Oleh : Nita Savitri
Praktisi Kesehatan, Pemerhati Sosial

Arni melangkah gontai menuju kamar kost berukuran tiga kali empat meter. Dilemparnya tas kuliah yang setia menemaninya dari pagi menjelang sore tepat mengenai kursi belajarnya. Kasur tipis di atas ranjang kayu pun siap menyambut tubuhnya. Dihempaskan badan yang sudah protes meminta istirahat.

Mata Arni menyipit, memandang sekeliling kamar. Seakan tak percaya, sudah hampir dua puluh empat purnama kamar ini menjadi teman setianya. Niatan tuk menuntut ilmu, membuat dirinya harus rela berpisah dari rumah, jauh dari orang tua.  Padahal Arni satu-satunya anak perempuan dalam keluarga.  Keempat saudaranya lelaki semua.  Teringat bagaimana ibunya terisak melepas kepergiannya menuju Kota Pahlawan, Surabaya. Tes masuk perguruan tinggi negeri telah mencatat namanya di sebuah universitas bergengsi di kota yang terkenal dengan rujak cingur dan gado-gadonya. 

"Nduk, walau ibu akan kesepian jika Arni pergi, tuk memutuskan kost di sana tapi Ibu ikhlas karena kepergianmu dengan niatan baik, demi menuntut ilmu buat umat. Belajarlah, dengan baik dan sungguh-sungguh ya, insyaallah ayah dan ibu akan selalu mendo'akanmu."

======

Hari demi hari berlalu begitu cepat.  Sampai kejadian siang tadi, membuat kacau semangat. Suara keras memekakkan telinga, berteriak kearahnya. "Hei, kamu yang namanya Arni? Ketua kajian keputrian kampus ini?" hujat pemuda berperawakan tinggi besar di depanku. Arni menghela napas, dan menjawab, "Iya, memang anda siapa dan kenapa marah-marah tak beralasan?" beruntun Arni membalas.

"Jauhi Amel, adikku!" Ketusnya.  Kami sekeluarga tidak suka perubahan yang terjadi padanya.  "Itu semua ulahmu, kan? yang mencuci otaknya Amel?" tuduhnya sambil mengepalkan tangan. Waduh, jika aku cowok, mungkin sudah melayang bogem mentah di pipinya.  Mencuci otak? memang diriku deterjen apa? kok bisa-bisanya mencuci otak. "Awas, jika sekali lagi engkau berani mendekati adikku lagi, hal paling buruk akan terjadi dalam hidupmu!" ancamnya sambil berlalu dengan moge-nya.

Dalam pembaringan, terlintas bayangan Amel. Gadis manis, adik kelasnya yang dikenal setahun lalu.  Tak mudah ketika awal mencoba berkenalan dengan gadis pendiam yang sering mangkal di pojok perpustakaan. Bertumpuk buku, sudah ada di hadapannya. Kacamata tebal menghiasi raut muka bundar bak telor, dengan rambut tergerai sebahu. Semua pengunjung sudah hapal, gadis ini menjadi penghuni perpustakaan terlama. Dialah pemegang IPK tertinggi sekampus.  Melebihi IPK-nya, yang dulu sempat bertengger number one, sebelum kemunculan Amel.

Dikenalnya Amel melalui LKTI antar PTN se-Indonesia. Kebetulan mereka sejurusan, hanya beda angkatan.  Sebagai kakak angkatan, Arin merasa lebih berpengalaman. Jadi dimintanya Amel untuk menemui dirinya di lorong kampus, tempat bercengkerama antar mahasiswa/wi.  Tangan Arin mengulur, isyarat mengajak berkenalan tergambar dari gerak tubuhnya yang berbalut jilbab biru muda dan kerudung senada.  Gadis oriental berkacamata tebal dihadapannya pun ikut mengulurkan tangan, walau dengan sikap ogah-ogahan.

"Kenalkan Arin," Kataku pelan tapi tegas. "Saya Amel, Mbak," Balas Amel tak kalah tegasnya. Begitulah, keakraban pun muncul, seiring kami selalu mengadakan diskusi dan praktikum bareng sebagai persiapan LKTI.

Sampai suatu saat, terdengar celetuk Amel, "Kenapa Mbak Arin selalu mengucap kata yang sama sebelum memulai praktikum? Apa itu mantra agar kita menang lomba Mbak?" tanya Amel sambil mengernyitkan dahi.

"Bismillahirrahmanirrahim, artinya dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih dan Penyayang," Ucap Arin sambil mengajaknya duduk. "Di dalam agama Mbak, yaitu Islam ada tuntunan bahwa setiap perbuatan yang diawali kata bismillah akan dinilai ibadah, asal perbuatan tersebut tidak melanggar hukum Allah, Tuhan Semesta Alam.  Dan semua ibadah jika dilakukan dengan ikhlas dan benar akan mendapat imbalan pahala. Jika pahala selama di dunia lebih banyak dari dosa, maka hal inilah yang akan membawa kita ke Surga-Nya," Jelas Arin panjang lebar.

"Oo..jadi Mbak Arin selama ini bertujuan tuk ibadah ya. Kalau dalam agamaku, ibadah ya harus di tempat ibadah, dan kita gak perlu ngoyo ngejar pahala, kan semua dosa sudah ditebus dan langsung membawa kita ke surga," balas Amel dengan yakin.

