Oleh : Afra Salsabila Zahra
Mahasiswi dan Aktivis Remaja

Menulis adalah merangkai kata menjadi sebuah makna yang diungkapkan secara tersirat maupun tersurat dalam aksara. Menyusun frasa dalam benak untuk menafsirkan berbagai macam rasa. Dengan jenis yang beraneka ragam dengan satu tujuan yaitu Islam.

Begitupun menulis dalam dakwah, Islam mengajarkan kita kaum muslimin untuk terus belajar dari kandungan hingga ke liang lahat. Dan menuliskannya dalam sebuah buku dan menyebarkannya menjadi pengikat ilmu itu sendiri.

Tidak dipungkiri bahwa revolusi pada teknologi yang berkembang pesat juga memberikan pengaruh besar terhadap kepenulisan para pengemban dakwah. Mereka yang dulunya hanya mengenal kertas untuk mendakwahkan Islam kini memiliki alat lain atau uslub untuk dakwah yaitu android, dan sejenisnya.

Hanya saja tidak mudah bagi setiap pengemban dakwah untuk terjun dalam medan pergulatan literasi. Bukan karena mereka tidak memiliki kemampuan literasi. Tapi terkadang tekad tidak sejalan dengan realita. Sering kali dalam menulis kebekuan ide menghentikan jari menari di atas kertas putih.

Banyak kesibukan yang menjadi alasan pembenaran ketika kita tidak menunaikan amanah dalam dakwah. Hingga kemalasan dan kebuntuan mulai menggerogoti para pejuang literasi. Melemahkan tekad yang dibangun mati-matian atas dasar kelesuan diri. Saat jari hanya membekukan pena tanpa gerak di atas kertas putih kosong. Dan dakwah literasi tak lagi menjadi sebuah keinginan yang menggebu-gebu.

Dengarlah wahai saudaraku, Islam yang sempurna dalam bingkai khilafah tidak akan tegak ketika jari hanya beku di atas kertas. Kita melihat bagaimana sistem mulkan jabriyatan begitu mencekik kehidupan kaum muslimin. Mereka mengambil kebijakan yang justru semakin menyengsarakan kaum muslimin. Membuat badai kemelaratan yang tidak akan ada habisnya selama sistem buruk ini masih terus diterapkan.

Tidakkah jari itu harusnya telah bergerak untuk ikut andil dalam perjuangan dakwah meski kini saat pandemi Covid-19 kita hanya di rumah saja? Atau fakta genosida dan murahnya harga nyawa saudara muslim kalian masih belum cukup kuat untuk menggerakkan jari, Untuk menuliskan bahwa ada solusi atas keburukan kehidupan. Yaitu Islam sebagai aturan kehidupan bukan sistem kapitalisme yang jelas kufur.

Bangkitlah wahai para pejuang pena! Kezaliman yang nyata di depan matamu seharusnya menjadi pemecut agar jari senantiasa terus bergerak cepat dalam mengungkapkan keburukan sistem. Jangan jadikan malas, kesibukan, kebekuan itu sebagai penghambatmu untuk terus menyuarakan Islam.

Cukup tulis dan teruslah menulis. Kalahkan semua rintangan dalam diri semata hanya karena Allah meminta kita untuk selalu menyebarkan Islam hingga penjuru negeri. Yakinlah bahwa aksara hitam yang kamu tuangkan dalam kertas putih tidak akan sia-sia. Bahwa Allah akan membalas apapun yang kita korbankan untuk Islam meskipun itu hanya sebesar biji atom sekalipun. Dan sungguh beruntung mereka yang menjaring pahala jariyah yang tidak akan terputus meski nyawa telah meninggalkan raga.

Tetaplah semangat dan berjuang di medan pertempuran literasi. Goreskan begitu banyak aksara yang akan menumbangkan kekufuran dalam kehidupan. Karena menjadi pejuang literasi itu bukan takdir, akan tetapi sebuah pilihan. Maka pilihan itu ada pada jari kita sendiri.

Wallahu a'lam bishshawab.
 
Top