Oleh : Salma Ummu Nusaibah 
Ibu Rumah Tangga 

IKATAN Guru Indonesia (IGI) memprotes langkah pemerintah yang memotong tunjangan guru hingga Rp3,3 triliun lewat Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 54 Tahun 2020 tentang Perubahan Postur dan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Tahun Anggaran 2020.

Dalam lampiran Perpres Perubahan Postur dan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Tahun Anggaran 2020, tunjangan guru setidaknya dipotong pada tiga komponen yakni tunjangan profesi guru PNS daerah dari yang semula Rp53,8 triliun menjadi Rp50,8 triliun, kemudian penghasilan guru PNS daerah dipotong dari semula Rp698,3 triliun menjadi Rp454,2 triliun.

“Perpres Perubahan Postur dan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Tahun Anggaran 2020 merugikan sejumlah pihak, yang justru sebetulnya membutuhkan dukungan lebih dari pemerintah di tengah situasi penyebaran virus korona,” kata Ketua Umum Ikatan Guru Indonesia Muhammad Ramli Rahim dalam pernyataan tertulis yang diterima Media Indonesia, Senin (20/4).

Realitas ini menunjukkan kegagalan pemerintah mencetak guru yang berkualitas, profesional dan memadai bagi seluruh masyarakat.
Semua itu tak lepas dari diterapkannya sistem pendidikan sekuler kapitalis di negeri ini.

Berbeda dengan sistem Islam, yakni khilafah. Menjadi guru sebagai pendidik adalah pekerjaan yang sungguh mulia. Mereka rela mencurahkan waktu, tenaga, dan fikirannya untuk mengajar dan mendidik anak. Gaji dan fasilitas kegiatan belajar mengajar yang sangat baik bagi guru akan disediakan oleh negara. Seperti pada masa Umar bin Khattab ra. gaji guru saat itu sebesar 15 dinar, jika dirupiahkan 1 dinar itu setara dengan 4,25 gram emas, sekitar Rp 38 juta (harga 1 gram emas sekarang Rp 600 ribu).

Dalam Islam guru begitu terhormat dan mulia. Guru adalah seseorang yang dikaruniai ilmu oleh Allah Swt. yang dengan ilmunya tersebut dia menjadi perantara manusia yang lain untuk mendapatkan dan menuju kepada kebaikan di dunia maupun di akhirat. Guru adalah ujung tombak keberhasilan pendidikan dan tugas guru bukan hanya menyampaikan ilmu tetapi juga mendidik anak muridnya menjadi manusia yang berkepribadian Islam.

Jadi jelas, ketika negara menggunakan sistem Islam, maka  akan terwujud peradaban yang mulia, mampu menyejahterakan rakyat dan guru pun menjalankan tugas yang mulia melahirkan generasi pemimpin masa depan.

Wallahu a’lam bish shawab.
 
Top