"Owh, jadi jika ada orang jahat selama hidupnya, selalu berbuat semena-mena kepada orang lain, ntar juga masuk surga kah?" tanya Arin sambil mengemasi buku dan peralatan praktikum. Hari sudah beranjak sore, sebentar lagi laboratorium akan ditutup.  " Emm..iya Mbak, memang gitu adanya, aku sendiri sebenarnya juga ragu, apa benar ada penebusan dosa," ucap Amel lirih.

Itulah awal diskusi Arin dengan Amel membahas kebenaran agama mereka masing-masing. Semua pertanyaan Amel dijawab dengan menyakinkan oleh Arin. Amel yang merasa galau dan menemukan kejanggalan dalam agama yang dianutnya, selalu mendapat kepuasan dengan diskusi tersebut.

Hingga suatu hari, Amel menemuinya dan berkata, "Mbak Arin, antarkan aku ke ustazah Mbak, aku mau bersyahadat," ucap Amel tanpa basa-basi. Seketika Arin mengucap syukur, "Alhamdulillah, dik. Tapi gimana dengan keluargamu? Apa mereka tahu hal ini?" tanya Arin penasaran. "Ya, jelas enggak Kak, bisa-bisa diusir aku jika mereka tahu perbuatanku ini, tapi aku siap menanggung resikonya.  Aku gak ingin galau sepanjang hidup, melalui penjelasan Mbak Arin, aku menemukan bahwa Islam adalah agama yang membuat akal terpuaskan dan sesuai dengan fitrah manusia di segala zaman " jelas Amel meyakinkan.

Akhirnya Arin mengantarkan Amel ke salah seorang ustazah yang dikenalnya ahli mengurusi kemualafan. Setelah selesai mengucap syahadat, Arin memeluk Amel yang menangis terisak. "Mbak, doakan aku agar istiqamah ya," pinta Amel dengan  mengalir bulir bening di kedua mata sipitnya.
"Insyaallah, kami semua yang ada di sini saudaramu, Amel. Senantiasa akan membimbing dan berdo'a agar dirimu tetap istiqamah di jalan Islam," jawab Arin meyakinkan.  Bergantian seluruh anggota pengajian keputrian memeluk Amel, menyambut anggota baru, seorang mualaf.

Setelah Amel menjadi muslimah, keinginannya tuk belajar Islam semakin kuat. Dari pagi sebelum kuliah mulai, dilanjut sore sehabis kuliah. Belajar baca Al-Qur'an sampai mengkaji Islam. Akhirnya perubahan pun terjadi. Dari mengenakan jeans dan kemeja khas cowok beralih ke rok dan baju lengan panjang. Kemudian akhirnya mantap mengenakan jilbab dan kerudung.  Baju terusan yang menjulur sampai menutup kaki, dilengkapi kerudung sebagai penutup kepala yang mengulur menutupi dada.  Masyaallah.

Maka jelaslah kemarahan kakak laki-laki Amel melabrakku siang tadi. Dia tidak mau adiknya menjadi muslimah taat. Jika muslim yang biasa-biasa saja, keluarga belum terlalu mempermasalahkan. Tetapi perubahan yang terjadi terlalu ekstrim, membuat keluarga berang. 

======

Keesokan paginya, Arin melihat Amel membawa koper besar berdiri di depan pintu kost-nya. "Mereka mengusirku dari rumah, Mbak," ucap Amel setelah kupersilahkan duduk. "Gak usah khawatir, dik Amel tinggal di sini saja bersama Mbak, kebetulan ada kamar kost yang kosong kemarin," jelasku menenangkan. "Jazakillah khair Mbak Arin, saya nanti akan mencari kerja sambilan buat membayar kost dan mencukupi kebutuhan harian," balas Amel dengan mantap.

Hari berganti begitu cepat, tak terasa sudah dua belas purnama Amel menjadi muslimah.  Pagi sebelum kuliah aktif di pengajian keputrian, membina adik-adik angkatan baru.  Sore, memberi les privat kepada siswi SMU dan SMP.  Semua dijalaninya tanpa kenal lelah. Hingga kadang baru pulang kost-an, menjelang Isya'.

"Mbak Arin, aku ingin seperti Mbak yang mengajarkan kebaikan kepada semua insan. Selagi Allah masih memberi amanah ilmu dan kesehatan, Amel akan mengejar ketertinggalan Amel selama ini.  Terus mengajar dan menyebar kebaikan," jelas Amel panjang lebar ketika ditanya kenapa dia bercapek ria setelah menjadi muslimah.  Masyaallah, berlinang bulir bening di kedua pipi kami berdua. Arin memeluk Amel dengan erat sambil berucap lirih, "Dik, panggil namaku jika nanti ketika di surga, engkau tidak menemukan diriku." Amel mengangguk, dan membalas, " Kita saling memanggil ya, Mbak." Dalam hati Arin mengucap syukur atas indahnya persahabatan yang saling menularkan kebaikan. Dan berdo'a agar semoga persahabatan ini abadi sampai ke jannah-Nya. Aamiin.

TAMAT
 
Top