Oleh : Siti Farihatin, S.Sos 
(Guru KOBER dan Anggota Aliansi Penulis Rindu Islam)

Pandemi menjadi obrolan yang tidak bisa dihindarkan setiap harinya, karena pandemi memberikan efek yang luar biasa dalm segala aspek terlebih dalam faktor ekonomi. Krisis ekonomi tidak mungkin bisa dihindarkan bahkan negara yang dianggap super power pun mengalaminya. Dunia seakan kacau dan tidak tentu arah, dan hal ini sudah menjadi rahasia umum.

Resesi menjadi buah bibir di kalangan para ekonom, mereka memberikan gambaran bahwa resesi harus benar-benar diperhitungkan. Ajakan untuk berhemat dan tidak boros pun menjadi titik point.

Pengangguran juga menjadi polemik di tengah pandemi, banyak pekerja yang dirumahkan karena perusahaan tidak mampu menggaji pegawai. Permintaan pasar semakin menurun akibatnya produksi semakin dibatasi dan yang menjadi korban adalah pegawai yang dipekerjakan.

Sebelum resesi ekonomi benar-benar terjadi, tidak ada salahnya persiapkan diri mulai dari sekarang. Masyarakat harus berhemat mulai dari sekarang untuk menyiapkan dana darurat selama resesi. Sebab tidak ada yang mengetahui akan berlangsung sampai kapan jika resesi benar terjadi.

"Kurangi juga belanja yang tidak sesuai kebutuhan dan fokus pada pangan serta kebutuhan kesehatan. Jadi jangan latah ikut gaya hidup yang boros. Pandemi mengajarkan kita apa yang bisa dihemat ternyata membuat daya tahan keuangan personal lebih kuat," kata Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Bhima Yudhistira kepada detikcom, Jumat (17/7/2020). (m.detik.com, 26/07/2020)

Hal yang sama juga dikatakan oleh Direktur Riset Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Piter Abdullah. Menurutnya, di saat seperti ini masyarakat jangan boros dan harus mempersiapkan kondisi terburuk untuk mencukupi keuangan. "Tetap harus berjaga-jaga mempersiapkan kondisi terburuk yaitu apabila resesi ini berkepanjangan. Ini perlu stamina yang kuat termasuk juga tabungan yang cukup. Jangan Boros," ucapnya. (m.detik.com, 26/07/2020)

Resesi tidak cukup diantisipasi dengan mencukupi keuangan masing-masing individu, tapi masalah ini harus dikuliti dari segi akarnya. Solusi yang tuntas harus diterapkan, sehingga resesi tidak menjadi bulan-bulanan. Sistem kapitalisme menjadikan masalah ini meradang, karena sistem kapitalisme menyandarkan pada sektor non riil dan ribawi, sehingga rentan terjadi krisis ekonomi yang mendera di saat pandemi.

Lalu bagaimana sistem yang seharusnya diterapkan? Sistem yang menjamin dan menjadikan krisis ekonomi bisa teratasi dengan sempurna, dan pastinya sistem Islam yang mampu menghapusnya.

Ketika Islam diterapkan bukan tidak pernah terjadi krisis ekonomi, tapi ketika masa Khalifah Umar bin Khattab pernah terjadi krisis yang luar biasa. Kelaparan di mana-mana bahkan binatang buas pun banyak yang mendekati manusia untuk mencari makan. Tapi, bagaimana sikap khalifah Umar bin Khattab? Beliau dengan sigap mengatasi krisis yang terjadi. Kebijakan-kebijakan yang dilakukan sang khalifah sangat luar biasa dan dengan tanggung jawab dan kegigihan beliau krisis pun bisa teratasi.

Kebijakan pertama, beliau menghimbau seluruh rakyatnya untuk tidak hidup mewah, bukan hanya rakyat yang melakukan intruksi tersebut tapi sang khalifah dan sanak saudaranya pun harus melakukan hal yang sama. Beliau tidak makan makanan mewah seperti daging dan semisalnya, bahkan makanan beliau lebih rendah dari orang yang miskin.

Kedua, beliau memerintahkan untuk membuat posko-posko bantuan para korban dan segera memberikan makanan dan kebutuhan yang dibutuhkan para korban krisis.

Ketiga, ketika dilanda ujian beliau tidak lupa untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah, beliau mengharap agar krisis ekonomi yang diderita umatnya segera lenyap. Beliau menyadari bahwa semua musibah yang menimpa adalah qadha Allah dan hal itu akan lebih mendekatkan diri kepada-Nya.

Keempat, beliau mendatangi rumah-rumah rakyat yang tidak mampu untuk datang meminta bantuan secara langsung kepada khalifah. Para relawan memberikan bantuan kepada mereka yang meminta bantuan dan mendatangi rumah-rumah mereka.

Kelima, beliau meminta bantuan ke wilayah-wilayah kekhilafahan yang tidak terdampak krisis untuk membantu para korban agar bisa memberikan bantuan

Keenam, beliau menghentikan sanksi untuk pencurian di wilayah krisis, karena masyarakat yang mencuri sudah dipastikan karena mereka mencuri untuk menyambung hidup dan untuk makan. Dan hal ini bukan berarti meniadakan uqubat yabg menjadi kewajiban ketika terjadi kemaksiatan.

Inilah konsep ketika negara Islam mendapati krisis ekonomi, sikap tegas dan penuh tanggung jawab menjadi acuan seorang pemimpin dengan sistem Islam sebagai pandangan hidup dan hal ini berbeda dengan sistem kapitalisme yang sejatinya sistem yang bobrok yang hanya mementingkan kepentingan para pemodal.

Wallahu a'lam bishshawab.
 
Top