kebinasaan total. Dan itulah yang diinginkan oleh setan sebagai bentuk permusuhannya kepada manusia. Inilah kandungan ayat 208. Pelajaran dari ayat ini adalah kewajiban menerima seluruh syariat Islam secara totalitas, serta keharaman untuk pilih-pilih dalam syariat. Orang yang menghalalkan yang haram, dan meninggalkan kewajiban, sejatinya dia adalah pengikut setan dalam hal itu. (Tafsirweb.com)

Sesungguhnya di dalam syariat terdapat kebaikan oleh karenanya Allah perintahkan bagi hamba-Nya. Kebaikan yang sudah pasti yang terbaik untuk para hamba-Nya karena Dia-lah yang menciptakan langit, bumi beserta isinya. Jika terdapat kekacauan dan kerusakan di muka bumi berarti ada sesuatu yang tidak sesuai dengan aturan-Nya. Maka harus segera diperbaiki dengan kembali pada aturan-Nya, termasuk masalah pandemi saat ini.

Maka spirit Idul Adha di tengah pandemi ialah segera berkorban meninggalkan sistem yang rusak saat ini menuju sistem yang benar dari Allah. Agar tidak semakin rusak alam semesta, kehidupan dan manusia yang Allah ciptakan. Sehingga hanya rahmat dan keberkahan yang dirasakan bagi seluruh alam. Firman-Nya:

"Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam." (QS. al-Anbiya : 107)

Allahu A'lam Bi Ash Shawab.
 
Top